Rabu, 13 November 2013

Tiga Komponen Komitmen

Di sebuah seminar yang temanya 'Kekerasan Dalam Pacaran' gue mengajukan sebuah pertanyaan ke narasumbernya yang merupakan psikolog dan dosen yang sangat gue kagumi (@bangjeki). Dari jawaban beliau, gue mendapatkan sebuah poin penting:

'Usia hubungan TIDAK menggambarkan keberhasilan atau kebahagiaan hubungan tersebut.'

Lama/tidaknya sebuah hubungan, berkaitan dengan komitmen kedua orang yang terlibat dalam hubungan tersebut. Supaya jelas, gue menyertakan pengertian komitmen menurut Merriam-Webster 

 
Beberapa waktu yang lalu, saat mempelajari mata kuliah Psikologi Organisasi, gue menemukan istilah affective commitment, continuance commitment, dan normative commitment dalam bahasan The Three Component Model of Commitment.

Bahasan tentang model komponen dalam komitmen ini gue coba terapkan dalam hubungan romantis. Kenapa? Karena menurut gue pada dasarnya komitmen dalam sebuah hubungan nggak jauh berbeda dengan komitmen dalam organisasi, yakni mengikat individu untuk tetap mempertahankan keberadaannya dalam hubungan tersebut.

Affective commitment adalah komitmen yang muncul karena adanya ikatan perasaan yang kuat, kalau komitmen yang muncul dalam hubungan adalah affective commitment maka individu enggan meninggalkan pasangannya karena perasaan kasih sayang. Komitmen ini bisa tumbuh karena adanya kepuasan dalam hubungan dan perasaan positif yang ditimbulkan karena keberadaan individu dalam hubungan tersebut (diperhatikan, dihargai, dsb).

Continuance commitment muncul karena individu merasa adanya kehilangan yang ditimbulkan kalau meninggalkan hubungan. Komitmen ini dapat dikatakan melakukan 'perhitungan' terhadap keuntungan dan kerugian yang akan didapat oleh individu. Continuance commitment cenderung muncul pada individu yang memiliki hubungan yang umurnya sudah cukup lama sehingga alasan untuk tidak berpisah bisa jadi: "Kalau putus, sayang udah sekian tahun pacaran." atau "Orang tua udah saling kenal, jadi sayang kalau putus."

Normative commitment, sesuai dengan namanya adalah komitmen yang bersifat normatif. Artinya, individu bisa saja merasakan ketidakbahagiaan dalam sebuah hubungan namun tetap mempertahankannya karena merasa bahwa hal tersebut adalah hal yang 'benar' untuk dilakukan. Misalnya pada pasangan suami istri yang sudah memiliki anak atau usia pernikahannya sudah lama.

Meskipun tiga komponen ini berbeda-beda namun seorang individu bisa saja merasakan lebih dari satu komponen dengan kadar yang bervariasi. Namun komponen yang dirasa paling baik adalah affective commitment karena ndividu dengan affective commitment akan memiliki usaha yang lebih dalam mengembangkan dan menyelesaikan masalah yang ada dalam hubungan tersebut.

More Qs, please mention me!
Ciao!

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting