Kamis, 28 Februari 2013

Third kind of 'vert'

Kantin Fakultas Psikologi.
Owl dan Lidya duduk bersampingan.
Owl makan somay, Lidya makan nasi campur.
Owl berceloteh nggak bisa berhenti, Lidya duduk manis sambil angguk-angguk.

Irfan yang awalnya nyeletuk, "Kok bahasa lo berat banget sih?" akhirnya nanya,
"Lo tau nggak istilah ambivert? Jadi kan katanya ada ekstrovert sama introvert, trus ada ambivert."
Menurut artikel yang ditulis oleh Dr. Karl Albrecht, Ph.D. (penulis dari "Practical Intelligence: the Art and Science of Common Sense") beliau mengusulkan adanya 'vert' yang ketiga selain introvert dan extravert.

'Vert' jenis ketiga ini adalah "adapted introvert" alias introvert yang yang 'menyamar' jadi extravert pada waktu-waktu tertentu (saat dibutuhkan) dan bisa kembali jadi introvert.

Serius bisa?

Menurut beliau bisa.

Mengutip langsung pernyataannya, "I know, because I am one, and many of my colleagues in my occupation show the same pattern." (saya tau, karena saya adalah salah satunya, dan banyak kolega dalam pekerjaan saya menunjukkan pola yang sama)
Karl Albrecht
Dalam tiga puluh tahun karirnya sebagai konsultan manajemen, presenter seminar, dan pembicara seminar, orang-orang sering menganggap Albrecht sebagai seorang extravert.

Orang-orang bertanya, "Bagaimana kau bisa berdiri di depan 5.000 orang dan memberikan pidato berapi-api tentang kepemimpinan, sedangkan kamu bukan seorang extravert?" 

Menurut Albrecht, itu tidak mudah.

Hampir semua dari pembicara terkenal yang memberikan motivasi-motivasi adalah extravert.

Namun, banyak juga pakar (introvert) yang bicara tentang masa depan, strategi bisnis, kepemimpinan, ekonomi, teknologi, dan performa organisasi didorong oleh kebutuhan mereka tentang prestasi dan pencapaian dalam melakukan kegiatan yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan orang banyak seperti yang dilakukan oleh orang extravert.

Singkatnya, mereka berinteraksi bukan atas dasar kebutuhan terhubung dengan banyak orang seperti yang mendorong extravert tapi karena kebutuhan dalam diri mereka terhadap prestasi dan pencapaian.

Dorongan kebutuhan terhadap prestasi ini yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan interaksi intensif dengan orang lain, setelah 'misi' nya selesai mereka akan melangkah mundur dan kembali ke dunia privasi mereka yang nyaman.

Source:
http://www.psychologytoday.com/blog/brainsnacks/201202/third-kind-vert
https://www.karlalbrecht.com/visitwithkarl.php

Untuk Anggrek


Bel di atas pintu masuk berbunyi, tanda bahwa ada seorang pelanggan yang memasuki toko. Bara yang sedang menghitung catatan pengeluaran toko di dalam komputernya segera menghampiri dengan senyum ramah.

“Ada yang bisa dibantu mbak?” Bara menyapa seorang pelanggan di toko bunga milik neneknya. Beberapa detik Bara dibuat terdiam oleh pelanggan yang belum pernah dilihatnya masuk ke toko ini, kepangan rambut yang diikat oleh pita ungu—sangat jarang perempuan jaman sekarang yang mau mengepang rambutnya menjadi satu. Si pelanggan memakai terusan dengan panjang selutut dan cardigan rajut yang menutupi lengan, menjadikannya manis luar biasa di mata Bara.

Anggrek—si pelanggan yang langsung merasa kikuk dengan cara Bara memandang dirinya menjawab sambil menoleh ke arah lain, “Ngg.. Saya mau beli bunga.”

“Maaf. Mbak cari bunga apa ya?” lanjut Bara dengan gaya profesional yang ditampilkan untuk menutupi kekaguman yang membuatnya beku beberapa saat lalu. Bisa-bisa si pelanggan ketakutan dan enggan mampir lagi di tokonya karena dipandangi seperti tadi.

“Mawar. Mawar—putih,” ada jeda yang terdengar sebelum Anggrek memutuskan warna bunga yang hendak dibelinya.

Langkah Bara bergerak ke sudut ruangan, neneknya selalu meletakkan segala jenis mawar di sudut dan bukannya di tengah ruangan. Sekilas Bara jadi mengingat jawaban nenek saat dia menanyakan perihal letak mawar-mawar yang tak boleh dipindahkan barang sejengkal.

‘Mawar itu istimewa, kalau kamu meletakkannya di tengah ruangan akan banyak tangan yang menyentuhnya. Seharusnya yang istimewa tak mudah tersentuh tangan karena akan mengurangi nilainya.’

“Berapa tangkai?” tanya Bara dengan volume agak keras karena si pelanggan masih saja berdiri di tempatnya tadi, mengagumi dandelion yang beraneka warna, berdiri seperti bercengkrama dengan bahasa yang tak terdengar oleh telinga.

Anggrek menoleh, dilihatnya penjual bunga dengan topi baret motif kotak-kotak mulai memilah tangkai-tangkai mawar di sudut ruangan. “Tujuh,” katanya sambil melangkah ke kassa.

Jawaban Anggrek seperti mengingatkan Bara akan sesuatu, diliriknya jam tangan. Setelah melihat penunjuk tanggal, Bara kembali meneruskan kegiatannya memilih tujuh tangkai mawar putih pesanan si pelanggan yang sekarang sudah berdiri di depan mesin kasir.

“Apa perlu disertakan kartu ucapan mbak?” tanya Bara saat memberikan pita sebagai hiasan rangkaian bunganya. Bunga tanpa kartu ucapan akan seperti puisi yang dibaca dalam hati, perasaan yang tak kunjung disampaikan—ada namun tak bermakna.

Anggrek diam sebentar, ragu-ragu menjawab. “Iya. Untuk Anggrek. Itu aja.”

‘Tak ada salahnya mengirimi hadiah untuk dirimu sendiri, Anggrek.’ Ucap suara hati kecil Anggrek.

Sebelum Bara menulis kartu ucapan untuk bunga yang dipesan Anggrek, dia berhenti. “Biasanya setiap tanggal 7 ada pesanan bunga juga disini untuk Anggrek, mbak. Tapi yang pesan laki-laki dan bunga yang dipesan bukan tujuh tangkai mawar putih—tapi mawar merah.”

Anggrek diam. Dia tau, setiap tanggal tujuh akan ada kiriman bunga ke rumahnya. Tujuh tangkai mawar merah dengan kartu ucapan berisi puisi-puisi romantis dari Fardan. Tapi tanggal tujuh yang ini berbeda, tak akan ada lagi tujuh tangkai mawar merah yang akan mampir ke teras rumahnya. Tidak ada lagi cinta bersisa untuk Fardan setelah apa yang diperbuatnya.

Dengan airmata tertahan, Anggrek melirik ke arah penjual bunga yang sekarang salah tingkah.

Tatapan Anggrek membuat Bara merasa bodoh. Gadis di depannya ini pasti Anggrek, tatapan matanya menyiratkan luka yang tak perlu lagi diucapkan. “Maaf,” ucapnya singkat, berjanji tak akan berkata-kata lebih jauh lagi.

Hanya sekali.

Setelahnya Bara tak pernah lagi melihat Anggrek berkunjung atau melewati tokonya.

...

Anggrek yang sedang menulis jurnal hariannya dikejutkan oleh suara ketukan berulang di pintu depan.

“Sebentar,” jawabnya sedikit kesal karena ketukan-ketukan yang terdengar mulai mengganggu.

Tak ada siapapun. Pagarnya bahkan tak terbuka. Saat hendak melangkah keluar teras, kakinya menyentuh sesuatu.

Sebuah vas mungil yang bentuknya membulat, seperempatnya terisi air. Di atasnya beberapa tangkai anggrek ungu tersemat disatukan oleh pita dengan warna sama—yang mengikat sebuah kartu ucapan.

...

Aku menyampaikan salam yang dikirimkan dandelion-dandelion yang mendadak sunyi setelah kamu pergi.
Anggrek, ini anggrek untukmu.
Ada bunga-bunga yang merindu karena kamu tak pernah lagi datang. Ada sendu yang melingkupi semua bunga-bunga cantik disini. Mereka tak pernah bisa berkaca, mereka tak pernah melihat seperti apa rupa cantik—sebelum kamu datang dan menunjukkannya pada mereka.
Kamu perlu tau, bukan cuma mereka yang teracuni rindu, bukan cuma mereka yang berubah sendu.
Pun aku.

Rabu, 27 Februari 2013

y_u

Chaos


I shouldn't forget

Pernah menemukan seseorang ya lo pikir akan menjadi seseorang yang akan jadi bagian dari hela nafas lo, nggak?

Atau menemukan orang yang bikin lo nggak keberatan tersesat dimanapun asal bareng-bareng sama dia?

Hm, kalo orang yang akan selalu lo maafkan, lo toleransi, dan berusaha lo pahami dalam situasi sesulit apapun?

Seharusnya kita nggak boleh lupa kalo senyaman-seindah-semanis apapun keadaan yang kita alami, kita tetap harus bersiap ditinggalkan sendiri.

Seharusnya gue nggak boleh lupa.

Selasa, 26 Februari 2013

Like Partner, Like Parents?

Pernah denger mitos ini nggak:
"Pada akhirnya secara tidak disadari kita akan mencari partner yang mirip sama orangtua kita. Anak perempuan akan mencari partner yang mirip sama ayahnya. Anak lelaki akan mencari partner yang mirip ibunya."
Sebenarnya itu adalah pandangan Sigmund Freud, seorang tokoh psikoanalisa yang sangat mengagungkan pengaruh alam bawah sadar terhadap tingkah laku kita sehari-hari.

Kembali ke mitos tadi.

ps: tanpa mengurangi rasa hormat untuk semua orang tua di muka bumi.
Untuk cewek yang punya Bapak/Papa/Ayah keras kepala dan kalo seandainya lo nanti punya suami kayak gitu you can't stand it,
atau untuk cowok yang punya Ibu/Mama/Bunda sering ngomel dan kalo seandainya lo nanti punya istri kayak gitu you also can't stand it.

Jangan khawatir.

Sebuah studi yang hasilnya diterbitkan di Journal of Research of Personality menyatakan bahwa kita nggak perlu merasa takut akan punya partner yang mirip dengan orang tua kita.

Sumber data penelitian ini berasal dari sampel berukuran besar pasangan kembar di Belanda dan keluarga mereka menghasilkan kesimpulan bahwa hampir tidak ditemukan hubungan antara kepribadian dari orang tua dan partner.
Tapi,
*iya gue tau kok kata 'tapi' selalu membawa perasaan nggak enak*

Ada satu pengecualian, partner biasanya memiliki kesamaan dengan orang tua dalam keterbukaan (openness) dalam menerima ide atau pengalaman baru.
pss: untuk yang tertarik melihat hasil penelitian tentang openness bisa klik disini
Menurut Robert Mc Crae keterbukaan (openness) adalah ciri-ciri kepribadian yang akan mempengaruhi siapa yang kita sukai dan dengan siapa kita lebih nyaman menghabiskan waktu.

Jadi kalo orang tua lo misalnya dengan mudah menerima ide/saran/pengalaman baru maka besar kemungkinannya lo akan memiliki partner dengan sifat yang sama.
Kenapa? Karena lo merasa nyaman dengan orang seperti itu.
Contoh gampangnya adalah menentukan pilihan makanan.
Kalo orang tua lo adalah tipe yang 'kalo udah suka makan di satu tempat makan, bakalan males coba yang lain dan terus-terusan makan disitu' maka kemungkinan besar lo akan punya partner dengan sifat yang sama.

Amir Levine, seorang psikiater yang berasa dari Kolumbia menyatakan bahwa pandangan Freud mengenai seleksi pasangan terlalu sederhana. Quoted from Levine, "We're very social beings and very adaptable. We learn different ways of relating to different people."

"You choose a mate for many reasons. Similarity to your parents is not among them."

source: Psychology Today Magazine, October 2012

Packaging works!

Kelas Psikometri pagi ini super inspiratif.
Seenggaknya buat gue sih.
No, bukan materinya yang inspiratif.
Since I'm not into numbers and equation, I don't like the subject from the first sight.

Tapi dosennya iya (inspiratif).
Serius deh, entah udah ke berapa kalinya gue sangat amaze sama Mas Urip.
Oh iya, post sebelumnya tentang beliau bisa dilihat disini

Menurut gue, sangat jarang ada orang yang bisa memberikan orang lain nasehat tanpa membuat orang tersebut merasa dinasehati. Contohnya?

XXX: "Kalian kan mahasiswa, sudah sepantasnya belajar. Coba hitung dalam sehari berapa lama kalian belajar, bandingkan sama waktu kalian main-main bla bla bla.."

*Nguap*

Mas Urip: "Jadwal kalian setelah ini apa? Masih ada jeda beberapa jam ya? Kalo saya, daripada saya datang kuliah pagi trus nganggur beberapa jam lebih baik saya kerjakan sesuatu atau baca bahan kuliah lain. Jadi nanti sesampainya di rumah kita terbebas dari tugas, sebenarnya waktu kosong itu berharga kalo kita bisa menggunakannya secara optimal."

Beda kaaan?
Iya kan bedaaaaa?

Sop buntut yang dijual di Hotel Borobudur juga harganya beda sama sop buntut yang dijual pinggir jalan, kan?

Maksud lo apa Owl? Gausah gaya pake analogi deh, bikin orang makin nggak ngerti.
-_____________-"

Maksudnyaaaaaaa, cara kita menyampaikan (brand, packaging) sangat berpengaruh sama penerimaan orang lain terhadap konten pembicaraan kita woy!

Senin, 25 Februari 2013

Pilihanku, Kamu


Alta menggigit es batu yang tersisa di gelasnya, suara gemeletuk yang terdengar biasanya diikuti oleh sebuah kalimat yang diucapkan Reyhan. ‘Ta, kamu tau nggak sih kebiasaan kayak gitu bisa ngerusak gigi kamu?’.

Aku tau Rey, seperti aku tau bahwa pola makan dan tidurku yang tak teratur akan membahayakan tubuhku. Seperti aku tau kafein yang tiap malam aku minum bisa membuat aku kecanduan. Seperti aku tau nikotin yang baru beberapa bulan ini bersahabat dengan paru-paruku bisa membunuhku, tapi aku bisa apa?

Air mata Alta mulai turun satu-satu, dihisapnya lagi rokok dalam-dalam. Tepat empat bulan yang lalu, Reyhan pergi meninggalkannya. Reyhan meninggal dunia setelah memaksakan diri turun gunung pada saat cuaca buruk demi menghadiri ulang tahunnya tepat waktu. Membuat Alta menanggung sesal seumur hidup.

Ingatan Alta kembali ke saat terakhir dia dan Reyhan bersamaan dengan es yang mulai mencair dalam ruang mulutnya.

“Tapi hari Sabtu kan ulang tahun aku Rey, kamu lebih milih naik gunung sama temen-temen kamu dibandingin dateng ke pesta ulang tahun aku? Iya?!” ujar Alta dengan wajah kesal. Pacarnya ini memang ketua unit pecinta alam di kampus, sering naik gunung, tapi masa iya gunung jauh lebih penting dibandingkan dengan datang ke ulang tahunnya?

Gunung. Seharusnya kamu memilih untuk tetap berada di atas gunung dan tidak datang untukku.

Reyhan mengacak rambut gadis kecintaannya pelan, senyumnya mengembang. “Aku kan berangkat hari Kamis sayang, Jum’at siang aku turun, paling lambat Sabtu pagi aku udah ada di rumah. Aku pasti dateng.”

“Janji?” Alta menyodorkan jari kelingking tangan kanannya. Reyhan mengangguk, dengan cepat mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Alta, lalu memeluknya.

Seandainya aku tau itu pelukan terakhir yang bisa kamu berikan untukku, aku tak akan pernah melepaskannya Rey.

“Masih mencoba buat bunuh diri?” Kania lantas menarik kursi yang ada di depannya, duduk dengan senyum angkuh yang merendahkan setelah melihat batang-batang rokok di atas asbak. Sebenarnya Alta sangat ingin mengusir perempuan itu dari hadapannya, tapi ini kafe—siapapun yang mampu membayar berhak untuk duduk.

Kalau saja memungkinkan, Alta ingin memecahkan gelasnya dan melemparkan potongan-potongan kacanya ke wajah Kania sekarang juga. “Masih menyalahkan aku atas kematian Reyhan?” Alta balik bertanya. Kania adalah pacar pertama Reyhan, Reyhan meninggalkannya setahun sebelum mengenal Alta karena Kania berselingkuh.

“Sejak awal aku yakin Reyhan lebih bahagia bersamaku,” Kania tersenyum lagi, senyum merendahkan seperti biasa.

Alta tertawa mengejek, “Jangan sok suci, kamu selingkuh dari Reyhan. Reyhan jelas lebih memilih aku. Admit it, people make mistakes.”

Senyum Kania memudar, “Tapi kesalahanku tidak membunuh Reyhan.”

Kania benar, kesalahanku yang membunuhnya.

Alta mengeluarkan kotak rokok dari tasnya, mengambil batang terakhir yang tersisa. Tangan Kania dengan cepat merebut batang rokok yang terjepit di antara jari Alta, mengejutkannya. “Kamu mau apa? Menuntutku? Atau malah membunuhku karena aku penyebab kematian Reyhan?” nada suara Alta mulai meninggi.

“Percayalah, kalau memungkinkan aku pasti sudah melakukannya,” jawab Kania tetap tenang seperti biasa.

Kania kemudian mengeluarkan ponsel, lalu beberapa detik kemudian menyodorkannya pada Alta. “Ini email dari Reyhan untukku, dua bulan setelah pertemuan kalian. Aku menawarkannya sebuah hubungan denganku, tanpa sepengetahuanmu.”

...

Kania, aku merasa tidak perlu berbasa-basi. Aku memaafkanmu, untuk semua sakit dan perselingkuhan yang tak pernah aku ketahui jumlahnya. Untuk tawaranmu, aku menolaknya.

Apapun yang terjadi antara kita terjadi di masa lalu. 

Sekarang aku sudah menemukan seseorang yang akan jadi bagian dari masa depanku.
Dua bulan ini aku bertemu dengan seseorang. Dia sangat berbeda denganmu, kamu memang jauh lebih dewasa dari Alta. Tapi aku sangat nyaman berada di dekatnya, aku bahagia tiap kali ia tersenyum dan tertawa.

Dia memang tidak bisa memasak seperti kamu, tapi aku menikmati makan di restoran sambil mendengarkan cerita dan ocehannya yang tak pernah berhenti.

Menerima tawaranmu sama dengan menyakiti Alta dan membuatnya menangis sama sekali bukan pilihanku.

Aku mencintai Alta.
Dan sama seperti namanya, aku akan meletakkan dia di tempat paling tinggi yang aku punya dalam hatiku.

...

“Kamu mengajak Reyhan berselingkuh dari aku?” tanya Alta dengan nada tak percaya.

Kania mengangkat bahu, menganggap jawaban dari pertanyaan Alta adalah hal yang sepele. “It doesn’t matter, dia menolakku mentah-mentah. Sekarang, aku hanya tak mau Reyhan kecewa dengan pilihannya—” 
Kania menyingkirkan asbak yang ada di depannya ke meja kosong di sebelah mereka. “—dan sudah jadi tugasmu untuk membuktikannya. Buktikan bahwa kamu pantas menempati tempat paling tinggi yang Reyhan punya di hatinya.”

“Aku minta maaf,” Alta menunduk, diselimuti oleh rasa bersalah yang sekarang kian bertambah.

Tangan Kania menggenggam tangan Alta yang terkulai di atas meja, memberinya kekuatan. “People make mistakes—and they deserve a chance to fix it.”

“Sebenarnya aku memikirkan hal yang sama, bahwa Reyhan mungkin saja lebih bahagia kalau masih bersamamu,” Alta menatap Kania dengan pandangan takut-takut meskipun Alta sudah siap menerima pandangan merendahkan yang biasa diberikan Kania padanya.

Kania tersenyum simpul, “I know,” katanya dengan nada bercanda yang kemudian dilanjutkan dengan serius, “Tapi dia memilihmu.”

Perasaan Alta seketika saja dipenuhi oleh rasa hangat, sama hangatnya dengan pelukan yang selalu diberikan Reyhan untuknya.

Dan aku juga memilihmu Rey.

Aku memilihmu untuk menjadi alasanku keluar dari keterpurukan ini.
Reyhan Pristian Nugraha, aku mencintaimu dan aku akan membuktikan bahwa aku pantas dicintai olehmu.

*Alta : tinggi (Spanish)

Tak ada lagi kamu


Kita yang mencari, katamu.
Sedang dalam perspektifku kita tidak pernah saling mencari.
Ini takdir, takdir yang menemukan kita.

Taukah kamu? 
Aku tak pernah ingin membuka hati secepat ini.
Aku tak pernah berencana jatuh sedalam ini.

Cerita ini harus berhenti, ujarmu sambil melepaskan ikatan satu-satu.
Ikatan yang simpulnya diciptakan dengan banyak detik-detik
yang sampai sekarang tak pernah aku sesali.

Tiap satu simpulnya terlepas, aku kehilangan satu indera yang kupunya.
Tetiba semua menjadi gelap, hening, hambar, kosong.

"Aku tak akan pernah memaafkanmu." kataku, tetap tak ingin melepasmu.
Kamu diam saja.

Sudah.
Lebih cepat dari yang pernah aku bayangkan.
Kamu pergi.

Aku menangis sendiri di hutan tanpa cahaya.
Tak ada lagi kamu.

Minggu, 24 Februari 2013

Menarik? Apakah selalu fisik?

"Gue sih pingin ajakin kenalan, tapi mana mungkin dia mau sama gue.. Gue kan bla bla bla (menyebutkan kekurangan diri satu-satu)"
Pernah denger dialog di atas kan? Atau malah merasa pernah jadi orang yang mengucapkannya? Tenang, lo nggak sendirian kok.

Secara tidak langsung, kita membuat kategori-kategori 'cantik' atau 'ganteng' atau 'nggak cantik dan nggak ganteng' berdasarkan perbandingan sosial yang ada di sekitar kita. Dari perbandingan-perbandingan itu, kita kemudian memasukkan diri kita dalam kategori tertentu.

Seringnya, orang merasa nggak menarik karena nggak punya indikator-indikator cantik/ganteng seperti tubuh langsing (buat cewek), tubuh berotot (buat cowok), hidung mancung, kulit putih, dan sebagainya.
"Masalahnya, gue emang beneran nggak menarik."

Permasalahannya bukan itu. Masalahnya, apa iya 'menarik' semata-mata hanya 'cantik/ganteng' aja? Apa iya calon pasangan kita hanya berfokus pada tampilan fisik untuk menilai apakah kita menarik di matanya?

TIDAK.
Kabar baik, kan? :)

"Kata siapa? Kata lo? Orangtua gue juga bilang gitu. Basi!"

Salah satu artikel di Psychology Today yang berjudul "Is Your Personality Making You More or Less Physically Attractive?" menyatakan bahwa : Daya tarik fisik adalah sesuatu yang subjektif.
Maksudnya tiap orang punya selera yang berbeda satu sama lain. Nggak semua cowok suka cewek yang kulitnya putih dan nggak semua cewek suka cowok yang badannya berotot. Nah, menurut penelitian pendapat subjektif tentang daya tarik ini mudah dipengaruhi oleh kepribadian.

Artinya, kepribadian lo bisa mengubah cara orang lain melihat lo dari luar!
Beberapa penelitian membuktikan hal ini, untuk penelitiannya boleh dibaca disini

Hasil dari penelitian-penelitian tersebut (kalo lo mau baca, hehe..) menunjukkan bahwa banyak orang yang akhirnya menjadi pasangan bahkan meskipun awalnya tidak ada ketertarikan fisik di antara mereka.
"Kalo emang kepribadian mempengaruhi kadar daya tarik fisik, ada nggak caranya biar gue terlihat menarik meskipun bla bla bla (sebutin lagi kekurangan diri satu-satu)?"

1. Kembangkan kepribadian yang baik.
Ambil cermin, ngaca! Liat siapa yang ada di depan lo, seperti apa pribadinya. Sadari dan jujur sama diri sendiri, apakah orang yang ada 'di dalam' diri lo baik/buruk?
Misalnya, "Gue emang sering egois, memaksakan kehendak gue. Mulai sekarang gue harus belajar mikirin perasaan orang lain sebelum bertindak." 

2. Jangan buru-buru.
Kalo orang jawa bilang, "Alon-alon asal kelakon.."
Untuk memberikan penilaian mengenai kepribadian seseorang butuh waktu karena memang nggak semudah melihat tampilan fisik. Terlibat dalam obrolan-obrolan ringan yang menyenangkan dan hangat bisa jadi satu nilai plus.
Meskipun kepribadian lo baik tapi kalo tiba-tiba nanya, "Lo mau nggak jadi pacar gue.."
Ngeri~

3. Tetap positif!
Menggunakan pengaruh kepribadian sebagai daya tarik bukan sesuatu yang bisa dilakukan satu kali kayak sulap. Hal ini perlu dipertahankan dan diperbaiki terus-menerus. Kalo orang menilai kepribadian lo nggak menarik, maka tampilan fisik lo akan dinilai dengan cara yang sama juga.
Menjaga kepribadian agar tetap menarik perlu dilakukan bahkan oleh orang yang sudah menarik 'di luar' juga!

Athazagoraphobia

Sabtu, 23 Februari 2013

In-secur(e)-ity

Melihat topik insecure yang kayaknya rame dibicarakan di linimasa twitter oleh orang-orang (ketauan banget tiap online yang diliatin cuma twitter), sebenernya gue udah buka psychology today buat melihat artikel ilmiah mengenai fenomena insecure ini tapi berhubung kecepatan internet nggak memungkinkan jadi.....

*tarik nafas*
(sudahlah, yuk mari move on dan menulis dengan referensi lain)

Apa sih orang yang insecure itu?
Insecure secara harfiah berarti 'tidak nyaman' maksud dari istilah ini adalah ketidaknyamanan seseorang terhadap dirinya sendiri yang mengakibatkan dia menunjukkan perilaku-perilaku tertentu supaya dia merasa nyaman sama dirinya sendiri.

Rasa insecure atau tidak nyaman itu sebenernya disebabkan oleh rasa percaya diri yang minim. Orang ini biasanya merasa inferior/rendah di mata orang lain. Penyebabnya bisa beragam seperti penampilan atau kemampuan yang (menurutnya) tidak sebanding dengan orang lain.

Apa saja ciri-ciri perilaku orang yang insecure?
Udah dibahas kan kalo orang yang insecure ini merasa inferior? Buruknya perasaan insecure ini adalah saat dorongan yang muncul bukannya menambah kualitas diri tapi malah merendahkan orang lain.

Makanya salah satu ciri orang yang insecure adalah seorang bully. Pernah ketemu orang yang sering menjelekkan orang lain secara terus-menerus? Ketemu si A ngomongnya, "Kok sekarang gendutan sih?" trus ketemu si B, "Kok lo iteman sih?"

Defensif. Ciri lain dari orang yang insecure adalah kesulitan mereka menerima kritik. Mereka menganggap bahwa kelemahan adalah suatu yang haram diketaui oleh orang lain karena itu saat dikritik mereka akan merasa terancam dan membantahnya habis-habisan.

Selain nggak bisa menerima kritik, orang yang insecure biasanya menunjukkan pada orang lain (dan diri sendiri) dengan bersaing berlebihan. No, gue nggak bilang kalo kita nggak boleh berkompetisi tapi bersaing berlebihan maksudnya adalah nggak bisa menerima kekalahan dan menyalahkan orang lain untuk kegagalan atau kekalahannya. Ucapan yang mungkin muncul adalah, "Yaiyalah dia menang, dia kan ada affair sama jurinya."
Take a note!, cuma orang yang nyaman sama dirinya sendiri yang bisa menerima kekalahan.

Pernah kenal orang yang serrrrrrrring banget mempromosikan diri sendiri nggak kenal situasi? Perilaku ini sebenarnya dilakukan oleh orang yang insecure untuk mencari pengakuan diri di mata orang lain. Mereka butuh pengakuan, sebanyak-banyaknya kalo bisa. Contohnya gampang, "bla bla bla (bicarain kejelekan orang lain) kalo gue sih nggak kayak gitu." atau "Gue tuh nggak pernah nikung cowok orang, beda sama si D (ceritain kejelekannya si D) bla bla bla.."

Gue termasuk manusia yang insecure nggak?
Bisa iya, bisa enggak. #laluditimpuk
Pertanyaan besarnya, apakah lo merasa nyaman nggak sama diri lo sendiri?

Indikatornya banyak, apakah lo menerima kekurangan lo sebagai bagian yang memang mutlak ada dalam diri lo? Apakah lo merasa nyaman bergaul dengan orang lain tanpa merasa rendah diri?
Apakah lo sudah cukup berani bilang, 'Whatever, this what I am and I love it!'

Kalo gue insecure, gimana dong?
Ya dibikin secure dong! #YouDon'tSay #ditimpuklagi
Serius, nggak ada yang bisa bikin lo merasa aman dan nyaman dengan diri lo kecuali diri lo sendiri. Bahkan bantuan profesional dari psikolog pun tetap harus diimbangi dengan effort yang berasal dari diri lo.
You can pay the psychologist, you just can't buy the security.

Apa gue cari pacar aja ya biar merasa secure?
Ha! Salah!
Menjalin sebuah hubungan yang sehat harus dilakukan oleh dua orang yang sehat juga baik secara fisik dan psikis. Jangan menjadikan ketidak-secure-an lo sebagai alasan buat menjalin hubungan dengan seseorang. Hasilnya bisa jauh lebih buruk dari ini.

Sekian dulu bahasan insecure kali ini,

ps: any comment will be appreciated.. 

Rabu, 20 Februari 2013

Sayang, aku pergi ya?

D(cewek): "Gue kan pergi sama si-H(cowok) bukan karena gue iseng tapi emang si H minta tolong dan dia emang sering nolongin gue. Pacar gue bilang gue emang pingin pergi sama si H. Nggak pernah sekalipun gue mikir kayak gitu. Besides, gue juga bukan tipe cewek kayak gitu (yang suka hang out sama cowok lain padahal udah punya pacar)!"

D (temen gue) baru aja berantem hebat sama pacarnya. Alasan sebenarnya sederhana, pacarnya nggak suka kalo D jalan bareng cowok lain. Tapi D nggak bisa nolak permintaan H buat jalan bareng karena H teman baiknya dan memang sering nolongin dia.


D: "Gue nggak ngerti sama pola pikir dia. Emang sih gue pacarnya, tapi kan cepat atau lambat pasti akan ada situasi yang memaksa gue buat pergi sama orang lain, terlepas dari orang itu cewek/cowok. Gue sih nggak pernah pilih-pilih temen."

Betul! Gue (sekalian curhat) juga sering mengalami kejadian yang sama. Tanpa disangka, gue harus pergi/pulang bareng/stay di kampus sama salah seorang teman karena tugas/tugas/tugas (hahaha!). Hal-hal yang seperti ini nggak bisa dikendalikan, sebagai perempuan (normal) merupakan perilaku yang nggak sopan kalo kita bilang, "Eh, gue boleh nggak absen ngerjain tugas kalo cuma bareng lo? Kalo kita cuma berdua entar pacar gue marah nih." (yakali!)
Trus, supaya kalo ada masalah kayak gini nggak melulu berantem gimana dong?

1. Ceritakan situasinya tanpa menambahkan opini pribadi.
Yang sering nonton Law&Order pasti ngerti banget nih. Salah satu cara mendapatkan sudut pandang yang objektif adalah menceritakan suatu kejadian dari sudut pandang saksi. Misalnya, "Kemarin si X cerita kalo komputernya rusak trus dia tadi minta tolong aku buat anterin dia ke tempat service. Sebelumnya dia udah minta tolong yang lain tapi yang lain lagi pada sibuk."
Udah cukup gitu aja, jangan ditambahi dengan: "Aku kasian deh soalnya kan bla bla bla.." atau "Dia kan baik sama aku, masa aku bla bla bla.."

2. "I'm not asking permission. But because we're partner now, you should know..."
Curhat yang gue terima dari cowok/cewek yang lagi berantem sama pacarnya biasanya diakhiri dengan, "Gue ngerasa nggak dianggep."
Memiliki sebuah hubungan berarti lo harus siap mendiskusikan segala hal yang memiliki potensi konflik dengan partner lo. Ini bukan soal minta ijin/ngasi ijin tapi tentang menghargai keberadaan partner lo dan nanya tentang pendapatnya.
Minta pendapatnya tentang keputusan lo adalah cara lain untuk bicara secara implisit, 'Aku menghargai keberadaanmu, karena itu aku mau tau bagaimana pendapatmu tentang hal ini.'

3. Role play
Bermain peran disini maksudnya adalah meminta dia untuk ada di posisi lo. Misalnya, "Kalo temen kamu (jika perlu sebutkan nama temennya yang tingkat kedekatannya sama) minta tolong, kamu gimana?"
Biasanya kesalahan yang terjadi adalah pertanyaan yang sifatnya menuduh dan memaksakan seperti, "Kalo temen kamu minta tolong juga pasti kamu tolongin kan? Iya kan? Trus kalo temen aku nggak boleh, gitu?!!"

4. "Thanks for your understanding, dear."
Bagi orang-orang tertentu, mengijinkan pasangannya untuk pergi bersama orang lain biasanya menimbulkan perasaan insecure/cemburu dan butuh kepercayaan yang kadarnya nggak kecil. Bagaimapun tipe partner lo, memberikan apresiasi terhadap pengertiannya nggak akan pernah jadi sesuatu yang salah kok. A bit of, "Makasih udah ngerti ya sayang, I love you more.." will be sweet :)
Segitu aja dulu tipsnya, semoga berguna dalam menjalin hubungan yang sehat.
Ps: any comment will be appreciated :)

Selasa, 19 Februari 2013

Writers


Percuma

Seorang teman di tengah perjalanan pulang menuju gerbang kampus sempet nanya ke gue,
"Ul, kamu tau nggak ada lomba ****** (menyebutkan salah satu kompetisi menulis)? Kamu nggak ikut?"

Gue senyum aja.
Salah satu hobi gue selain memenuhi timeline twitter memang mencari list lomba-lomba, sayangnya hobi mencari nggak sejalan dengan keinginan untuk berpartisipasi.

Alasannya?
Gue nggak yakin sama kemampuan gue.

Tiap kali otak mulai mengirimkan sinyal pada jari-jari untuk mengetik,
selalu aja ada alter ego yang memanipulasi pikiran.

Lomba A kan lingkupnya nasional, siapa sih lo berani ikutan?
Lomba B itu esai, kerjaan lo kan curhat di blog. Pointless!
Lomba C kan bukan lomba cerpen kacangan, beda sama kualitas sama cerita yang lo bikin.
Begitu terus menerus sampe nggak ada satupun lomba yang berani gue ikutin.

Akhirnya?
Ide yang gue punya menguap, yang berhasil diselamatkan cuma busuk jadi draft di netbook.

Kadang sering malu sama partner yang bilang, "Percuma kamu rencanain, kamu bikin plotnya, kamu rancang alurnya, kalo akhirnya juga nggak kamu tulis. Percuma."

Iyasih, percuma.
Pemikiran brilian sekalipun jadi percuma kalau dititiskan ke dalam kepala seorang pengecut.

...

Every heart sings a song, incomplete, until another heart whispers back. Those who wish to sing always find a song. At the touch of a lover, everyone becomes a poet. -Plato

Senin, 18 Februari 2013

Angkot

Gue tipe orang yang nggak pernah nanya ke supir angkot (angkutan kota), "Bang, ongkosnya berapa?"

Mungkin karena udah antipati berat sama supir angkot, jadi yang gue lakukan biasanya adalah menaksir (bukan naksir abangnya!) jarak yang dilalui angkot baru kemudian memutuskan berapa ongkos yang bakal gue kasi. Alhamdulillah sampe sekarang belum pernah diteriakin gara-gara ongkosnya kurang.

Partner gue beda, tiap kali turun angkot dia selalu dengan baiknya keluarin dompet trus nanya ke supirnya, "Berapa bang?"

And my face just like:
:|

Alhasil ongkos yang harus dia bayar selalu berkisar antara 2.5K sampe 3K yang mana (menurut gue) termasuk mahal kalo buat naik angkot.

Trus pas lagi bareng gue, selesai bayar angkot, dia dengan polosnya bilang:
"Naik angkot di Bandung tuh murah ya.."

Again, my face just like:
:|

*double poker face*

Eccedentisiast


But sometimes it's easier just smiling and pretend that you're happy than answering people's question why you're not.
Right?

Because he was he

“If you press me to say why I loved him, I can say no more than because he was he, and I was I.” -via @JodohITB

Serius deh gue suka banget sama tweet ini.
Semacam ketulusan yang membuat my heart died for a sec.
:')

Rules of chivalry

#315

Asking how to act like a gentleman? Here are some basic but awesome tips!!

Be punctual
Perhaps the greatest sign of respect, which is what a gentleman is all about, is being on time. Having people wait for you is the equivalent of telling them that you don’t care about them.

Project high moral values
Even if you know that deep down you’re not, appear as if you were virtuous. A real gentleman always comes out of everything smelling like a rose.
- In addition to the aforementioned rules, gentlemen (in training) should follow these additional rules when in the presence of a lady. Chivalry may be on life support, but it is not dead yet. Be one of the few to keep this flame burning for many years to come.

Always open doors
This is perhaps the most basic rule of male etiquette out there. It is also one of the easiest to follow so you have no reason to forget it. Whether she is about to enter your car, restaurant, club, or anyplace with a door, you should always hold it open. If there are many doors, then hold them open one after the other.

Put on her coat
Always help a lady put on her coat or overgarment. This is a simple but powerful action.

Help with her seat
If an unaccompanied lady is sitting next to you, it is important that you help her be seated by pulling her chair out for her and gently pushing it back into place, with the lady seated of course.

Give up your seat
If a lady arrives at the table and there are no available seats, you should stand up and offer yours to her.

Stand at attention
Always stand when a lady enters or exits the room. This rule has been somewhat relaxed, so you can stand upon entrance but remain seated upon exit. Nonetheless, if you can do both, you should.

Give her your arm
When escorting a lady (that you know) to and from social events, you should offer her your arm. This is a little more intimate, but serves well when walking on uneven ground — especially if she’s wearing high heels.

Ask if she needs anything
This is one that most guys already do, but helps complete the gentleman in all of us nevertheless. When at social events, make sure to ask the lady if you can get her something to drink (or eat, depending on the event). Show her that you care about her comfort and needs.

*source: http://therulesofagentleman.tumblr.com/page/6 

a snap

Hahaha.
Pertama kali liat udah langsung inget ini deh..

Thanks, you.

...

Tidakkah engkau tahu, singa ditakuti karena dia pendiam, sedangkan anjing dijadikan mainan karena dia menggonggong -Imam Syafi'i

Partner, bukan follower

"Kalau kamu mencari seseorang untuk mengikutimu, menuruti apapun yang kamu perintahkan, melakukan apapun yang kamu inginkan, kamu salah orang. Kamu boleh ketuk pintu hati orang lain, yang jelas bukan pintu hati saya.."

Gue sama sekali bukan feminis.
Tapi dalam hubungan, psinsip yang gue anut ini serius.
Gue mencari partner, bukan ketua.
Gue siap menjadi partner, bukan follower.

Gue nggak mau jadi perempuan yang 'iya iya aja' saat dia memutuskan sesuatu (apalagi yang mempengaruhi hidup gue), gue mau tau kenapa, apa alasannya, lalu gue akan memberikan pandangan gue, dilanjutkan dengan diskusi dan pengambilan keputusan.

Bukan, gue juga bukan cari lelaki yang 'iya aja deh asal kamu nggak bawel'.
Seriously, lelaki yang prinsip hidupnya begitu imo adalah lelaki yang takut kalah saing sama pemikiran perempuannya.

Lagi, gue mencari partner.
Gue mencari lelaki yang mau duduk semeja, mendengarkan, lalu menerima bahwa dia dan gue punya hak yang sama dalam berbicara.
A guy with verrrryyyyy big heart and great thoughts.

Sekali lagi, gue bukan feminis.
Gue masih tersanjung dengan caranya membukakan pintu buat gue,
sama seperti gue dengan senang hati menurunkan nada bicara menjadi lebih rendah dari nada bicaranya dalam situasi apapun.

We both deserve respect.

Btw, gue jadi teringat quote ini deh:
"Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring." -Dewi 'dee' Lestari (dalam Filosofi Kopi)

The whole point


Aku serius

"Jaga nada bicaramu saat bicara padaku, bahkan dalam marahmu. Ayahku tidak mempercayakan anak gadisnya hanya untuk diperlakukan tidak pantas olehmu."

"Ibu selalu menjagaku dari apapun yang bisa melukaiku. Sebelum berjanji menjagaku dari orang lain, jaga aku dari dirimu sendiri. Melukai sesuatu yang harusnya kamu lindungi dari orang lain bukan lelucon yang ingin kutertawakan."

"Jangan pernah. Aku ulangi, jangan pernah menyentuhku tanpa ijinku. Jangan pernah menyentuhku bila kamu berniat melampiaskan marahmu."

"Saat marah menguasaimu, diam, pergi. Bicaralah saat suasana hatimu membaik. Seperti aku menghormatimu dengan menjaga nada bicaraku saat berbicara denganmu"

Alena Takut Gelap

Sembari duduk memeluk lutut, gigi Alena gemeletuk merasakan dingin angin yang berhembus perlahan. Senter di tangannya mati, setelah tiga jam menyala tanpa henti baterainya pasti sudah habis sekarang.

Itu dia, sosok yang ditunggu Alena sejak tadi. Zeva setengah berlari menemui Alena, nafasnya memburu. Saat melihat Alena terduduk di atas trotoar sambil melirik kesal, Zeva tertawa. “Ya ampun Len, gue beneran nggak ngerti sama lo. Kita udah dua puluh tahun Len, dua puluh tahun,”

Alena berdiri, menyambar selimut yang dibawa Zeva sambil mendengus sebal. “Semua orang punya ketakutannya sendiri Zev,” balasnya dengan nada yang sedikit meninggi. “Kamu parkir dimana?” tanyanya sambil memakai selimut yang dibawa Zeva sekedar untuk menghangatkan diri.

Zeva tak menjawab, dahinya berkerut menyadari bahwa tak ada alas kaki yang dipakai Alena. “Lo kan bisa bawa jaket, atau seenggaknya pake sendal deh. Masa iya lo nggak kepikiran buat ngelakuin sesuatu selain lari keluar rumah,”

Seperti sudah kebal dengan kata-kata Zeva, Alena berjalan saja di samping sahabatnya itu. Toh cepat atau lambat Zeva pasti menuju ke tempat mobilnya diparkir.

“Gue beliin kentang goreng sama burger tadi, nggak sempet makan kan lo?” ucap Zeva begitu mereka berdua memasuki mobil. Alena hanya melihat kertas pembungkus berwarna coklat yang diberikan Zeva lalu menggeleng. “Yaudah, kalo mau makan ambil aja ya,”

Alena tak menjawab, kepalanya pusing, matanya berat. Setelah menurunkan sandaran kursi, ia terlelap.

...

Seorang gadis kecil, terisak-isak sambil memukul pintu dengan kepalan kecilnya. Ia tak tau pasti berapa lama sudah terkurung disini, ia hanya tau ayah marah. Ayah marah karena dia tak menghabiskan makanannya. Ayah marah karena dia mencoreti dinding kamar dengan pensil warna. Dan seperti biasa kemarahan ayah selalu berujung di hukuman yang sama.

...

Seorang senior marah-marah di depan, entah alasannya apa. Semua juniornya menunduk, tak jelas karena merasa bersalah atau takut dengan tampang seram si senior galak. “Kalian sudah memasuki SMA, Sekolah Menengah Atas!! Mana contoh kedewasaan kalian? Mana bentuk hormat kalian pada senior? Jawab!!!”

Kelas hening.

Si senior makin besar nyali. Ditariknya seorang siswi yang duduk di paling depan, “Tutup mata kamu,” bentaknya sambil menyapu seluruh ekspresi junior lain yang was was.
Siswi yang ditunjuk ke depan menggeleng takut.

“KENAPA?” tanya si senior setengah memaksa. Dia lalu melepas dasinya dan berjalan mendekat, hendak menutup mata siswi junior yang keras kepala.

Siswi tadi lantas melawan, bergerak sebanyak yang dia bisa, tangisnya pecah. Seluruh isi kelas tak mengerti alasannya. Si senior langsung ciut melihat responnya. Sekarang semua orang menganggapnya kurang waras.

...

Zeva memandangi Alena yang tertidur pulas. Brengsek, selalu saja ada sensasi aneh yang memenuhi perutnya tiap kali melihat Alena.

Sensasi yang membuat otot pipinya mengendur pelan, menggelitik saraf tawa, dan memunculkan kebahagiaan aneh yang tak bisa dijelaskannya.

Alena menggumam pelan, “Zev,”

“Ya?”

Sepi. Tak ada jawaban. Senyum Zeva mengembang.

Apapun, akan dilakukannya apapun untuk Alena.

...

“Udah kapok kamu?” ayah membuka pintu, suaranya masih sekasar tadi.

Alena merangkak ke kaki ayahnya, memeluk kaki sang ayah sambil menangis sesenggukan. “Lena takut, jangan kurung Lena lagi ayah,”

Ayahnya diam, lalu pergi meninggalkan Alena kecil yang bahkan terlalu letih untuk mengejarnya. Tangis sudah menghisap tenaga yang tersisa dari Alena.

...

Zeva menghampiri siswi yang berdiri dengan satu kaki di depan tiang bendera. Alisnya naik sebelah, “Ngapain lo?”

“Dihukum senior,” si siswi menjawab cuek sambil terus menghadap ke depan.

“Ngapain emangnya?” tanya Zeva sambil ikut berdiri di sebelahnya lalu mengangkat satu kakinya juga. Setelah mengisi roti lapis yang ditujukan untuk seniornya dengan kecoak mati, dia dihukum berdiri di depan tiang bendera sampai waktu yang belum pasti.

Siswi yang tadinya cuek, sekarang menoleh ke arahnya. “Nangis,”

Zeva mulai menangkap maksudnya, “Elo yang nangis sambil ngamuk tadi pagi ya?”
Mendengar pernyataan teman barunya, Alena mengernyit heran. Berita ini pasti sudah menyebar ke satu sekolah, buktinya bukan hanya teman sekelasnya saja yang tau. Lagipula dia tidak merasa sudah mengamuk, dia hanya ingin meloloskan diri dari perintah seniornya.

“Gue Zeva,”

“Alena,”

...

Alena membuka mata, melirik jam yang ada di mobil Zeva.

“Zev, ini udah jam sembilan,” katanya sambil mengguncang bahu Zeva.

Zeva terbangun, “Gue baru tidur dua jam yang lalu Len,” katanya hendak memejamkan mata lagi. Kepalanya masih pening, minuman energi yang semalam diminum untuk tetap terjaga seperti sudah habis efeknya.

Mendengar jawaban Zeva, Alena heran, “Kamu begadang semaleman? Kenapa?” tanyanya masih terus berusaha membangunkan Zeva, ada jam kuliah yang sudah mereka tinggalkan pagi ini. Kalau Zeva belum bangun juga, mata kuliah kedua juga akan terlewat.

Zeva dengan morning voice yang serak menjawab, “Gue takut kalo lo bangun dan masih gelap, ntar lo takut,”

“Kamu? Kamu bangun semaleman buat jagain aku?”

“Iya,” Zeva menggeliat malas. “Udah deh ah gue mau tidur ngga usah bawel,”

Kepakan-kepakan sayap kupu-kupu dalam perut Alena makin terasa. Lesung pipit yang ada di pipi kirinya muncul malu-malu. Zeva, dimana lagi bisa kutemukan yang seperti kamu?

Apa adanya

"Cewek tuh pingin loh dicintai apa adanya dia, meskipun mungkin suatu hari kamu dateng ke rumahnya pas dia baru bangun tidur dan belum mandi. Atau pas rambutnya berantakan, pas mukanya jerawatan gara-gara pms."

"Kata siapa cowok nggak kayak gitu? Cowok juga mau kali dicintai apa adanya, meskipun nggak bawa Ninja, meskipun nggak bawa mobil, meskipun yang baru bisa dikasi ke ceweknya cuma perhatian dan kepedulian."

:)

Tarik dan hembus nafas

Lucu ya, hidup makin rumit seiring dengan banyaknya tarikan dan hembusan nafas kita.

Menunjukkan 'sayang' nggak lagi semudah ngasi sebungkus chiki ball sambil bilang, "Aku suka deh sama kamu, nih buat kamu."

Mempercayai seseorang yang akan kita sematkan 'label' sahabat nggak lagi segampang, "Kamu mau anterin aku ke kamar mandi, nggak?"

Dan yakin sama ketulusan orang nggak lagi sesederhana, "Kamu lupa bawa pensil warna? Nih pake punyaku aja."

*efek ketemu twitter temen SD dan menyadari bahwa bukan cuma dia yang berubah, gue juga.

Cats to stay

I love cats, I really do..
They're definitely adorable.. :3
Nyaaw~

Ibu memang spesial

"The pain a woman experiences while giving birth is similar to getting burned alive. #respect" -via @thegooglefact

My first expression while reading that tweet is:
Ketakjuban yang kemudian dilanjutkan dengan pemahaman mengapa ibu mendapatkan tempat yang spesial dalam Firman Allah. Sekarang mengerti juga mengapa surga ada di telapak kakinya.
 

Template by Best Web Hosting