Senin, 09 Desember 2013

Alasan Lelaki

Baru-baru ini terlibat pembicaraan dengan seorang laki-laki hebat. Entahlah, mungkin pendapat yang satu itu murni subjektif hasil dari rasa tersanjung sebagai perempuan. Tapi saya boleh kan menyampaikan hal yang murni opini? Toh tidak ada ketentuan untuk lebih dulu menguji opini saya dengan metode tertentu.

Sebelumnya, ini pembicaraan dengan seorang rekan sekitar setengah tahun lalu:

A: "Bagaimana menurutmu tentang perempuan yang bekerja setelah menikah?"
H: "Biasa saja,"
A: "Kalau kuganti subjeknya, istrimu misalnya?"
H: "Boleh. Asal dia akan ada di rumah sebelum aku ada di rumah. Kapanpun aku di rumah, dia pasti ada dan menyiapkan semua keperluan rumah, mengerjakan tugas rumah, mengurusi anak-anak. Lagipula tidak ada salahnya kan mendapatkan penghasilan tambahan untuk menghidupi rumah tangga?"
A: "Baiklah."

...
Dan ini jawaban si laki-laki hebat:

K: "Perempuan harus bekerja."
A: "Oh ya? Kenapa?"
K: "Supaya bisa punya knowledge yang setara dengan suaminya, knowledge maintains communication. Perempuan bekerja akan punya banyak stuff to do, dia akan pintar, dan memahami perkembangan dunia. You know, manusia harus tetap berfikir supaya berkembang."
A: "Ya, dia juga bisa membantu secara finansial."
K: "No, saya cuma mau dia punya kegiatan dan develop her thoughts. Sebagai laki-laki, it's my responsibility untuk menghidupi istri dan anak-anak. Dia (istri) boleh pakai uang dia untuk apapun dan itu sama sekali bukan urusan saya. Tapi berapa yang dia minta (untuk kebutuhan rumah tangga) itu jadi urusan saya (untuk dipenuhi). Saya cuma minta dia bekerja untuk knowledge, that's it."

And my father has the exactly same thought, Sir..

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting