Selasa, 17 Desember 2013

Tiga Ospek

Setelah membaca berita tentang Kematian Mahasiswa karena Ospek, gue merasa perlu untuk membagi pengalaman gue yang berkaitan dengan Ospek. Basi sih, tapi blog juga blog gue, jadi terserah gue kan? #IyainAja

Pertama kali berkenalan sama ospek ya waktu SMP.
Diminta bawa barang aneh-aneh, dateng pagi, dan minta tanda tangan senior untuk memenuhi kolom tanda tangan di buku panduan siswa baru.

Jaman ini, sebagai siswa baru kita nurut-nurut aja sama perintah senior.
Gue malah pernah diminta memperagakan jadi stripper meskipun akhirnya nggak jadi karena mematung depan kelas (maklum masih polos, belum ngerti apa itu stripping).

Senior 1: "Eh kamu, maju ke depan."
Gue : *nurut*
Senior 2: "Enaknya diapain ya,"
Senior 3: "Suruh nari erotis aja,"
Gue : *diem* *ngga ngerti itu tarian dari daerah mana*
Senior 1: "Tuh, kamu denger kan?"
Gue : "Itu kayak gimana ya kak? Boleh dicontohin dikit ngga?"
Senior 1: *liat ke senior 2*
Senior 2: *liat ke senior 3*
Senior 3: *ambil kursi* *kayaknya mau ngasi contoh*
Gue : *merhatiin baik-baik*
Senior 1: "Eh eh, ngga jadi. Udah deh kamu nyanyi aja."
Senior 2: "Iya, udah ngga usah. Kamu nyanyi pelangi-pelangi aja."

-_____-"

Ospek kedua, SMA.
Lebih aneh, lebih menyebalkan.
Soal tugas yang banyak dan bawaan yang memang dibutuhkan seperti bekal makanan memang logis. Tapi senior yang sepanjang hari teriak tak peduli apapun yang kita perbuat agak membingungkan.

Senior: "DEK, KALIAN SENYUM DONG DEK. PELIT AMAT SIH NYAPA SENIORNYA."
Junior: "Iya kak,"
Senior: "JANGAN IYA-IYA AJA, LAKUIN!"
Junior: *diem*
Senior: "DENGER NGGA? KENAPA DIEM AJA? BISU?"
-..-

atau

Junior: *senyum*
Senior: *tampang jutek*
Junior: "Siang kak,"
Senior: "SAYA MUAK LIAT SENYUM PALSU KAMU DEK!! MUAK SAYA!"

Yaudahlah.

Ospek terakhir, waktu jadi mahasiswa baru.
Tanpa melebih-lebihkan fakultas sendiri, proses PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) fakultas emang kece luar biasa. Nggak ada acara teriak-teriak nggak bermakna. Baik panitia dan peserta memiliki hak yang sama baik dalam berpendapat maupun melakukan negosiasi perjanjian tertentu.

Setelah menjadi mahasiswa Psikologi, baru gue tau bahwa PMB yang dijalankan di fakultas bukan sekedar berdasar pada common sense tapi juga teori dan metode yang dipertimbangkan masak-masak oleh panitia.

Tujuan PMB dibuat dari kebutuhan, yang lalu diturunkan ke indikator-indikator perilaku. Blah! Proses merancangnya panjang dan melelahkan, jendral!!

Melihat proses ospek di SMP dan SMA, juga membaca berita tentang penerimaan penyiksaan mahasiswa baru yang sampai merenggut korban jiwa....
Allah, aku tau Kau tak pernah tidur.

Allah, aku tau Kau Maha Mendengar doa ibu yang anaknya mati sia-sia akibat perilaku maha tolol mahluk-mahluk yang bangga menyebut dirinya mahasiswa.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting