Minggu, 22 Desember 2013

Happy Mother's Day

Halo Mama,
Selamat hari ibu yang lagi-lagi tak berhasil kurayakan di rumah.
Aku rindu.

Aku rindu senyummu, tiap kali aku datang dan memeluk manja.
Aku rindu caramu memberikan pelajaran-pelajaran kecil namun berharga tak terkira.
"Nduk, gini caranya motong buncis. Masak itu bukan cuma soal rasa tapi juga tampilannya nduk,"

"Nduk, kamarmu mbok yang rapi. Jadi Nyonya rumah itu harus peduli sama rumah nduk."

"Nduk, ayo sini bantu mama masak. Kamu mau suamimu lebih milih makan di luar ketimbang makan masakanmu?"
Jadilah aku, bersungut-sungut membereskan kamar, bersungut-sungut belajar memasak sampai hafal di luar kepala. Namun terasa saat mulai beranjak dewasa, dapur bukan tempat yang asing untukku. Meskipun soal kerapian, ah sudahlah.

Kalau bukan karenamu, siapa lagi yang mampu mengajari si gadis keras kepala ini?
"Perempuan harus pintar dalam banyak hal nduk. Perempuan harus banyak belajar," ujarmu suatu hari. Aku mendengus, kesal.

Perempuan harus pintar, perempuan harus mahir mengolah bahan masakan, perempuan harus peka, perempuan harus bisa menjaga nama baik keluarga dan suami.

"Laki-laki yang hebat, butuh partner yang seimbang dalam diskusi. Belajar nduk, anak-anakmu berhak dididik oleh ibu yang cerdas,"

Darimu aku belajar. Ini bukan soal hanya memenuhi kecukupan standar, ini tentang menciptakan standar yang tinggi dan berusaha melampauinya.
"Tak ada lelaki sempurna, nduk. Tapi kamu bisa memberikan yang terbaik yang kamu punya. Niscaya dia akan lebih keras berusaha untukmu, untuk anak-anakmu kelak."

"Menikah bukan soal memburu waktu, kamu boleh menikah kapanpun kamu mau. Aku mau kamu bahagia, lebih dari saat masih menjadi anak gadisku satu-satunya,"

Ah, mama.
Mama tau itu tak mungkin kan, ma?
:')
Ma, kamu satu-satunya alasanku tetap berpegang teguh pada keyakinanku soal titian karir. Saat semua berlomba menyalahkan wanita karir atau rusaknya rumah tangga, saat semua menyalahkan minimnya waktu bertemu sebagai rasionalisasi perselingkuhan, aku bahagia dibesarkan olehmu.

"Meniti karir bukan soal uang, nduk. Tapi soal berpikir, tetap memutar otakmu supaya tak membeku. Butuh laki-laki hebat untuk membiarkan istrinya keluar rumah dan bergaul. Butuh lelaki hebat yang tetap percaya bahwa jenjang karir tak akan membuat perempuan menjadi arogan,"
Oh, terakhir.
Beberapa kutipan yang sering membuat dahiku mengernyit heran.
Kutipan yang seringnya membuatku bersyukur menjadi satu-satunya gadismu.

"Tadi mama ke pasar, pulangnya ada kucing kecil, kayaknya sakit. Mama kasihan, trus minta ijin Papa untuk bawa ke rumah dan ngerawat. Mama beliin susu, beliin makanan kucing. Sekarang lagi tidur, baru selesai mama suapin susu."

"Mama mau beli susu kotak satu dus. Kalau lihat anak kecil yang ngamen di jalan, mau mama kasi susu aja,"

"Ayo nduk, baju-baju bekas yang sudah nggak dipakai di-pack. Nanti mau mama kasi ke orang yang butuh. Buku dan mainan-mainan yang sudah nggak dipakai juga di-pack ya.. Sepatumu juga. Buat apa punya banyak tapi nggak berguna? Banyak yang butuh, nduk."

And raised by a mother like you,
I'm sure I will never get lost.

Happy Mother's Day, Mam.
I love you, I love you always.
:)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting