Minggu, 28 April 2013

Suatu Hari

Suatu hari, pukul 3 sore.
Cihampelas Walk, Bandung.

Tara menghapus sisa-sisa airmatanya. Sebentar lagi Arga datang, tunangannya itu pasti khawatir kalau melihatnya dalam keadaan seperti ini. Arga tidak boleh melihatnya menangis, apalagi sampai mengetahui alasannya.

"Sayang, kok belum pesen apa-apa?" sapa Arga sambil mengecup kepala Tara, ritual yang selalu dilakukan tiap kali mereka bertemu. "Kamu sakit?"

Tara tersenyum palsu, "Aku udah kenyang. Kamu aja. Gimana kerjaannya?"

Arga membolak-balik buku menu, "Aku pesenin jus melon ya? Kerjaannya biasa aja, kangen kamunya yang nggak biasa."

Biasanya obrolan akan dilanjutkan dengan cibiran Tara atau mungkin cubitan yang mendarat di tangan Arga. Namun kali ini suasana tetap saja bisu, membuat Arga semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Tara.

"Sayang?" panggil Arga sembari menggenggam tangan Tara yang terkulai di atas meja. Pesanan makan siang yang memang sudah terlambat bisa dilakukannya nanti, melihat Tara yang tak ceria begini jauh lebih mengganggunya dibandingkan dengan jetlag hasil penerbangan Hongkong-Jakarta-Bandung.

Suara dalam kepala Tara bergumam pelan. 'Jangan tanyakan alasannya Ga, aku benci menangis untuk orang yang bahkan tak pantas untuk sekedar kupikirkan.'

Arga menyadari mata Tara yang mulai berkaca-kaca. "Nggak apa apa kalo nggak mau omongin sekarang. Mau aku anter pulang aja?"

"Maafin aku." ucap Tara kemudian dengan suara bergetar, merasa bersalah telah menggagalkan pertemuan pertama mereka setelah empat bulan karena lokasi kerja Arga dipindahkan ke Hongkong. Harusnya sore ini jadi perayaan untuk mereka karena mulai besok lokasi kerja Arga dipindah ke Bandung.

Senyum Arga terulas, genggamannya tetap erat di telapak tangan Tara. "Never mind. Your happiness matter, remember?"

...

Hari yang sama, pukul 10 pagi.
Apartemen di Bandung

Tara menggeliat malas, tangannya terulur ke meja kecil di samping kiri tempat tidur. Harusnya empat jam lalu alarmnya berbunyi. Pukul dua siang ini pesawat Arga mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Nama Arga yang terlintas sesaat membuat Tara melirik ke samping kanannya.

Reyhan.

"Kamu udah bangun Tar?" morning voice Reyhan terdengar. Bersamaan dengan itu Tara membulatkan tekadnya, semua harus diputuskan pagi ini juga. Semuanya harus jelas sebelum dia menemui Arga sore nanti.

Tara tak menjawab, "Kamu sayang aku, Rey?" tanyanya sambil membuka selimut yang menutupi mereka. Membiarkan hawa yang dihasilkan pendingin ruangan menyentuh kulit Reyhan, membuatnya lebih cepat tersadar.

Reyhan mengucek mata, "Taraaaa," katanya sambil menarik Tara kembali ke pelukan. "Kamu tau kan aku nggak pernah berhenti mikirin kamu Tar," Reyhan mengecup tengkuk Tara membelakanginya. Kali ini Tara tak merespon.

"Jadi, kamu sayang sama aku?" Tara kembali mengulang pertanyaan, tak cukup puas dengan jawaban Reyhan.

"Iya sayang. Aku sayang sama kamu," Reyhan melingkarkan tangannya di tubuh Tara.

Tara melepaskan tangan Reyhan, berbalik dan menatap Reyhan lekat-lekat. "Batalin pernikahan kamu. Aku kembaliin cincin pertunanganku sama Arga sore ini juga. Kita bisa mulai semuanya dari awal Rey, nggak kayak gini."

Reyhan tersenyum, menatap wajah Tara yang menunjukkan raut ketegasan. Tak sampai dua detik mendaratkan ciuman kecil, mengejutkan Tara. "Kamu cantik kalo lagi serius gini,"

"Aku mau kamu juga serius Rey," tatapan Tara berubah menjadi tatapan memohon. Sulit meyakinkan Reyhan bahwa uacapannya kali ini tak main-main. Sudah cukup dua bulan hubungannya dengan Reyhan yang dimulai tanpa status resmi. Sudah cukup rasa bersalahnya tiap kali Arga menghubungi dan memanggilnya dengan panggilan-panggilan mesra.

Suara panggilan masuk terdengar nyaring, merusak momen yang diciptakan Tara demi mendengar persetujuan dari Reyhan. Reyhan terduduk, mengambil ponsel yang ada di meja kecil sisi lain tempat tidur.

Wajah Reyhan berubah tegang saat melihat siapa yang menelponnya.
"Halo..."
"..iya aku lagi di kantor, semalem lembur sayang."
"Nggak, nggak sama siapa siapa..."
".."Abis ini aku langsung pulang kok."

Sudah.
Tara tak perlu menanyakan lagi perihal keputusan Reyhan, semua menjadi sangat jelas untuknya. Sangat jelas bahwa entah sudah berapa kali Reyhan membuatnya merasa seperti wanita paling bodoh di dunia.

...

Masih hari yang sama, pukul 4 sore.
Kompleks perumahan tempat tinggal Tara.

"Sayang.." panggil Arga saat Tara hendak keluar mobil.

Tara menoleh. Ia ingin lekas meninggalkan Arga sejauh-jauhnya, ia ingin meminum satu atau dua pil aspirin dan tertidur dengan harapan semua hal ini akan dilupakannya begitu ia terbangun. "Ya?"

Arga tersenyum, memandangi Tara selalu saja berhasil membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. "Aku sayang sama kamu. Kalo ada apa apa bilang ya, aku nggak mau kamu sendirian menghadapi semuanya. Ada aku Tar."

'Meskipun menghadapi pengkhianatanku Ga? Apa iya kamu mau mendengarkan semuanya?'

Tara benci berbohong tapi untuk sekarang hanya anggukan yang bisa membuat Arga berhenti mengkhawatirkan keadaannya.

"Tar.." suara Arga terdengar lagi. "Aku sayang kamu, Tara."

Create the 'WE'

"LOVE should create the 'WE' without destroying the 'ME'.." -John Gray

Gue ngefans sama John Gray gara-gara dosen yang jadi favorit gue ngefans sama beliau.
Semacam fans-ception ga sih?
Yaudah biarin aja lah ya asal dalam kebaikan. #apasih

Cinta seharusnya bisa menciptakan sebuah transformasi baru dari dua manusia tanpa menghancurkan 'aku' dan 'kamu' yang menjadi elemen pembentuknya.

Sabtu, 27 April 2013

Kamu salah kali ini

Januari 2012

"Butuh jaketku?" tanya Dimas sembari meletakkan jaketnya di atas pangkuanku.

Sama seperti sebelumnya, Dimas tak pernah memberikan kesempatan untukku menjawab pertanyaan-pertanyaan, 'Kamu mau es krim?' atau 'Pingin makan red velvet, nggak?'. Semua diberikan Dimas seolah bisa mendengar jawaban 'iya' yang belum kulontarkan.

Suasana dalam MRT malam ini harusnya tidak membuatku menggigil, blame it on this stupid fever! Mengisi liburan dengan backpacking keliling Singapura yang sudah kurencanakan dengan Dimas jadi semacam agenda 'merawat Fuyu yang sedang sakit'.

Aku memeluk jaket Dimas  Iya, memeluknya saja dan mendekatkan jaket dengan warna abu-abu itu ke hidung. Membiarkan indera olfaktoriku menikmati aroma musk bercampur dengan wangi maskulin yang jadi kesukaanku.

Dimas menoleh, "Kenapa? Jaketnya bau?" tanyanya sambil mengernyit heran.

Aku menggeleng. Peningnya kepalaku mengalahkan keinginan untuk menyanggah pertanyaan Dimas. MRT yang berjalan cepat ini rasanya berubah menjadi angkutan kota yang menunggu penumpang seperti yang biasa ada di jalan-jalan Kota Bandung. Lambat.

"Jaketnya dipake dong." tangan Dimas mengambil jaket yang kugenggam saja sejak tadi, lalu memakaikannya untuk menghangatkanku. "Udah agak anget kan?" katanya sambil tersenyum.

'Iya hangat, senyummu selalu membuatku hangat Dim.'

Kita, berjalan dari stasiun MRT di sepanjang Orchard St menuju penginapan yang kamu pilih. Penginapan yang menurutku sama sekali tidak merepresentasikan backpacking yang notabene harus dengan anggaran minim.

Aku masih ingat argumenmu saat itu, "Mana bisa aku biarin kamu tidur di sembarang tempat? Lagian hostel atau hotel cuma beda satu huruf. Toh kita bawa ransel, kan? Technically, itu masih backpacking."

"Aku sering heran deh sama kamu. Namamu Fuyu, artinya musim dingin. Tapi kamu sadar nggak? Kamu lumayan sering demam?" kamu angkat bicara, mencairkan suasana. Sekaligus membuyarkan lamunanku tentangmu.

Aku tertawa kecil, "Iya."
'Dan entah sudah berapa kali aku merepotkanmu.'

Tanganmu dengan kaku melingkar di bahuku. Suasana tiba-tiba menjadi kikuk, kamu yang tetap menatap lurus ke depan dan aku yang masih berusaha menstabilkan kembali pompaan jantung yang tak biasa.

"Jangan sakit-sakit dong. Aku kan belum lulus jadi dokter, belum bisa nulis resep buat kamu." Dimas bicara dengan nada pelan, "Yaaa, aku sih maunya kamu nggak sakit. Tapi kalo nanti sakit, periksanya ke aku ya?"

Aku mengangguk cepat.

...
Januari 2013

Selembar foto hasil cetakan photobox Changi Airport. Empat pose tak biasa yang jadi wujud protes Dimas waktu aku memaksanya untuk berpose sebentar.

"Di Jakarta kan juga bisa kalo cuma mau photobooth."

Tapi tetap saja, meskipun dengan wajah malas Dimas menuruti keinginanku. Sebagai gantinya, empat pose yang kubayar dengan dua belas dolar berisi ekspresi-ekspresi abnormal yang sampai sekarang kuanggap lucu.

Ekspresi Dimas yang tak akan bisa kulihat lagi secara langsung.

Indera visualku mulai melihat dengan kabur. Aku menangis tanpa suara.
Rasanya seperti baru kemarin.

"Aku terlalu sibuk buat kamu. Kamu pasti lebih bahagia tanpa aku kan?"

Kamu memang sering memberikan sesuatu tanpa lebih dulu menunggu jawabanku Dim,
tapi meninggalkanmu sama sekali bukan inginku.
Dimas, kamu salah kali ini.

...


Waktu orang lain bilang lo ngga bisa tapi lo YAKIN kalau lo bisa.
MAJU!

Rabu, 24 April 2013

Aku sembilan bulan dalam perutmu

Saat diri gue ditawari suatu hal yang menurut gue 'besar' dan menolaknya dengan alasan 'nggak merasa mampu'.

Gue bertanya-tanya ke beberapa orang.

...
Temen temen gue bilang, "Sayang banget, itu kesempatan bagus."
Selanjutnya gue tanya, "Menurut lo gue ambil aja? Masih bisa sih diminta lagi kalo gue mau."
Jawaban selanjutnya membuat ragu, "Yaaaaa... terserah lo sih. Gimana lo aja."

"Menurut lo gue bisa nggak?"
Sambil mengangkat bahu, sama nggak yakinnya dengan gue saat itu si teman menjawab, "Ngg.. Menurut lo, lo mampu nggak?"
*BUNTU*

...
Gue tanya ke partner, "Jangan, kamu udah cukup sibuk. Kuliahmu nanti gimana? Badanmu? Pola makan dan kesehatanmu? Aku khawatir."
Merasa diremehkan, gue menantang. "Tapi aku mau!"

"Ya terserah kamu. Apapun keputusannya aku dukung. Tapi kamu harus inget, kamu penting buatku. Jangan sampe sakit."
*BUNTU*

...
Mama.
Bukannya menomor-sekiankan pandangan Mam. Cuma untuk urusan yang remeh-temeh jika dibandingkan dengan urusan kerjaan beliau, gue sering merasa malu kalau harus merepotkan.

"Ambil! Kenapa harus ragu? Siapa bilang kamu nggak mampu?" jawab Mam tanpa menyebutkan kata 'terserah' sama sekali sepanjang percakapan.

"Nggak ada yang bilang kalau aku nggak mampu. Tapi apa iya aku mampu?" gue berargumen pelan, ragu seperti biasa.

Mam menjawab dengan jauh lebih yakin, "Kamu sembilan bulan dalam perutku, nduk. Kalau nggak sekuat aku, harus kamu pertanyakan lagi siapa Ibumu yang sebenarnya. AMBIL! Kamu bisa, aku yakin itu."

Pencapaian adalah tentang mendaki



Akhir-akhir ini gue sering sekali disapa dengan kalimat yang 'berbeda'.

"Kak, deadline pengumpulan liputan rubrik XXXX kapan ya?"
"Kak kapan radiv (rapat divisi.red)? Ada yang mau aku tanyain nih.."
"Kita radiv kapan? Tanggal sekian udah harus ngumpulin ini dan itu loh."
"Kalo radiv bilang ya, ada yang harus gue share.."
"Ajakin gue ya kalo radiv, gue mau ngomong sesuatu sekaligus memantau."
"Udah menentukan indikator keberhasilan program? Tanggal sekian udah rapat evaluasi."
"Tugas mata kuliah XXX dikumpulin ke lo kan?"
"Penelitian kedua kita kapan mau mulai disusun?"
"Tolong disebarkan ke staff nya perihal ini itu acara ya."
"Kapan bisa dateng ke acara ini."
"Bisa minta tolong tulisin review tentang bla bla bla nggak?"
....

Biasanya akan pulang ke kamar kosan, menyapa Fillo si kucing baru yang kerjanya makan-main-tidur sepanjang hari, trus duduk manis depan layar kirim surel (surat elektronik.red) ke orang-orang dengan kepentingan berbeda-beda. Lalu dilanjut baca materi kuliah kalau mata belum kehilangan energi untuk 'nyala'.
Fillo
 So far, gue menikmati proses tenggelam dalam kesibukan-kesibukan ini. Meskipun nggak bisa dipungkiri jadi banyak hal (menyenangkan) yang terlantarkan. Tapi pencapaian adalah tentang 'mendaki' kan? Dan yang gue tau, nggak ada mendaki yang mudah.
:)

Selasa, 23 April 2013

To hell with the rest of them


Kadang lo nggak punya alasan yang cukup kuat, cukup waras, atau cukup baik secara empirik untuk melakukan/menolak sesuatu. Ketiadaan alasan-alasan ini membuat orang yang nanya, "Kenapa?" jadi nggak puas dan menganggap lo "nggak jelas" atau malah "nggak waras".

Dan gue, termasuk yang cukup sering mendapatkan cap seperti itu dari siapapun.

Untuk beberapa hal yang benar-benar sangat ingin gue lakukan banget,
I AM GOING TO DO EXACTLY WHAT I LIKE!
:))

Cobain deh, serius nagih!
Kadang lo harus ijinkan diri lo menentukan apa yang ingin dilakukannya.
:)

Minggu, 21 April 2013

Darimu

Februari 2012

...
Balai Sarbini, Jakarta
Kamu disana, berdiri gagah dengan tuxedo abu-abu. Wangi parfummu entah kenapa sampai dan mulai menggelitik saraf sensori di hidungku, membuka lembar-lembar memori yang kukira sudah terhapus oleh kebencianku terhadapmu. Tunggu, mungkin ini bukan wangimu, mungkin ini hanya ilusi yang diciptakan pikiranku saja.

Taukah apa yang paling menyedihkan sayang?

Aku disini, tak sampai sepuluh meter darimu namun tetap saja tak bisa merengkuhmu seperti dulu. Aku disini, menggunakan gaun dengan bahu terbuka seperti yang kamu suka namun tetap saja kecupan-kecupanmu tak bisa lagi aku rasa. Aku setengah mati menahan kaki-kakiku yang seperti ingin berlari sekencangnya ke arahmu.  Aku seperti terikat oleh rantai baja yang tak tampak wujudnya. Ini betul-betul menyedihkan.

Semua orang tersenyum, semuanya. Pun aku.
Ini momen bahagia, seharusnya.

Lalu datanglah gadismu, dengan gaun merah marun dan rambut tergerai menutupi punggung. Gadis bodoh. Merah marun sama sekali bukan warna kesukaanmu, kamu suka biru kan? Seperti gaunku, seperti nuansa yang menyelimuti malam ini, seperti langit pagi katamu.

Kamu tersenyum saja, berbincang sebentar dengan si gadis merah marun. Tak ada rangkulan atau genggaman tangan yang biasa kamu lakukan terhadapku. Kamu masih mencintaiku, iya kan? Dulu kamu tak pernah membiarkan celah jariku kosong, kamu selalu mengisinya dengan milikmu.

Rasanya aku ingin menertawakan si gadis merah marun.
Hatimu masih milikku, iya kan sayang?

Lalu saatnya tiba.
Kamu berdiri di hadapanku, dengan senyum yang entah berapa lama tak pernah aku lihat lagi. "Selamat ya Ran.." ujarmu sambil menyalami aku, hangat, tak ingin kulepaskan.

Kamu bergeser selangkah, menyalami Dio yang sekarang resmi jadi imamku, calon anak-anakku kelak. "Jagain Rana ya, pasti langgeng deh kalian." katamu dengan nada suara yang tak lagi kukenali.

"Kalian juga langgeng ya," balasku sambil tersenyum, kamu pasti tau senyumku palsu. Aku menyalami si gadis merah marun yang bermimik bingung sekarang.

Tawamu renyah mengisi rongga telingaku, "Ini sepupuku."

...
Harris Resort Kuta, Bali
Tangan Dio masih melingkar di pinggangku. Pelukannya makin erat saat aku menggeliat hendak meregangkan badan seperti yang kulakukan tiap pagi usai bagun tidur.

"Pagi sayang.." ujar Dio yang merasa bahwa partner tidurnya sudah terjaga, kecupannya mendarat di tengkuk leherku.

Lampu kecil ponselku berkedip merah. Pasti ada pesan yang belum kubaca. Dengan malas kugerakkan badan menuju ke meja kecil sebelah tempat tidur.

Darimu.

"Dia sepupuku. Kamu tau aku masih belum bisa melupakanmu, Rana.
Semoga berbahagia."

...

..is now engaged (in facebook)

Sesuai dengan pendekatan biopsikologi, pada masa remaja bagian otak yang berkembang lebih dulu adalah amygdala yakni bagian yang mengatur perasaan. Bagian lain seperti frontal cortex yang mengatur penalaran/reasoning berkembang lebih lambat.

Maka dari itu banyak remaja melakukan hal-hal yang dinilai oleh orang lain sebagai tindakan bodoh seperti kebut-kebutan, tawuran, sampai hubungan seks pra nikah. Sebenarnya mereka menyukai sensasi-sensai yang mereka rasakan, misalnya tegang/menantang (saat kebut-kebutan di jalan raya/tawuran) atau nyaman (saat berhubungan seks).
Ini gue masa remaja :'D
Beberapa hari lalu waktu gue lagi di kamar Uti dan melihat halaman awal facebooknya, gue liat ada notifikasi pertunangan temennya Uti. Gue spontan bilang, "Temen lo ada yang tunangan? Kok nggak kasi selamat?". Uti jawab, "Ah itu paling ecek-eceknya (pura-pura) aja."

Gue jadi pingin ketawa sendiri, inget dulu jaman SMA ganti-ganti status hubungan di facebook mulai dari single, engaged, married, trus single lagi. Alay emang, iya banget. Hahaha..
ini juga masi remaja :')
Bukan, fokus post-nya bukan di ke-alay-an gue.
Dulu pas SMA, mikir buat lulus-kuliah-kerja-menikah kayaknya gampang banget.
Sekarang mikir buat survive di semester ini dan melanjutkan semester depan rasanyaaaa .... (isi sendiri wahai mahasiswa)

Selain mengambil keputusan dalam bidang akademik,
keputusan dalam level-up sebuah hubungan juga menjadi kesulitan tersendiri.

Mungkin karena frontal cortex dan sudah berfungsi optimal maka kenyamanan dalam berelasi kemudian dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan seperti, "Apakah ini merupakan hubungan yang sehat?", "Bagaimana dengan respon keluarga saya terhadap pasangan begitupun sebaliknya?".

Tidak berhenti disitu, keputusan untuk level-up ke jenjang pertunangan atau bahkan pernikahan tentunya akan diiringi dengan pertanyaan bagaimana memenuhi kebutuhan, membayar anggaran, dan menyiapkan tabungan.
Karena pernikahan tentunya tidak berhenti di pergantian status facebook saja, bukan?

Sabtu, 20 April 2013

Untuk segala rencana menghabiskan hari yang gagal total,
untuk macet yang memisahkan gue dengan orang-orang kesayangan,
untuk segala kesal hari ini..

Terimakasih, semesta..
:)

far and crave


"Laki-laki cenderung memilih perempuan yang dicintainya, sedangkan perempuan cenderung memilih laki-laki yang mencintainya." -BR, 22 tahun.

Selasa, 16 April 2013

Little things


H: "My mood is getting better when I'm talking with you."
M: "Why so?"
H: "And my mood is getting worse when there's no text from you."
M: *blushing* "Such a flatterer, we're grown up dear.. You act like a high school boy.."
H: "I don't care."
M: "You make me laugh you know.."
H: "Your smile matter, your happiness matter. Remember?"

"It's the little things they do that makes you fall a little harder.."

Senin, 15 April 2013

Sayap burung hantu

"Coba banyak hal, bentangkan sayapmu selebar-lebarnya, lihat apapun yang kamu mau, lakukan apapun yang hatimu inginkan. Jangan biarkan orang lain membatasi gerakmu, nak."

Seorang yang sangat gue kagumi pernah mengatakan hal tersebut. 
Dan semester ini mungkin titik balik dari dua puluh tahun hidup gue dalam mendobrak 'batasan-batasan' yang dulu pernah gue anggep ada.

Dimulai dari mengerjakan karya tulis ilmiah bersama dengan Uti, Agus, dan Yudith. You guys rock! Duduk di perpus berjam-jam, cari secuplik informasi dari buku yang tebelnya amit-amit, pergi ke Bandung untuk konsultasi dengan dosen, kerja lebih dari enam jam non stop untuk nyusun kata-kata dalam makalah. Such a great time and I miss 'em..

Mengerjakan tugas penelitian salah satu mata kuliah dengan anggota kelompok yang mayoritas baru. Menyusun ritme kerja, memahami karakter, dan akhirnya berhasil menyelesaikan tugas yang nggak bisa dibilang gampang.

Lalu mengiyakan tawaran menjadi koordinator divisi reportase majalah kampus. Menumpahkan ide dan passion yang sebelumnya berantakan kemana-mana, ngakunya bisa nulis tapi tulisan nggak pernah ada yang selesai, ngakunya bisa nulis tapi isi blog lebih banyak sampah dibandingkan manfaatnya, ngakunya bisa nulis tapi nggak berani ikut lomba!!

Petualangan mencari kru untuk bekerjasama dalam mengerjakan majalah jadi cerita tersendiri. Menyiapkan kriteria, promosi, menyeleksi karya, terakhir wawancara calon kru.
Di tengah jalan dalam menyeleksi karya-karya yang masuk gue sempat diliputi perasaan, "Ini orang level nulisnya jauh lebih jago dari gue, apa dituker aja gue yang jadi staff dia yang jadi koor?"
-_____________-"

Bergabung dengan salah satu proker (program kerja) BEM Fakultas yang menfasilitasi peserta lomba, di-supervisi oleh orang yang sebelumnya nggak pernah jadi pilihan gue dalam bekerja sama dan menemukan pandangan lain soal orang tersebut.

Dan yah,
nampaknya gue memang harus menyesuaikan diri dengan deadline dan tekanan yang datangnya dari segala arah ini.
:)

Bismillah..

Minggu, 14 April 2013

Juaraku

Tentang genggamanmu yang tak pernah kamu ijinkan untuk melepaskan aku. Selalu mengisi celah antar jemariku kapanpun semesta memberikan kesempatannya, meski sebentar.

Tentang ujung jari-jari kita yang saling menyentuh di atas meja, sambil ocehanku mengalir dan telingamu sedia mendengarkan.

Tentang degup jantungmu yang mampu kudengar, kecupan nyaris tak berbunyi di atas kepalaku yang kamu lakukan sembunyi-sembunyi.

Tentang caramu menatapku meski wajahku polos tanpa riasan, tentang caramu meyakinkanku bahwa ketulusanmu nyata adanya.

Tentangmu, juaraku.

"Mau minta kado apa?"

H-1 Responsi Ekslan

Mam kirim whatsapp:
"Mbak kan lusa ultah, mau minta kado apa?"

Pertanyaan yang selalu aja muncul dan nggak tau musti dijawab apa.
Masalahnya, gue tipe orang yang biasanya udah nge-list dari jauh hari hal-hal yang gue inginkan secara gratis misalnya, "Ah pingin headset baru." atau "Pingin stiletto warna oranye yang 12 senti." atau "Kok iPhone yang baru lucu banget ya?"

Tapi pas pertanyaan "Mau minta kado apa?" muncul, list yang gue bikin setahun rasanya udah raib nggak tau kemana. Biasanya cuma jawab sambil cengengesan, "Hehehe.. Nggak tau."

Kemarin, di tengah ketakutan responsi, tugas yang nggak habis-habis, sakit punggung karena kelamaan duduk, dan kangen yang derajatnya sudah tak bisa lagi dibendung...
"Aku mau waktu bareng sama keluarga, kalo emang bisa dikadoin (dikasi kado) itu.."

Bukannya sok sentimentil,
tapi sudah dari awal semester ini gue nggak pulang ke rumah.
Ditambah lagi kenyataan bahwa Mam dan Pap sibuknya sering ngalahin artis sinetron stripping, gue rasa permintaan gue kali ini sulit dikabulkan.

Lalu datanglah Sabtu.

Meskipun Mam harus ngejar flight tengah malam dari Juanda demi sampai rumah tepat waktu dan bisa pergi ke Bandung esok harinya, meskipun Pap harus juga pulang di hari yang sama dari Palembang dan menyetir sepanjang Cipularang.
I know, it must be tiring for you both..
Mereka datang, lengkap dengan peluk dan tawa yang tak henti-henti.

Gue yakin Sabtu-Minggu kemarinlebih mahal dari iPhone 5S yang bakal rilis tahun ini.
#Literally #Oops
:))

Thanks for the wishes

12 April 2013

Bangun pagi dengan syukur bahwa semesta masih mengijinkan gue untuk buka-mata, tarik-buang nafas, senyum-nangis.
Bersyukur bahwa gue masih punya orang-orang yang pelukannya membuat gue jauh lebih kuat untuk mencapai apapun yang gue inginkan.
Bersyukur bahwa cinta dan ketulusan bukan konsep yang abstrak untuk gue pahami dan rasakan.

Terimakasih untuk Pap yang pertamakali kasi selamat, udah nelpon juga tapi aku udah tidur :')

Terimakasih untuk Mam yang rela mendengarkan curhat via apapun
dalam meeting apapun dalam dinas apapun di hari apapun kapanpun :)

Terimakasih juga @FikarFakhri yang selalu aja nraktir tiap kali menang tender bisnis :*

Dari Abang yang jauh di Bukitinggi

I miss you moreeeeee~

Kamu, yang selalu mendukung aku
dalam setiap kesibukan yang membuat pertemuan-pertemuan kita kalah prioritasnya,
satu-satunya doa supaya 'makin profesional'. Terimakasih :)

Kamu lagi,
yang selalu meyakinkan bahwa cantik tidak bergantung pada bedak, eyeliner, dan lipstick

Terimakasih untuk segala doa baik yang diberikan, Adit :)


Terimakasih juga ya Agung.. :)

Kak Taro, yang selalu aja mention kata 'nikah' dalam banyak situasi..
Hahaha, terimakasih :)

Spesial untuk Uti, Tata, Lidya yang malem-malem dateng dan ngasi kado weker
yang jarum detiknya nggak bunyi 'tik tok tik tok' karena gue nggak suka suara jam.. :****
Terimakasih juga untuk semua, atas doa, harapan, dan peluk-cium virtual yang hangatnya sampai ke hati..
:)

<3

Kamis, 11 April 2013

Bentuk-bentuk cewek

Kebanyakan cewek punya 'bentuk' yang berbeda, bentuk-bentuk ini menyesuaikan dengan konteks lingkungan dan orang yang akan ditemui.

Iya, nggak semua cewek dandan kalo ketemu pacar..
(semacem udah tau bakal ada yang denial dengan kalimat, "Ah gue biasa aja kok kalo ketemu pacar gue..")

Tapi coba deh diinget-inget.. 
Seenggaknya intensitas senyum lo bertambah, jarak antara ujung bibir lo melebar, dan mata lo jadi manis manja gitu ngga sih?
(Kenapa? Ada yang enggak gitu juga? Oke, lo pacaran apa bimbingan skripsi sama partner lo?)

Meskipun kita bisa jadi cantik/manismanja/rapi pas ketemu pacar, tetep aja kita mendambakan cowok yang tetep mau peluk atau bilang bahwa mereka sayang sama kita pas malesmandi/asal-asalan/rambutdicepol di rumah, ya kaaaan?

Mari Amin-kan untuk kehadiran seseorang yang ciri-cirinya disebutkan di atas,
Amiiiiiiiiiiiiiiiiiin~

Happy Bday Lil Brother

I MISS THOSE HUGS!!
X')

Tulisan itu bakal kekal

Seorang teman pagi ini mengingatkan:
"Hati-hati aja. Tulisan itu bakal kekal. Bisa jadi hal yang bikin kamu susah lupa. Itu menurutku ya.."

Lalu gue mulai mengevaluasi post gue dari jaman dulu kala,

Mulai dari foto-foto yang nggak terhitung banyaknya dan mungkin pasti nggak membawa manfaat ke siapapun yang membaca,
trus berganti jadi bahan kuliah yang sudah terabstraksi dan diubah jadi bahasa seadanya sesuai dengan tingkat kognisi gue yang emang ngga tinggi-tinggi amat,
sampai cerita-cerita manis dengan orang-orang berbeda (keluarga, temen, gebetan, partner, ex-partner).

Tulisan memang akan kekal, 
dan mungkin memang seberapapun pahit dan ngeselinnya..

Gue emang nggak mau melupakan semuanya.

Rabu, 10 April 2013

Sekeping ekslan (1)

Hari ini gue baru saja menyelesaikan responsi (presentasi pertanggung jawaban penelitian) mata kuliah Ekslan (Psikologi Eksperimen Lanjutan)  yang merupakan bungee jumping nya semester ini!
:))

Di mata kuliah Ekslan mahasiswa dilatih untuk melakukan penelitian dengan prosedur yang benar, mulai dari peka terhadap fenomena, mencari teori, menyiapkan (atau bahkan membuat) alat ukur, serta sampai ke pengukuran menggunakan prosedur statistik yang benar.

Apa? Gampang?

Well, kalo menurut lo mendefinisikan konsep yang nggak bisa dipegang (stress, emosi, depresi, memory) itu gampang. Berarti ekslan gampang.

Kalo menurut lo menciptakan situasi yang bisa mengontrol bagian tak terlihat dari manusia supaya penelitian lo terbebas dari extranous variable itu gampang. Berarti ekslan gampang.

Dan kalo menurut lo menganalisa data dengan menggunakan pembahasan dari buku-buku yang tebelnya bisa buat self-defense dari copet Mangga Dua itu gampang. Berarti ekslan gampang.

Gue bersyukur semuanya sudah selesai, meskipun tengah semester ke depan ada penelitian kedua dengan jumlah anggota yang lebih sedikit demi menambah sensasi adrenalin!

Dan untuk penelitian pertama yang sudah selesai meskipun masih buanyak bagian laporan akhir yang harus diperbaiki, gue secara pribadi mengucapkan terimakasih kepada:


Lastri Yeni Indra
Lastri-Untuk kesabarannya menghadapi hiruk pikuk dan riweuh gue saat mengawali penelitian ini, teman kelompok ekslan yang pertama kali lekat di hati dan pemikiran-pemikirannya di saat tak terduga.
:')
Muhammad Biyan Raka
Biyan-Untuk insightnya tentang (berbicara bergantian dalam forum) dan kesediaannya ngeprint atau nyari partisipan sambil bawa bawa kertas yang ditulisin nama partisipannya, juga untuk penghitungan statistik yang cetarr membahanaaa. 
X')

Hilda Fauziah Adha
Hilda-Penyusun laporan yang susunannya secantik mukanya #serius, orang yang selalu bisa diandalkan untuk berdiri cantik di depan kelas jadi instruktur. *Buat yang nanya, Hilda ngga jomblo! (kalo dia aja jomblo gue jadi apa dong?)
:____)

Julia Puspawati
Julia-Anggota kelompok yang menyanggupi ngerjain bab tinjauan pustaka sendirian bray! Terimakasih untuk pengerjaan tugas yang selalu over expectatation dan bikin gue ga paham lagi gimana caranya lo baca bahan sebanyak itu..
:)

Terimakasih.

Iya, gue emang menye!
Bodo amat, gue bersyukur sama kelompok ekslan ini!
Semoga sukses di kelompok ekslan yang baruuuuuuu..
*cheers*

Bagian

Untuk tepatnya kebetulan-kebetulan (atau tebakan) yang kamu sebut hasil dari intuisimu,
aku sempat menanyakan kenapa, dan senyumku terulas sempurna saat mendengar jawabannya.

"Mungkin kamu memang bagian dariku.."

Sudahlah.
Terserahmu saja, sayang.
:)

Minggu, 07 April 2013

King size

Him: "I can't wait for my bed to be our bed."
Me : "It wouldn't be. We need a big one. King size one."
Him: "..."

:p

I'm not sharing

Him: "Describe yourself in one word."
Me : "Hmm.. Weird?"
Him: "Mine."
:">

Sabtu, 06 April 2013

thought


Seorang teman pernah menanyakan perihal makna cinta dan alasan mencintai di status facebook-nya, ini balasan saya:

Kenapa aku cinta kamu?

Mungkin karena tiap kali kamu datang, ada rindu yang menyelinap keluar bersamaan dengan hembus nafasku.
Mungkin karena saat aku merasa tak punya siapapun yang menopang, kamu selalu bersedia untuk ada dan tak beranjak meski sedepa.

Cinta itu apa?

Cinta adalah keputusan yang kuambil untuk menyakiti diriku sendiri tanpa melakukan proses kognisi apapun, saat mengetahui bahwa kemungkinan lainnya adalah menyakitimu.

My Sassy Girl movie quote

best quote!

Charlie Bellow: "On the reasons to stop seeing her side we have: One, on going physical danger. Two, high likely-hood of a broken heart. Three, uh career sabotage. Four, she is clinically insane. Five, she seems to enjoy my pain. Six, fourteen piece matched set of Louis Vuitton emotional baggage. Seven, I haven't even kissed her yet, for God's sakes. Uh eight, she's ruining my life."

Leo: "And the reasons to keep seeing her?"

Charlie Bellow: "I'm in love with her."

Reason(s)


I met you for a reason.
No, but many reasons!

Maybe HE wants me to be happy and smiling more than crying till fall asleep.

Maybe HE wants to show me that I don't need to put any make up on just for being pretty for someone I love.

Maybe HE wants to tell me that a guy who makes me his priority between many scheds does really exist.

Maybe HE wants me to be calm if I have pimple(s) on my face because you never complain about it.

Maybe HE wants me to take a rest because whenever you're around I feel so sleepy.

Maybe HE wants me to cross the street safely because you always hold my hand whenever it's possible.

Maybe HE wants me to get no more nightmare because you never let my hand go even while I'm sleeping.

Maybe HE wants me to thank HIM oftenly because you really make me grateful for being yours.

He's not perfect


Him: "Spill it out, dear. I am all ear.."
Me  : "...."

Antara seleksi dan resepsi

Pagi ini disponsori oleh niat beresin kamar yang berantakannya udah ngalahin hati yang ditikung berkali-kali.. #eaaak

Lalu whatsapp-an sama Mama yang sedang berada di Solo menjalankan tugas negara apapun itu namanya.

Mam: "Dis (gadis.red), kamu udah bangun?"
Me  : "Baru bangun Mam, lagi di rumah?"
Mam: "Siang ini baru nyampe rumah, ini rasanya udah pingin miber (terbang.red) ke rumah saking kangennya sama Papa sama Adik-adikmu."
Me  : "Oh.. Safe flight then.."
Mam: "Hari ini mau ngapain?"
Me  : "Beresin kamar sama nugas aja. Mam Mei nanti temen aku nikah lho."
Mam: "Oh ya?"
Me  : "Iya, aku masi sibuk seleksi dia udah resepsi aja ya Mam.." *ketawa miris*
Mam: "Hahahahahaha.."
*lalu kuliah tentang jodoh, kualitas diri, pendidikan, dan kuliah dimulai*

Jumat, 05 April 2013

Equity dalam hubungan romantis

"Gue punya pacar, sibuuuuuuuk banget! Bangetnya pake kuadrat! Tiap mau diajak jalan, ada urusan di kampus. Di-sms balesnya lama, ada inilah itulah.. Kadang gue ngerasa capek harus ngertiin dia terus. Sedangkan dia nggak pernah ngertiin gue..." 

Pernah denger curhatan temen lo yang begini nggak? Atau bahkan pernah merasakannya sendiri? #eh #plak

Dalam hubungan yang sifatnya dekat dan intim (dalam kasus ini hubungan romantis antar pasangan) diperlukan satu unsur yang penting untuk dapat berjalan dengan baik.
Unsur tersebut adalah EQUITY.

