Sabtu, 21 Desember 2013

You are, dear.

Lila menggigit bibir, sudah seharian ini Milka sulit dihubungi. Entah pada percobaan panggilan ke berapa, baru akhirnya terdengar sapaan di ujung panggilan.

"Halo, sayang," suara Milka lembut, seperti biasa.

Lila menghela nafas, "Kamu kemana aja sih Ka? Aku udah telpon berkali-kali dari pagi, tapi nggak diangkat,"

Milka tertawa kecil, tiap kali Lila bicara cepat bercampur gemas Milka memang selalu tertawa. "Aku masih baca buku untuk tesis aku, La. Maaf ya, hp-nya aku silent,"

Lila diam, pikirannya menerawang ke beberapa bulan lalu.

...

"Susah banget ya emangnya hubungin aku? Aku cuma minta kamu ngabarin aku aja Rey, aku khawatir,"

Laki-laki yang diajak bicara menjawab dengan suara tinggi. "Kamu kira urusan aku cuma ngabarin kamu? Aku punya banyak urusan disini, La. Banyak yang lebih penting!"

...

"Sayang?" Milka memanggil setelah menyadari tak ada lagi suara Lila yang keluar. "Sayang, are you okay?"

Lila terkejut, cepat-cepat menjawab. "I'm fine. Yaudah kamu lanjutin aja ngerjain tesisnya. Maaf ya Ka,"

"Maaf?"

"Iya, maaf. Harusnya aku nggak bawel minta kamu hubungin aku. Toh, masih banyak yang lebih penting yang harus kamu kerjain," lanjut Lila dengan suara parau. Ada sakit yang tersisa dari hubungan terdahulu.

Milka diam, ada yang salah. "Lila, sayang. Kamu penting buatku. Kalau kuselesaikan tesis ini tanpa kamu di sampingku, buat apa? Aku mau kamu, Lila. Bukan cuma hari ini, tapi di masa depan juga. Tesis ini cara nyata aku mempersiapkan masa depan untukmu, La."

...

"You're my whole world, Shakarim." -K

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting