Minggu, 03 November 2013

Asal Bersamamu

"Aku akan menikah, usia 28 nanti,." ujarnya sambil menyeruput kopi hitam, tanpa gula. Lelaki di depanku ini memang total kalau menggombal, katanya senyumku sudah cukup membuat Arabica nya terasa manis.

Aku mengaduk smoothies yang di atasnya diberi es krim vanilla, berusaha tidak terlihat terkejut dengan pernyataan Derrian, "Oh ya, sama siapa?"

"Kamu."

Betul kan kataku, Derrian memang tukang gombal paling jago sejagad raya.

...

"Kamu tau Ren, apa yang paling seru dari menunggu?" sambil melirik baris-baris tulisan di buku menu, aku mengangkat alis, meminta Derrian melanjutkan. "Usaha yang diberikan harus total, tak bisa sekedar main-main."

"Termasuk kalau menunggu taksi?" tukasku, setelah beberapa detik lalu memutuskan akan menjadikan Panecotta sebagai hidangan pencuci mulut.

Derrian tertawa, "Bisa. Kalau kamu sudah berniat menunggu taksi, maka kamu akan berhenti melihat yang lain. Tidak peduli walaupun bis kota yang jurusannya sama lewat di depanmu."

"Aku menyebutnya bodoh ketimbang heroik," kataku singkat, dengan nada datar. Tanganku melambai ke pegawai dengan baju putih, hendak menyebutkan pesanan. "Eh, kamu mau apa?"

"Aku mau kamu, sudah kuputuskan dari bertahun lalu." mendengar pernyataan Derrian, pegawai resto diam karena salah tingkah. Aku menghela napas panjang.

See? Derrian lebih masuk ke kategori bodoh ketimbang heroik, atau romantis.

...

Seperti ada yang salah, alis mataku yang pagi ini berubah jadi asimetris, pipiku yang tak ada tirus-tirusnya, atau hidungku yang mungkin ukurannya hampir sama dengan Shrek. Derrian mengintip dari balik pintu, berusaha meredakan kecemasanku yang sedang muncul berlebihan.  "Kamu cantik, Rena."

Aku menggeram gemas, "Cuma kamu yang mikir gitu. Lagipula, kita dilarang bertemu sampai prosesi akad selesai, Der. Kok kamu bisa sampai ke sini, sih?"

"Memangnya butuh berapa ratus pengakuan, Ren? Toh cuma aku yang akan menikahimu, kan? Aku mau melihat pengantinku, problem?" tawa Derrian berderai renyah, membuat aku was-was kalau-kalau ada perias melihat si mempelai lelaki yang menyelinap ke ruang rias wanita.

...

"Jadi, penantianmu berakhir hari ini Der?" tanyaku yang sibuk membersihkan riasan bekas resepsi. Derrian melipat rapi baju yang kuletakkan asal di atas tempat tidur, obsesinya terhadap kerapian memang jauh berbeda skalanya denganku.

Derrian mendekat, memeluk dari belakang dengan hati-hati, tak ingin mengganggu usahaku menghapus segala macam benda yang tak juga habis dilap dengan kapas sejak tadi. "Bagian meyakinkanmu untuk hidup bersamaku memang selesai, Ren. Tapi soal membahagiakanmu, ini belum ada apa-apanya."

Senyumku terulas, tak ingin lagi kusembunyikan. Tidak, tidak ada sanggahan yang bisa mematahkan usaha dan waktu yang sudah diberikan Derrian. Pipiku perlahan menghangat, lengan Derrian makin erat memeluk begitu menyadari ada dua anak sungai yang mengalir dari sudut mataku.

"Jadi, Paris atau Roma?" tanyanya kemudian. Aku tak perlu bertanya apa maksudnya, Derrian tau Eropa adalah mimpiku sejak lama.

"Terserah, asal bersamamu."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting