Rabu, 13 November 2013

Dibilang bego atau kehilangan temen?

Di tengah proses belajar SKS (sistem kebut semalam) sebelum UTS (ujian tengah semester) mata kuliah Psikologi Organisasi, gue-Uti-Siddhi mengusir kantuk sambil berdiskusi tentang materi yang harusnya sudah kami pelajari jauh-jauh hari tapi baru malam ini dibaca. LOL.

Sampai pada pembahasan Hirarki Kebutuhan milik Abraham Maslow, Uti nyeletuk: "Mana ya yang lebih dulu, kebutuhan akan esteem atau love-belonging?"

Sesuai dengan segitiga Maslow yang memang sudah dijelaskan dari awal semester pertama, gue langsung bilang bahwa love-belonging jelas kebutuhan yang lebih utama dibandingkan dengan esteem (meskipun memang urutan kebutuhan bisa saja berbeda bagi setiap individu).

Merespon jawaban gue, Uti bilang: "Lo lebih milih mana? Dibilang bego atau kehilangan temen?"

"Emang ada orang yang mau dibilang bego?" jawab gue.

Uti tertawa kecil, "Ya berarti kebutuhan akan esteem lo lebih besar dari kebutuhan love-belonging. Lo sama kayak gue berarti."

"Bentar, gue kan tadi nanya, emang ada orang yang mau dibilang bego?"

Untuk menjawab pertanyaan gue, Uti langsung nanya ke Siddhi pertanyaan tentang memilih dibilang bego atau kehilangan temen. Diluar dugaan gue, Siddhi jawab: "Ya (aku lebih milih) dibilang bego lah! Biarin aja orang mau bilang apa. Daripada harus kehilangan temen."

Beberapa detik berikutnya gue seperti merasa ada outburst emotion sekaligus toyoran imajiner yang berkali-kali menyadarkan gue bahwa dibilang bego sama orang lain itu nggak ada apa-apanya dibandingkan sama kehilangan teman.

Lagipula, untuk apasih menyakinkan orang lain soal sejauh apa kualitas yang kita punya tapi kehilangan orang yang menerima kita apa adanya?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting