Sabtu, 23 November 2013

Melewatkanmu

"Mungkin tanpa sadar kalian memang memiliki perasaan satu sama lain," ujar Renata, yang biasa disapa Ata sambil menepuk-nepuk punggung Fayra. Fayra diam, tak ingin menanggapi, entah lelah menyangkal pernyataan Ata atau takut bahwa sesungguhnya itu memang benar.

Fayra menarik napas, "Selama ini aku hanya menganggapnnya teman, Ta," 

Ata tersenyum prihatin, biasanya dia akan meledeki Fayra habis-habisan kalau sahabatnya mulai menyangkal seperti ini, tapi melihat rona wajah Fayra yang sedih rasanya itu tidak tepat dilakukan. "Kita tidak memilih dengan siapa kita jatuh cinta Ra, atau siapa yang bisa mencintai kita."

"Tapi aku masih bersama Alan," beberapa detik kemudian Fayra merasa asing dengan nada kalimatnya sendiri. Diam-diam Fayra meragukan keinginannya, apa memang dia menginginkan kesempatan untuk menjalin hubungan yang lain bersama Reyhan?

...

Reyhan mengepalkan tangan, berusaha mengendalikan amarah yang tiba-tiba mendesak keluar dari rongga dadanya. Ata diam, membiarkan sunyi menjadi jeda.

"Lo tau kan gue nggak bisa, Ta?" ujar Reyhan sambil melihat ke arah Ata yang tak memberikan respon apapun. Baru beberapa menit lalu Ata datang dan menceritakan semuanya, selama tiga tahun berteman baru kali ini Reyhan tidak ada saat Fayra menangis. Lebih parahnya lagi, Reyhan yang jadi penyebab kesedihan Fayra.

Ata mengangkat bahu, "Gue nggak tau gue ini sahabat macam apa, tapi gue nggak akan menyalahkan Fayra kalau dia selingkuh sama lo di belakang Alan. Alan terlalu cinta sama kerjaannya Rey, dalam satu semester aja belum tentu Fayra bisa ketemu Alan."

Ata brengsek! Sudah lama Reyhan menahan diri untuk tidak menjadi duri dalam hubungan Fayra dan Alan, sedangkan Ata bisa seenaknya memberikan dukungan terhadap perselingkuhan mereka yang belum terjadi. "Gue nggak sepengecut itu. Gue akan memiliki Fayra dengan cara baik-baik, kalau memungkinkan."

"Tapi menjauhi Fayra bukan jawabannya Rey. Lo tau kan dia bertanya-tanya kenapa lo jauhin dia beberapa minggu ini? Gue mulai kehilangan cara buat hibur dia," Ata bersikeras. Dia mulai kasihan pada Fayra yang terus menerus mencari jawaban atas sikap diam Reyhan.

Reyhan tak menjawab, rasa bersalah menguasai perasaannya.

"Maybe she waits, Rey. But no one wait forever."

...

"Hai Ra," Reyhan menyapa kaku, Fayra yang duduk sendiri sedikit terkejut walaupun langsung bisa menguasai dirinya lagi.

Fayra tersenyum formal, "Hai Rey, kamu dateng juga?"

"Hehehe iya. Mereka butuh insinyur amatir untuk jadi asisten perancangan gedung, jadi aku daftar. Kamu?" diam-diam Reyhan bersyukur menerima tawaran proyek ini, meskipun hasilnya tidak begitu besar dan hanya sebagai pengisi waktu luang tapi bisa membuatnya bertemu langsung dengan Fayra.

Sikap Reyhan yang 'normal' membuat Fayra enggan menanyakan hal-hal yang tidak terkait dengan pekerjaan, padahal sudah ada seribu pertanyaan yang ingin dilontarkannya sekarang juga. "Aku hanya diminta jadi konsultan iklannya. Konsultan yang lama dipromosikan ke bagian marketing."

Reyhan mengangguk-angguk, kepalanya sibuk memikirkan bagaimana cara menahan Fayra lebih lama setelah acara ini berakhir. Mereka bekerja di divisi yang berbeda, itu berarti tidak akan ada banyak pertemuan yang akan dihadiri bersamaan. Reyhan butuh kesempatan lebih lama bersama Fayra, mungkin ini adalah kesempatan yang menjadi jawaban atas doa-doanya selama ini.

"Pulangnya kamu ada acara, Ra?" tanya Reyhan tiba-tiba. Sedetik kemudian ia merutuki dirinya sendiri, lelaki bodoh macam apa yang langsung menanyakan hal itu tepat setelah sapaan yang tertunda bertahun lamanya.

Fayra tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, "Maaf, aku sudah ada janji sore ini."

"Nggak masalah. Besok atau besoknya lagi pun bisa," jawab Reyhan sesantai mungkin, kali ini akan diusahakannya apapun untuk bertemu Fayra. Cukup dia berharap, kali ini tidak akan disia-siakan kesempatan untuk memiliki Fayra. Reyhan tidak akan membatu lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Aku sudah menikah, Rey. Kalau memang kamu mau bertemu, datang saja ke apartemenku," Fayra angkat bicara, berusaha agar tidak ada sesal yang terdengar di telinganya sendiri. "Ata sudah cerita semuanya. Aku sudah berhenti menunggu kamu, Rey.

"Oh," kalimat Reyhan terhenti, tenggorokannya tercekat. "Alan?"

Fayra mengangguk, "Iya, Alan suamiku sekarang."

"Harusnya ku telah melewatkanmu.
Menghapuskanmu dari dalam benakku.  
Namun ternyata sulit bagiku
Merelakanmu pergi dari hatiku." -Adera (Melewatkanmu)

 

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting