Rabu, 13 November 2013

Bisakah kita berhenti sekarang?

"Kamu kehujanan," ujarmu sambil memberikan sebuah handuk kering untukku. Di luar hujan deras luar biasa, rambutku basah kuyup. Aku kesal karena baru tadi pagi aku mencuci rambutku, sedangkan kamu duduk di atas kursi malas sambil tersenyum.

Aku melirik ke arahmu, "Apa yang lucu?"

"Lekas keringkan tubuhmu, nanti kamu jatuh sakit. Lebih baik jatuh ke pelukanku ketimbang jatuh sakit,"

Aku berusaha mati-matian menahan senyum. Kamu paling juara melukiskan senyumku dalam berbagai situasi. "Dan membiarkan wangiku bercampur dengan aroma perempuan lain? Maaf, hargaku terlalu mahal, Tuan."

Mendengar celetukanku, kamu bangun dari posisimu. Posisi yang biasanya membuatmu betah berlama-lama menatap layar televisi dan memakan apapun yang tersedia dalam kulkas, aku tak akan melupakan kaleng-kaleng bir yang berserakan setelahnya.

"Kata siapa aku akan membiarkan aromamu bercampur dengan aroma perempuan lain?" katamu dengan suara berat, mendekat ke arahku.

Aku menghindar, "Minggir, aku harus mengeringkan tubuhku. Nanti aku jatuh sakit,"

Kamu tau aku pura-pura, karena itu kamu lantas memelukku kuat-kuat dan memberikan beberapa kecupan. "Aku ingin selamanya bersamamu," ujarmu yang lalu mengecup lagi, berkali-kali.

Aku tertawa, entah karena bahagia mendengar ucapanmu atau karena sensasi asing yang menjalar melalui serabut saraf di tubuhku. "Pulanglah, ambil cincin yang ada di jari manis tunanganmu. Lalu menua bersamaku."

Kecupanmu terhenti. Aku tau apa artinya. Kamu selalu saja hilang selera tiap kali aku menyebutkan cara agar kita bisa benar-benar bersatu. Kenyataannya memang tak pernah ada yang kamu lakukan untuk mewujudkan harapan menua bersamaku.

Katamu, ada beberapa orang yang diciptakan untuk saling mencinta tanpa harus memiliki satu sama lain.
Katamu, tunanganmu bisa mencuri nama belakangmu tapi bukan hatimu yang sudah jadi milikku.
Katamu, hanya namaku yang bergaung dalam kepalamu.


Aku lelah sembunyi dan meyakinkan diriku berulang-ulang bahwa aku satu-satunya untukmu.
Aku lelah tersenyum palsu tiap kali kita bertemu sedang perempuan itu merangkulmu seolah kamu benar miliknya.
Aku lelah sayang, bisakah kita berhenti sekarang?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting