Rabu, 18 Desember 2013

Makin bertanya, makin menyesatkan

Beliau adalah  dosen yang sosoknya sangat menginspirasi dan sudah beberapa kali dituliskan di blog ini. Pintarnya, jangan ditanya.
Baik kemampuan dalam bidang ilmu yang beliau tekuni dan kemampuan mengajarnya sama-sama luar biasa.

Dalam satu pertemuan, beliau memberikan sebuah tugas. Di akhir penjelasan mengenai konten tugas yang harus dibuat, seperti dosen pada umumnya beliau juga mengumumkan tenggat waktu. "Dikumpulkan hari Rabu ya,"

Lalu seorang dari kelas bertanya, "Jam berapa, Mas?"
(panggilan Mas tidak memiliki korelasi dengan umur beliau, melainkan hanya budaya fakultas yang tidak memanggil dosen dengan sebutan Pak/Prof tapi lebih ke Bang/Mas/Kang)

Beliau lantas tersenyum, "Kalian lucu ya. Mau-maunya bertanya untuk menyulitkan diri sendiri. Lain kali kalau ada dosen yang bilang deadline tugasnya hari Rabu, jangan ditanya jam berapa. Secara teknis, hari Rabu jam 23.59 pun masih terhitung hari Rabu kan?"

...


Dua minggu lagi UAS, fakultas memiliki toleransi antar agama yang cukup tinggi sehingga mengubah jadwal ujian yang seharusnya ada pada hari raya Natal sampai Tahun Baru menjadi lebih awal. UAS dijadwalkan selesai sebelum hari raya Natal.

Hampir semua dosen berlomba-lomba untuk memberikan tugas individu. Apalagi tujuannya selain menambah kolom nilai kami karena ada beberapa mata kuliah yang jumlah pertemuannya terpotong cukup banyak.

Pada mata kuliah Psikodiagnostika III juga sama. Kami diminta membuat laporan wawancara secara individu yang melibatkan orang luar (bukan mahasiswa psikologi) sebagai interviewee (orang yang diwawancara).

Wawancara yang dimaksud bukan sekedar mengobrol, tapi dimulai dari menyusun panduan wawancara berisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang diturunkan dari kompetensi yang ingin digali dari interviewee. Kompetensi tersebut juga harus sesuai dengan tujuan wawancara. Teknik yang digunakan bukan wawancara tradisional, artinya kami harus menyiapkan betul-betul tugas ini.

Jangan lupa juga laporan verbatim (laporan percakapan wawancara persis kata per kata yang diucapkan) dan kesimpulan kompetensi interviewee yang harus dikumpulkan.

Kelas ricuh, mengingat tugas-tugas lain yang menunggu untuk dikerjakan, tugas berbentuk pratikum pasti akan menyulitkan kami. Lalu setelah dosen mengucapkan konten tugas, ada mahasiswa yang bertanya:

Mahasiswa 1: "Mbak, apa perlu direkam dengan video ya?"
Dosen: "Ngg, iya.. Tolong rekaman audiovisualnya dikumpulkan ya."

Oke. Tugas bertambah.

Mahasiswa 2: "Mbak, itu referensi panduannya gimana?"
Dosen: "Ya, lampirkan juga referensi panduannya. Baik berupa buku atau wawancara terhadap narasumber."

Great!

Mahasiswa 3: "Mbak, bajunya gimana?"
Dosen: "Menggunakan pakaian resmi. Ruangannya juga harus terstandar ya, jangan lesehan (duduk di lantai)."

Rrrgh!!

Mahasiswa 4: "Dikumpulinnya minggu depan waktu mata kuliah ini ya Mbak?"
Dosen: "Ya, dikumpulkan paling lambat minggu depan setelah pertemuan selesai ya."

Untung nggak ada yang sampe nanya,
"Mbak dikumpulinnya harus di meja dosen atau loker dosen? Pake tangan kanan atau kiri? Di sebelah kiri meja atau sebelah kanan meja? Berdoa dulu apa enggak?"

Atau sekalian aja,
"Mbak waktu ngumpulin saya harus pake baju dalem warna apa ya?"

Please~

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting