Senin, 16 Desember 2013

(bukan) Perempuan Baik

Januari 2013

"Aku mencintaimu, kamu tau kan?" ujar Zandi sambil memelukku dari belakang.

Aku diam, mengamati tetes-tetes hujan yang saling berlomba melalui kaca jendela. Bandung selalu hujan sore hari, hal itu menghalangi aku pergi ke luar. Aku alergi hujan.

Zandi menghela nafas, dia tau diamku sama sekali bukan pernyataan 'iya' yang pasif. "Itu cuma kain, sayang. Tak akan mengurangi sedikitpun cantikmu,"

Sudah tiga bulan ini, Zandi memintaku mengubah banyak hal. Nyaris semuanya. Kebiasaanku pulang larut malam, mampir dan mengobrol di bar dengan teman-teman sekantor, sampai yang ini.

"Jilbab akan membuatmu makin menarik," sekali lagi, Zandi berusaha meyakinkanku.

Aku perlahan melepaskan diri dari pelukannya. "Jangan mengajukan alasan lain. Ini semua untuk ibumu, kan?" tanyaku, mulai kesal. Kami sudah berpacaran selama tiga tahun dan Zandi masih enggan mengenalkanku ke keluarga besarnya karena satu alasan. 'Ibu mungkin nggak cocok sama pakaianmu.'


"Salah kalau ibuku mau punya menantu baik-baik?" tukas Zandi, tak lagi berbicara dengan gaya persuasi. "Semua orang tua mau anaknya dapat pasangan yang baik, Citra,"

"Kalau baik dan tak baik dinilai dari selembar kain. Maka Tuhan tak akan repot menimbang amalan kita, Zan," aku melunak. Tolol rasanya kalau harus adu argumen karena masalah sepele.

"Apa sulitnya buatmu? Itu cuma soal penampilan," Zandi tetap bersikeras, tak menggubris pendapatku.

Aku tersenyum, memalingkan muka. "Ya, itu cuma soal penampilan. Apa sulitnya buatmu menjelaskan pada ibu kalau tidak semua perempuan dengan rok pendek itu murahan? Sama seperti tidak semua perempuan dengan jilbab mampu menjaga baik-baik kesuciannya,"

"Aku capek terus-terusan bertengkar dengan topik yang sama, Cit. Kamu boleh pilih, mengubah penampilanmu atau menyelesaikan semuanya hari ini,"

Ada sakit yang mengiris, sebentar. Namun egoku kemudian mengambil kuasa, "Aku memilih bersama dengan laki-laki yang mau menerimaku. Bukan masalah kalau memang bukan kamu orangnya,"

...

Desember 2013

"Sayang, nanti pulang terlambat?" Darren bertanya dengan latar belakang suara klakson-klakson mobil. Pacarku ini pasti sedang terjebak macet Jakarta sore hari.

Aku berdehem, mencari jawaban yang tepat.

"Kalau banyak kerjaan, it's okay. But take care yourself. Don't skip your meal," sambung Darren tanpa keluhan. Sudah dua rencana kencan harus kubatalkan demi mengejar tenggat waktu pekerjaan yang makin lama rasanya makin gila.

"Siapa bilang? Aku ada agenda malam ini, menemani kamu minum. Jadi kalau kamu mabuk, aku bisa bawa mobilnya," ujarku bersemangat, sambil merencanakan untuk ijin tidak mengikuti rapat redaksi malam nanti. Ada yang lebih penting dari sekedar promosi jabatan sebagai upah lembur hampir setiap hari.

Darren tertawa, "Don't ever think about it. Aku nggak akan mabuk dan memberikanmu kesempatan pergi dengan laki-laki lain,"

"I must be drunk to leave you, darl."

Darren tertawa, menyenangkan seperti biasa. "Oh iya, lusa Ayah ulang tahun. Kamu ingat kan?"

"Ya, aku ingat. Aku harus pakai baju apa? Ayah suka dibawain apa?"

"Pakai apapun, asal nggak telanjang. Dibawain calon menantu juga Ayah udah seneng kok. Biar sekalian bisa ngobrol dan kenal seperti apa calon ibu dari cucu-cucunya,"

"..."

"Citra, I love you,"

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting