Minggu, 31 Maret 2013

Kelima

Rea memandangi rintik hujan yang menghantam kaca depan mobil beramaian. Nafasnya berat, rasanya ingin segera pulang dan tidur.

Baru beberapa menit lalu...

...

"Re.." Bagas memanggil Rea sambil tetap mengemudikan mobil melalui jalan Riau yang penuh dengan mobil plat B. Instrumen klasik yang menjadi kesukaan Bagas mengalun sayup, mengiringi jalan mobil yang lambat.

Rea menoleh, "Ya, sayang?" senyumnya melengkung sempurna.

"Nikah sama aku, ya?" tanya Bagas yang langsung menangkap ekspresi terkejut di muka gadisnya. 

Suasana mobil diselimuti sunyi. Tak ada satupun dari mereka yang berani bicara.

...

Tiba-tiba suara Mama memenuhi ruang dalam kepala Rea. Mama dibesarkan dalam keluarga dengan kultur Jawa yang kental, sampai detik ini masih memegang banyak nilai yang memang diwariskan secara turun temurun dalam keluarga besar.

'Re, kamu belajar masak yang bener gitu lho nduk (nduk: panggilan anak perempuan dalam bahasa Jawa), nanti gimana suamimu?'

'Re, bersihin kamarnya. Nanti kamu nggak tinggal sama Mama lagi, harus bisa bersihin rumahmu sendiri.'

'Re, ojo grusa-grusu (jangan ceroboh.red). Sing kemayu (yang anggun.red).'

...

Suara Mama lantas berganti dengan memori-memori yang dikumpulkannya bersama Bagas 3 tahun ini. Suara Bagas yang renyah dan menyenangkan mulai berputar ulang dalam benak Rea.

'Ibu itu pinter banget masak. Tiap kali pulang yang paling aku kangenin ya masakannya Ibu.'

'Kadang aku sering inget Ibu yang marah-marah tiap kali kamarku berantakan. Padahal sambil ngomel ya Ibu juga yang beresin.'

'Re, nanti kalau kamu masak aku pasti jadi orang yang rela nggak makan seharian buat makan masakanmu.'

...

Mobil menepi ke salah satu resto cepat saji di jalan Braga. Sudah waktunya makan malam, Bagas bahkan tak bertanya hendak kemana mereka akan berhenti untuk makan. Rea yang sedang berpikir tak bisa diganggu, Bagas sangat tau itu.

Bagas membuka pembicaraan, lama-lama dia terganggu dengan raut Rea yang sekarang tak terbaca. "Tiga tahun bukan waktu yang sebentar Re, aku merasa udah cukup dan udah siap menghabiskan waktuku sama kamu. Lagipula, ini bukan pertama kalinya aku minta kamu nikah sama aku, kan?"

"Aku tau." balas Rea meremas tangannya sendiri di atas meja.

"Masterku udah beres, aku juga sudah merasa bisa menghidupi kamu dengan layak. Aku udah bisa jamin kehidupan kita, sayang." kini Bagas memberanikan diri mengelus punggung tangan Rea yang dingin. "Kamu nggak perlu khawatir."

Rea menjauhkan tangannya, menghindari Bagas. "Aku takut." suaranya bergetar. Bagas menghela nafas, dia benci harus jadi alasan Rea menangis.

"Ada aku, sayang. Semuanya udah aku siapin mulai dari tahun pertama aku sama kamu. Semuanya. Kamu nggak perlu mikir apa-apa lagi. Aku cuma butuh jawaban 'iya' dari kamu, Rea.."

'Ah Rea, apa lagi yang kamu takutkan? Tak pernah aku merasa seyakin ini sebelumnya Re. Aku ingin kamu bukan hanya jadi gadisku, aku mau kamu jadi wanitaku, ibu dari anak-anakku..'

"Aku takut nggak bisa jadi perempuan yang masakannya bikin kamu kangen untuk dicicipi sepulang kerja, aku takut nggak bisa ngurus rumahmu sama seperti Ibu ngurus kamarmu, aku takut nggak bisa jadi perempuan yang cukup baik untuk kamu.. Aku takut.." Rea tiba-tiba angkat bicara, tangisnya pecah dan cukup keras untuk membuat tamu-tamu lain menoleh.

Bagas tersenyum, "Re.. aku tau gimana Mama mendidik kamu. Aku tau bagaimana beliau menurunkan nilai-nilai yang dipegangnya ke kamu. Dan setelah banyak pembicaraan yang kulakukan sama Mama, aku makin yakin bahwa nantinya anak-anakku akan punya ibu yang hebat Re. Kamu."

"Tapi aku..." Rea terhenyak, bahkan Mama menyelamatkannya di saat-saat seperti ini. Setelah hampir pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi antar dia dan Mama. Bahkan Mama yang menjadi salah satu alasan Bagas untuk memilihnya. 

"Seorang Ibu yang hebat akan melahirkan anak-anak yang hebat Re. Aku percaya itu. Karena itu aku menginginkanmu. Azurea, untuk kelima kali dan aku harap yang terakhir aku minta.. Nikah sama aku ya Re?" Bagas melirik Rea yang matanya berkaca-kaca, entah harus bagaimana lagi kalau Rea tetap tidak menerima lamarannya kali ini.

Sementara Rea terisak, tangisnya tumpah. Seperti ada ledakan bahagia yang tak bisa dilukiskannya. Tawa dan tangis yang tak berhenti membuat Bagas ingin mendekap gadisnya lekat-lekat tanpa sedikitpun celah.

Satu anggukan singkat dan sebuah pelukan hangat menjadi jawaban dari pertanyaan Bagas.
Bagas membayar lunas semua keraguannya, berkat Mama.

Sabtu, 30 Maret 2013

Gender equality

Gender equality in relationship?
Kesamaan gender dalam hubungan?

Sebelum scrolling ke bawah pasti udah ada yang mikir,
"Wah feminis deh ini pasti.."

*ketawa dulu*
Yang sudah antipati dan anggep ini tulisan feminis, monggo klik tanda X di kanan atas.
Yang mau lihat dulu, yuk mari baca..
:)

Gue bukan feminis.
Buka tutup botol air mineral aja sering minta tolong, gimana mau jadi feminis coba.
Biarkan gue bicara dari sudut pandang gue, ya?

Dalam relationship yang pernah gue jalani,
Alhamdulillah gue merasakan kesetaraan..
Kesetaraan dan BUKAN kesamaan.

Maksudnya kesetaraan ya, 'Pas aku nggak kuat bawa sesuatu. Karena kamu lebih kuat, kamu bantuin ya..' dan 'Pas kamu males melakukan sesuatu yang memang butuh sense perempuan, biarin aku aja ya yang kerjain?'

Tapi soal diskusi/berargumen/debat jangan ditanya.

Gue maupun partner sama-sama semangat agresi militer ke-II (?)  buat mempertahankan pemikiran masing-masing (dengan fakta tapinya).
Jadi argumen seperti, "Pokoknya aku maunya gini." dianggap nggak valid dan nggak bisa dimasukkan dalam per-diskusi-an.

Simpel.

Makanya tiap kali gue susah buka tutup botol air mineral atau susah pasang klip helm,
"Sayang, tolongin aku dong.."
:">

Dan mungkin ('mungkin' soalnya emang belum pernah terjadi),
suatu hari nanti pas dia ribet beresin buku-bukunya yang numpuk setinggi gunung geulis di kamar. Gue nggak akan menolak kalo dia bilang, "Sayang ini gimana ya caranya biar lebih rapi dikit?"

Drama Tisya


Aku menyerahkan selembar uang ke petugas kasir, seperti ada suatu yang kalah dalam diriku.

‘Ah, akhirnya keinginanmu terpenuhi kan Sya? Sekarang aku mengaku kalah.’
Langkah yang kuambil terasa makin berat saat hendak memasuki ruangan teater. Aku melakukannya karena aku rindu kamu Sya.

Tisya, aku mau kamu sekarang. Disini.

...

Starbucks Coffee, Senayan City.

“Sayaaaaaaang..”

Tisya datang sambil memelukku dari belakang, hal yang biasa dilakukannya saat pertama kali melihatku. Wangi tubuh dan rambutnya menggelitik saraf sensori yang langsung membuat penatku hilang seketika.

“Kamu kok lama banget?” tanyaku sambil tetap memandang layar laptop, ada hal penting yang harus kuselesaikan siang ini juga. Mr.Andrew meminta laporan hasil penjualan dikirimkan pukul tiga tepat, tak boleh lebih barang sedetikpun.

Tisya menyeruput kopi yang ada di atas meja, wajahnya berubah lucu. “Ih pahit, kamu lagi kenapa sih yang? Banyak kerjaan ya?”

Aku tertawa kecil. Tisya tau derajat pahit kopiku berbanding lurus dengan banyaknya pekerjaan yang harus aku selesaikan atau kadang permasalahan yang berkutat dalam tempurung kepalaku. “Macet ya?” tanyaku lebih lanjut.

Tisya mengangguk, “Iya, banget! Kuliahmu gimana?”

“Thesisku sebentar lagi kelar, kamu bisa dateng pas aku wisuda?”

Sekarang wajah gadis kecintaanku berubah, matanya melirik ke atas—seperti yang dilakukannya tiap kali berpikir. “Aku mau sih, tapi bulan-bulan itu aku lagi sibuk juga. Mungkin aku nggak dateng ke prosesi wisudanya disana. Tapi kalo kamu ijinin aku mau bikin perayaan atas kelulusanmu di Indonesia, undang semua temenmu, temen bule kamu juga boleh. Gimana?”

Sekarang aku menggeleng, membuat raut Tisya berubah kecewa. “Daripada dirayain sama orang banyak, aku lebih suka sama kamu. Kutraktir marathon  nonton bioskop seharian, mau?” jawabku sembari mencubit dagunya.

“Meskipun filmnya drama, yang?” mata Tisya berbinar, aku menutup layar laptop. Pekerjaan apapun bisa menunggu untuk gadisku. “Kamu yakin mau nonton film drama?”

“Ngg.. kalau film dramanya di skip aja boleh? Kita nonton semua film, kecuali drama.”

Tisya tersenyum, sama sekali tak menunjukkan raut kesal. Seingatku Tisya memang tak pernah marah, tak pernah sekalipun. “Suatu hari aku pasti bisa bikin kamu nonton drama. Sendirian.”

Tanganku tergerak mengacak rambutnya, “Enak aja, mau taruhan?”

“Liat aja nanti.” ucap Tisya sambil menjulurkan lidah, aku mendekat dan mendaratkan sebuah kecupan mungil di hidungnya.

...

Baru beberapa detik lalu cahaya ruangan teater kembali benderang. Persetan dengan alur  film yang dua jam lalu aku tonton, tiap adegannya membuat hatiku digerogoti rindu.

Aurantiasya, seperti apa surga itu? Apakah diterangi bulan sabit yang jadi kesukaanmu? Atau dipenuhi kerlip kunang-kunang? Setelah supir truk mabuk yang brengsek itu merenggutmu, drama jadi satu-satunya penghubung yang aku punya. 

‘Sya, aku rindu.’

Jumat, 29 Maret 2013

(bukan) tentang lelakiku

Urban Kitchen.
Central Park Mall, Jakarta.

Suaramu gelisah, aku mendengar suara klakson dengan interval berbeda beberapa kali.
"Aku pasti akan kesana, tunggu. Kamu tau kan macetnya grogol jam pulang kantor begini? Tunggu. Jangan menangis."

Panggilan terputus.

Aku menggigit bibir kuat-kuat. Di hadapanku iced chocolate dalam gelas tinggi berembun sudah diam anggun, harusnya menggerakkan tanganku untuk mengangkatnya.

Tidak, bukan sekarang. Bukan saat dimana Raihan baru saja mencampakkanku.

Lidahku merasakan sensasi lain meskipun belum ada makanan apapun yang masuk ke perutku sejak semalam. Darah dari luka gigitan di bibirku.

Ditto, dengan nafas terengah habis berlari dan simpul dasi yang sudah tak pada tempatnya. "Tar, kamu kenapa? Bibir kamu?" tangannya sigap mengeluarkan saputangan berwarna pastel. 

'Ah Ditto, taukah kamu noda darah sulit dihilangkan? Kenapa repot mengotori saputanganmu?'

...

"Sesimpel itu alasan dia ninggalin kamu Tar?" tanyamu sambil mengusap punggung tanganku. Aku mengangguk, pipiku menghangat oleh air mata yang kembali turun. "Maaf ya aku nggak bisa dateng semalem, pagi ini baru sampe Jakarta. Semalem udh cari flight langsung tapi JFK lagi sibuk-sibuknya."

Leherku menggeleng. "Maaf, kalau aku tau kamu lagi disana, aku nggak akan hubungi kamu. Bukan salahmu."

'Iya Ditto, memang bukan salahmu. Salahku yang selalu jatuh dengan orang yang tidak benar-benar tulus mencintai aku. Salahku yang selalu menangisi orang yang tak pantas. Salahku.'

"Aku tetap merasa bersalah Tar, aku udah janji bakal ada terus buat kamu bahkan setelah kita putus kan? Sudah semalaman aku duduk di lounge bandara hanya untuk memastikan ada kursi kosong yang bisa langsung kubeli, tapi percuma."

"Aku mau kamu. Cuma kamu." ucapku lirih, kini dengan airmata tertahan. Kali ini nalarku mulai keluar jalur, sebelum Ditto menjawab pun sudah lebih dulu kuketahui jawabannya.

Tubuh Ditto condong ke arahku, mengecup keningku lembut. "Aku nggak bisa. Kamu tau kan alasannya Tar. Aku sayang sama kamu, aku cuma nggak bisa."

Aku mendekat, "Biarkan aku mengecupmu, mungkin kamu lupa sensasinya. Mungkin kamu lupa manisnya. Mungkin kamu lupa rasanya jadi lelakiku."

"Aku punya lelakiku sendiri, Tara." Ditto mendaratkan kecupan kecil di bibirku, rasanya masih sama. Sayang harus berakhir sebelum aku sempat membalas kecupannya.
"Meskipun bukan lagi lelakimu, aku disini."

Juaranya

Sesederhana duduk dan menguraikan resolusi-resolusi kita.
Lalu aku mendengarkan saat tiba giliranmu berbicara.

"Aku belum tau sih apa yang kedua dan seterusnya. Tapi yang pertama, mempertahankanmu."

Sudahlah,
Mungkin soal melukiskan senyum di bibirku.. Memang kamu juaranya.

Kamis, 28 Maret 2013

moments

I love it when you smelled my hair secretly and whisper,
"I love your hair scent, I can't stop smelling it."

I love it when I wake up every morning by your call.

I love it when I said, "Sorry, my morning voice sucks." then you replied, "Doesn't matter, I love your voice."

Senyum aja

Pernah kenal sama orang yang jutek sama lo tanpa alasan?
Dia kayak benci sama lo karena hal yang bahkan nggak pernah lo tau.

Senyumin aja.
Kalo dia butuh bantuan, tolongin aja.
Serius deh, senyum itu no cost tapi benefitnya besar.



Gue udah buktiin.
:)

Kurang dari tiga

Gue serrrrrrring banget menyimbolkan 'love' pas texting/tweeting dengan <3

Trus tadi nggak sengaja baca caption sebuah gambar dengan simbol yang sama.

Dalam matematika, <3 merupakan simbolisasi dari pernyataan 'kurang dari tiga'.

Menurut gue pribadi, pada dasarnya hubungan juga bersifat seperti itu.
Meskipun memang nggak bisa dipungkiri dalam tiap hubungan akan melibatkan pihak lain seperti keluarga lo, keluarga dia, temen lo, temen dia, mantan lo, mantan dia.
Oke yang dua kategori terakhir lebih baik enggak dilibatkan terlalu jauh.

Gue pernah punya hubungan yang diintervensi sama temen deketnya pacar (sekarang mantan) gue. Meskipun temen deketnya berjenis kelamin cowok, dia selaluuuuuuu aja ikut campur sama hubungan gue, mulai dari ngelarang gue jalan sama temen gue atau ngomelin pas gue terlalu sibuk sama tugas sekolah (dulu masi SMA cyinn..).
:|

Intinya dia lebih ribet daripada pacar gue, gue bahkan sempet curiga kalo sebenernya dia itu gay dan naksir sama mantan gue.
HAHA.

Sejak saat itu gue mulai lebih selektif dalam ber-partner, bukan cuma orangnya tapi juga temen-temen deketnya. Kenapa? Soalnya sebagai 'orang baru' gue nggak mau nantinya jadi sok ribet sama gaya berteman dia.

Gue juga lebih 'galak' dalam memberikan batas teritori hubungan gue.
Bukannya merasa insecure, gue cuma mau hubungan ini genuine dan nggak jadi hubungan yang campur aduk berantakan gara-gara pengaruh orang luar.
Dan pada akhirnya gue bersyukur tiap kali partner mengakhiri percakapan/perdiskusian/pembicaraan dengan, "Itu kan menurut orang. But what matter to me is you."
:">

Rabu, 27 Maret 2013

Morning call

I prefer morning call than morning text,
bukan hanya karena gue terlalu malas untuk mengetik pas mata masih berusaha beradaptasi sama cahaya. Tapi karena gue selalu menilai orang dari caranya bersikap pas baru banget bangun tidur.

Tau apa kekuatan morning call?
*sebenernya gue cari teorinya tapi nggak ketemu yaudah dibahas sesuai dengan pengalaman diri sendiri aja*

Berdasarkan pengalaman gue,
orang membutuhkan waktu beberapa menit untuk bisa mengendalikan diri dan behave pas mereka baru bangun tidur. Dengan menelpon orang tersebut dan menjadi stimulus pertama yang dia temui pagi hari, kita jadi tau seperti apa dia pas lagi nggak behave.

Sisi bagusnya?
Pas dia bisa panggil lo 'sayang' atau bilang 'love you' dengan menggunakan morning voice dan mata belum terbuka sepenuhnya.
<3 <3

Sisi jeleknya?
Kalo ternyata dia punya bad habit marah/bete/kesel ke orang yang ganggu tidurnya.
</3
Congrats deh ya kalo sama yang begitu..
:')
Gatau juga apa esensi gambarnya tapi gue setuju sama captionnya

Selasa, 26 Maret 2013

Hi, love

Me  : "I will read many journals, research, theories about relationship. So that you know, you're with the right partner."
Him: "I know, love."

Cowok kuat

Cowok kuat itu yang bukan yang berani berantem pas ada cowok lain yang gangguin pacarnya. Bukan juga yang bisa angkat banyak belanjaan pas ceweknya lagi kalap gara-gara midnight sale.

Cowok kuat itu yang berani bilang sama cewek lain yang deketin dia,
"Sorry, I'm with her now. I love her and that's more than enough."

Cowok kuat juga yang berani bilang sama cewek sinting yang gangguin pacarnya,
"Back off, if you annoys her it becomes my business."

Types of Hugs

God's way


Dear Allah,
I know YOU just wants me to know that life isn't that easy.
Thanks anyway, have fun up there..
:)

Minggu, 24 Maret 2013

Lotta love


Him: " ...long story short, I love you."
Me  : *smiling* 

Welcome you,

Welcome you..
Have a sit, we'll have a long long conversation.
:)

...

"You don't love her. You just don't wanna be alone. Or maybe, she's just good for your ego. Cause, you don't destroy people you love" — Grey's Anatomy.

Trust me she does

She knows it,
but sometimes she pretends that she doesn't.
Just to make you look like a pretty good liar.
:))

Impress(ion)


Me: "I just want to make everything's clear. I won't try to impress you. I'll say out loud what I think, what I feel, or maybe what I want. Even louder when I say what I hate. This is me. You can stay or go find someone else. No hurt feeling."

Him: "Why bother try to impress me when I've already impressed?"

I'm not trying to impress you

Menurut gue, semua orang pasti seenggaknya punya beberapa 'gaya' atau 'kepribadian semu' yang digunakan saat bertemu orang lain. Gaya-gaya ini kayaknya berbeda untuk tiap lawan bicara. Misalnya, gaya pas ketemu junior/adik angkatan mungkin beda pas ketemu sama orangtuanya pacar. #Yaiyalah #Timpuk

Itu bukannya munafik.
Memang manusiawi kalo kita tampilan yang kita perlihatkan akan menyesuaikan dengan tokoh yang kita ingin perankan atau seperti apa kita ingin dikenal.

Gue contohnya.
Pas lagi presentasi di kelas berusaha buat keliatan ngerti dan yakin,
ini membuat audiens memberikan atensinya ke gue yang lagi ngomong di depan.
Kebayang nggak kalo lo lagi ngomong di depan dan keliatan nggak yakin sama apa yang lo omongin? Yang merhatiin juga males kan?

Atau pas lagi ngobrol sama adik angkatan.
Mereka menceritakan masalahnya, gue pasti bakal naggepin dengan tenang meskipun mungkin gue juga nggak ngerti mau kasi tanggapan atau solusi kayak gimana.

Pun kalau lagi sama partner.
Bedanya, gue bakal terlihat lebih apa adanya.
Marah bilang marah. Bingung bilang bingung. Takut bilang takut.

Gue akan sangat transparan seperti ubur-ubur. #SeremAbis
Maksudnya gue akan menampilkan guenya gue.
Gue bakal ngomong apapun yang ada di dalem kepala bahkan tanpa filterisasi dulu.

Dan sampai sekarang,
gue merasa tetap bahagia seperti itu.

Sabtu, 23 Maret 2013

...

Sua multi amittunt, cupide dum aliena appetunt.
Mereka yang menginginkan milik orang lain kehilangan miliknya sendiri.

I know how that feels

Suit me better

When you had a bad day and he sent you a text:
":) suit you better than :("

Then you smiled.

Fight for me

Because sometimes I keep my mouth silent and wonder, "Will you fight for me?"

Jumat, 22 Maret 2013

Stop loving you

I still think of you

Kelas Psikologi Sosial kemarin pagi bicara tentang 'mencintai'.
Dosen yang emang gue suka dan berhasil membuat fokus gue nggak berpindah
selama 150 menit membuka sesi kuliah dengan pertanyaan terbuka.

"Apa sih cinta itu?"

*kelas hening*

"Oke, pertanyaannya saya ganti. Apa yang kalian rasakan saat jatuh cinta?"
Nggak ada.
Sama sekali nggak ada nama siapapun yang disebutkan.
Tapi dalam kepala gue satu nama muncul gitu aja tanpa diminta.

Mempercepat denyut jantung.
Memunculkan sensasi kepakan sayap kupu-kupu dalam perut.
Harusnya menyenangkan cuma entah kenapa kali ini sangat mengganggu.

Mungkin memang butuh banyak waktu untuk jadi 'normal'.
Roma nggak dibangun dalam sehari, kan?

Extravert

Setelah mengerjakan tugas psikologi kepribadian tentang pemikiran Hans Eysenck jadi menemukan beberapa menarik tentang extravert:

"Extraverts have weak excitatory processes and strong inhibitory processes."


"Extraverts would prefer loud music, bright colors, the use of alcohol and other drugs, and engage in various types of sexual activity."

"Extraverts took more study breaks than introverts."

"Extraverts make fewer attempts at suicide and have fewer actual suicides than introverts."

"It is the impulsivity component of extraversion that is related directly to criminality."

"Introverts utilized less information than extraverts in arriving at a decision under high pressure conditions." -Heaton and Kruglanski

Kamis, 21 Maret 2013

dating/hangout/jalan/kencan

Apa sih esensi dating/hangout/jalan/kencan (you named it)?

Percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama dengan partner?

Menurut gue bagian dari dating/hangout/jalan/kencan yang paling manis selain bagian ngabisin waktu bersama ada sebelum itu.

Having someone who can't wait to see you is just lovely!
<3

Nggak ada yang ngalahin masa-masa craving mau ketemu
karena kesibukan atau kesempatan yang menjadi halangan.

I've been looking for you

Saat aku masih memeluk cho-chosi boneka kelinci yang telinganya sudah kumal, Mam menceritakan tentang kisah-kisah putri cantik yang mencari pangerannya.

Putri salju yang hampir mati karena tersedak potongan apel beracun.
Putri tidur yang tertidur seratus tahun.
Cinderella yang menyelinap diam-diam untuk pergi ke pesta dansa.
dan Belle yang jatuh cinta pada si buruk rupa.

Setiap orang diciptakan dengan pasangannya, kata Mam.
Nantinya tiap putri akan hidup berbahagia tanpa cela dengan pangeran di istana,
tanpa penyihir jahat, tak ada lagi lara.

Aku tau bagian berbahagia tanpa cela merupakan bagian yang tak mungkin terealisasi.
Aku tau meskipun kita hidup dimana penyihir jahat sudah tiada,
lara menjadi konsep yang nyata adanya.
Tapi ada hal yang kamu perlu tau.
Kenyataan tak pernah mengikis niatku untuk bertemu kamu.
Aku sudah menerka seperti apa kamu saat membayangkan pangeran-pangeran dalam beberapa kisah berlainan yang selalu menutup hariku.

Dan aku sudah mencarimu sejak pertama kali kudengar kalimat, "Akhirnya mereka berdua hidup bahagia selamanya.." diucapkan Mam untuk menutup dongeng yang dibacakannya untukku.

Aku mencarimu.
Sampai detik ini.

Peculiar contradition

There is a peculiar contradiction—everybody thinks you are doing so well and everybody thinks you are great, but your real problem is that you think that you are not good enough. You are afraid not living up to what you think you are expected to do. You have one great fear, namely that of being ordinary, or average, or common—just not good enough. This peculiar dieting begins with such anxiety. You want to prove that you have control, that you can do it. The peculiar part ot it is that it makes you feel good about your self, makes you feel “I can accomplish something.” It makes you feel “I can do something nobody else can do.” (Bruch, 1978, p.128 dalam Comer, 1992)

Hand grip

I'm a kind of girl who grip my watching mate's hand.
-___________-"
not in a cute way,
fyi my ex partner said that it was annoying.
very cool pic :)
Since I gripped his hand when I got surprise by the movie and I gripped it very hard.
He often said, "Aww.." when I gripped his hand.

HAHA on me!!
Find someone who says, "Your grip isn't that hurt.." makes me thinking.
Whether he's a strong guy or a liar.
A very sweet liar, of course.
:)

Rabu, 20 Maret 2013

I will protect us

What will I protect?
Us.
:)

Especially, U.
There's no us without you, dear..

I bet you will

You'll regret it when you see me after years.
I bet you'll think, "Dammit, why I let that girl out of my life.."

I know you will..
:))

Selasa, 19 Maret 2013

Will you give up?

Kalo ada orang yang nanya, "Apa sih yang lo harapkan dari partner lo?"
Apa yang bakal lo jawab?

Buat gue?
Banyak.

Tapi yang paling penting?
Dia nggak pernah menyerah dalam menghadapi gue.


Senyebelin apapun gue pas PMS,
secengeng apapun gue pas tugas numpuk dan nggak tau harus mulai darimana.

Gue cuma berharap dia nggak pernah berhenti berusaha buat 'mengerti'.

We choose

Adek gue pernah nge-tweet gini:
"Kita emang nggak bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta. Tapi kita bisa memilih siapa yang patut untuk kita pertahankan."

Dewa ya? Iya pake banget.
Gue rasa proses hormonal saat pubertas mengubah adek gue manjadi orang yang sedikit banyak udah nggak gue kenali lagi.
Kecuali bagian dia sering isengin gue!!

And I agree,
kita memang bisa memilih siapa yang patut untuk kita pertahankan.
:)

Oom Dokter

Sudah beberapa hari ini baca beberapa artikel yang memojokkan profesi dokter.
Iya, dari sekian tenaga medis entah kenapa dokter yang dibahas.
Bukan bidan, suster, atau dukun beranak (oke yang terakhir nggak termasuk).

Sejak kecil Mam mempercayakan perawatan kesehatan anak-anaknya (termasuk gue) sama satu dokter. Namanya dr.Jo dan beliau adalah dokter spesialis anak.

Orangnya ramah, lucu, dan sabar menanggapi gue yang sering sok tau sama gejala yang gue rasain. Misalnya, "Dok, aku beberapa hari ini sering pusing gitu dok. Apa jangan-jangan aku kena radang selaput otak ya dok? Soalnya aku baca di internet gejalanya pusing terus-terusan.."
#PercakapanDiAtasBenar-BenarTerjadi

Sampe umur 19 tahun pun Mam selalu aja memaksa gue pulang ke rumah kalo lagi sakit demi ketemu dr.Jo.
Kata Mam, "dr.Jo yang paham badanmu.. medical record mu semua kan di dia. Udah nggak usah macem-macem, cepet pulang!"

Dan dr.Jo tetap memanggil dirinya sendiri 'Oom Dokter' padahal gue udah jadi mahasiswi dan bukan anak kecil lagi..
:')

Lalu, pas awal kuliah gue kecapekan dan ambruk sampe harus pulang.
dr.Jo dengan baiknya kasi nomor dia, "Kakak ini nomor om dokter, kalo kakak ada apa-apa langsung telp atau sms aja ya.."

Terserah mau ada berita apa soal dokter,
gue sayang dr.Jo titik!
<3

"Nantinya kakak akan obati orang secara psikis kak, makanya selain psikis kakak harus sehat fisiknya juga. Masa psikolog sakit melulu, nggak lucu ah.." -dr.Jo

Ribuan langkahku, kamu.

Tangan sang ksatria menggenggam erat. Putri diam tak beranjak.
"Aku tak bisa," ujarnya dengan airmata tertahan. "Aku tak mungkin pergi dengan setengah hati."

Ksatria tak bergeming. "Sedangkan aku tak mungkin melepasmu. Setelah ribuan langkah yang kubuat. Aku tak mungkin membiarkan kamu pergi."

Rembulan putih muncul malu-malu, setelah hampir semalaman bersembunyi di belakang gurat-gurat gelap awan hitam.

Sedang kstria dan sang putri.
Diam saja saling bisu.

Minggu, 17 Maret 2013

Three-O

Watching this numbers makes me happy..
Thanks for reading..
:)

And yes,
I love the 'three'..

Cuddle

Do you know what sounds so good when it's raining outside?

Do you know what things do I like?

And something I love the most?

Reminder

and I was wondering to have the same reminder on my iPhone..
:))

Rain and tears

Pistanthrophobia


Afraid

-you're not afraid to have,
you're just afraid of losing and getting hurt..

Dreamcatcher

Liat-liat gambar dreamcatcher,
aaaaaaaaaak ga paham lagi sama cantiknya..
:3
Dream Catcher
Dalam budaya asli Amerika, dreamcatcher adalah benda buatan tangan berdasar lingkaran willow, yang ditenun jaring longgar. Dreamcatcher tersebut kemudian dihiasi dengan barang-barang pribadi dan suci seperti bulu dan manik-manik. (wikipedia)
Menurut legenda bangsa Indian, dreamcatcher itu punya banyak arti dan biasanya digunakan untuk menangkap mimpi-mimpi yang bagus. Sedangkan untuk mimpi buruk dipercaya akan terjebak di tali temalinya lalu hilang beserta terbitnya matahari. (majalah Gadis)
Orang-orang suku Ojibwa mengatakan mereka membuat dreamcatcher pertama di jaman kuno. Mereka menggunakan ranting pohon willow yang masih segar, batang jelatang, otot hewan dan bulu burung hantu. Mereka membengkokkan rantingnya menjadi lingkaran dan kemudian mengeringkannya untuk membuat bingkai. Lalu mereka menjalin batang jelatang dan otot hewan menyilang mengelilingi bingkainya untuk membuat semacam jaring, membuat gantungan-gantungan untuk mengikat bulu-bulu.(http://oalamagz.blogspot.com)

Mimpi-mimpi yang baik akan tersangkut pada lubang di tengahnya, turun melalui bulu-bulu untuk memberi mimpi yang baik kepada orang yang sedang tidur.
Mimpi buruk tidak akan terperangkap di jaringnya. Ketika pagi tiba, mereka lenyap.
(http://oalamagz.blogspot.com)

Move on

"Beda, move on dan melupakan kamu itu dua hal yang berbeda. Move on artinya aku menyimpan rapi kenangan-kenangan kita, menata kembali hati dan perasaanku,
berusaha mengerti alasan kita pisah,
dan akhirnya membiarkan kamu pun aku menapaki jalannya sendiri-sendiri.."

Sabtu, 16 Maret 2013

Awal mula

Gue kangen nulis soal kejadian-kejadian lucu-manis-jayus yang biasanya gue alamin pas lagi dating/kencan/pacaran/jalan/nonton (you named it). Semacam kangen mengabadikan sebuah momen sambil nggak berhenti senyum pas ngetik huruf demi hurufnya di keyboard gue.

No, I'm over it.
Masa-masa dimana kantong airmata gampang bocor sudah berakhir, bung!
:)

But well,
gue kangen bilang, "Selamat pagi, sayang.." pake morning voice ke orang pertama yang suaranya gue denger pagi-pagi. Ucapan yang biasanya dibales dengan nada semangat karena memang dia udah siap berangkat ke kampus pas gue masih baru banget bangun.

Gue kangen banget.

Tapi gue jauh lebih kangen masa-masa sebelumnya.

Masa dimana gue sering terkejut sambil bilang, "Masa sih?" saat mendengar dia menceritakan tentang dirinya. Kesukaannya. Ketakutannya. Pemikirannya. Perasaannya. Oke yang terakhir jarang banget gue denger.

Atau masa dimana kita berdua belum terlalu jauh mengenali satu sama lain sehingga tiap keputusan yang kita ambil selalu dievaluasi dengan, "Kamu suka nggak? Nggak apa apa ngomong aja kalo nggak setuju.."

Ah, semesta jauh lebih tau kan?
Kembali ke siklus dimana semua bermula,
sekarang gue cuma bisa berdoa.
:)
 

Template by Best Web Hosting