Apa sih equity?

What you and your partner get out of a relationship should be proportional to what you each put into it. … If both feel their outcomes correspond to the assets and efforts each contributes, then both perveive equity (Harfield, Walster & Berscheid, 1978).

Secara singkat, equity adalah keseimbangan antara apa yang diberikan dengan apa yang diterima dalam suatu hubungan.

Buat yang mikir:
Katanya cinta? Kok perhitungan sih?

Jangan salah, justru karena kita mencintai seseorang makanya hal ini menjadi penting. Coba posisikan diri sebagai orang yang merenungkan, "Apa yang gue kasi ke dia udah seimbang belum ya dengan yang di korbankan buat gue? Pas dia bete, apa gue udah bisa sesabar dia pas ngadepin gue?"

Ketiadaan equity bisa membuat pihak yang merasa 'berkorban banyak' jenuh dan merasa tidak dicintai lagi. Logikanya gampang, kalau lo terus-menerus mendedikasikan waktu dan hati lo untuk seseorang yang menurut lo nggak berjuang dengan usaha sebesar yang lo lakukan, bete ngga?

Gue sih bete, bete banget.
Relationship is built by two, bro!

Jangan terus-terusan merasionalisasi dengan kalimat, "Dia sebenernya sayang kok sama gue, dia cuma sibuk sama urusannya, dia pasti juga udah berusaha buat gue.."
blah blah blah..

Coba buka mata, minta hati diam sebentar,
tanya ke isi kepala..

Will it be worth?

"Sayang, aku nambah ya?"

Resto di Bandung.

Me  : *proses mengunyah sambil lirik buku menu* "Mam kalo abis yang ini aku tambah lagi ya?"
Mam: *mengangguk dan tetap cantik seperti biasa* "Iya boleh, pesen aja sekarang biar ntar ngga nunggu lagi.."
Pap : *ketawa liat anak gadis makannya kayak babon* "Kalo sama pacar kamu makannya banyak gini juga?"
Me  : ".........."
Pap: "Hahahaha.." *ketawa karena anak gadisnya babon beneran*
Me : "Mungkin nanti kalo udah berani minta nambah ke orang yang statusnya pacar, mau langsung level up aja Pap.."
Pap: ".........."

:'))
I love Pap's expression every time I talk about being married.. 

Maybe, absolutely.

"Maybe you found me annoying. Crying in sad times, crying when I feel so dumb and disappointed, crying whenever I miss you loads. Maybe you found me silly. Laughing in my own stupidity, laughing when I slip or forget many things. But you will never find a girl like me. You will never find a girl who smiles in your hard times, hug you no matter how sweaty your jersey is, lay on your chest and forgive all you did to her before. Maybe you found me annoying and silly. But you will never find a girl who loves me like I do. ABSOLUTELY."

Count yourself

Every girl deserves this!

Dua Tahun Arga

Kedai Dunkin Donuts.
Pasir Kaliki, Bandung.

Rana menghela nafas panjang, "Dua tahun itu lama, Ga.." katanya tak berani menatap mata Arga. 'Dua tahun. Jarak antara Bandung-Tokyo tak bisa ditempuh dengan empat jam perjalanan seperti ke Jakarta.'

"Aku tau itu, Ran."
Sekarang giliran Arga menatap lekat ke mata gadisnya yang gelisah, "Tapi ini mimpiku."

'Tapi ini juga hidupku Ga.'

Rintik hujan mulai berlomba menurupi dinding kaca yang menjadi pembatas antara kedai donat yang menjadi tempat pertemuan mereka. Tiba-tiba saja baik Rana maupun Arga menjadi hilang selera, coklat panas secangkir penuh yang mereka pesan sama sekali tak terjamah.

"Aku mau kita putus."
"Aku mau kita tunangan."
Dua kalimat, saling berkontradiksi satu dengan lainnya.
Namun sayangnya terucap bersamaan.

Rana menatap nanar ke Arga yang sekarang menyiratkan ketidakpercayaan. Sakit yang dipancarkan Arga melalui dua bola matanya entah kenapa bisa dirasakan Rana dengan sensasi berlipat ganda.

"Putus?" tanya Arga, memastikan indera pendengarannya masih berfungsi sempurna.

Rana meremas tangannya sendiri di atas meja. "Aku ngga yakin bisa."
Berikutnya tangan Arga menggenggam tangan Rana, erat dan hangat.

"Kita pasti bisa Ran. Aku nggak bisa tanpa kamu." suara Arga terdengar pelan meskipun tetap dengan intonasi tegas dan penuh keyakinan.

...

Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Jakarta.

Arga memandangi pelataran bandara, tiga menit lagi dia harus segera boarding dan yang diharapkannya belum juga datang.
'Rana, apa jadinya dua tahunku tanpa senyummu?'

Arga menyeret kopernya dengan langkah gontai, mungkin memang mimpi-mimpi tak bisa didapatkannya bersamaan.

...


“In every end, there is also a beginning.”― Libba Bray, A Great and Terrible Beauty

Kamis, 04 April 2013

During me

"I don't care who was before me, 
as long as I know there's nobody during me.."

"Oh dia mantan kamu?"
Cuma itu kalimat yang biasanya gue ucapkan kalau nggak sengaja ketemu atau denger cerita tentang seseorang yang ternyata mantannya partner gue.
Gue nggak pernah sih merasa insecure sama mantannya partner.

Definisi mantan kan: orang yang pernah jadi pacar di masa lalu.

Dan dia udah memilih orang lain buat masa sekarang dan (semoga) masa depannya.
Jadi, kenapa ribet?

 

Template by Best Web Hosting