Senin, 18 November 2013

International Students Summit 2013 (part 2)

Seperti orang Indonesia kebanyakan, gue juga menganggap bahwa badan mungil, kulit putih, dan hidung mancung merupakan indikator kecantikan.

Ah, jangan lupa juga kalau bisa ada campuran keturunan asing yang makin kental kadarnya makin baik dan dianggap cantik.

Saat dipercaya sebagai LO (Liaison Officer) sebuah acara pertemuan internasional, gue mendapatkan banyak sekali self esteem booster dari teman-teman yang merupakan mahasiswa asing.

Me and Anvar from Uzbekistan
Culture yang berbeda juga membuat teman-teman mahasiswa asing lebih terbuka dalam memberikan pujian (dan kritik, tentunya). Hal ini agak berbeda dengan culture Indonesia yang cukup hemat pujian, hehehe.

Semua yang gue anggap sebagai kekurangan seolah-olah berubah jadi anugerah selama beberapa hari.

Luai from Jordania
Mulai dari warna kulit yang kecokelatan, bentuk hidung yang pesek (tapi disebut cute oleh teman-teman yang berasal dari negara dengan keturunan hidung mancung), sampai bentuk tubuh yang menurut gue agak gemuk tapi dianggap bagus oleh mereka.

Padahal siapalah gue kalau di kampung sendiri. Masuk kategori cantik, enggak.
Pinter pun enggak. Kalau cerewet dan banyak makan sih pasti! Hahaha..


Oussou from Senegal
Menurut gue sih semua orang pasti akan menganggap sesuatu yang rare dan tidak dipunyainya sebagai sesuatu yang indah dan menarik. Semacam teori, 'Rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau'.

Melirik rumput halaman tetangga itu boleh, tapi akan semakin baik kalau bangga dengan rumput di halaman sendiri, kan?
:)

Back: Luai-Audry-Lidy-Aulia-Tsiry-Anvar
Front: Dirami
Berhubung sedang bertugas, jadi hanya sedikit kesempatan untuk berfoto.
Tapi semuanya terbayar dengan momen dan persahabatan yang terjalin,
meskipun tidak diabadikan lewat gambar digital.
:)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting