Rabu, 16 Oktober 2013

Two is better than one

Kamu, dengan pandangan mata setenang telaga yang tak pernah sanggup kutatap lama-lama. Senyummu menyejukkan, tapi aku tak pernah mau mengakuinya, terlebih di depanmu. Bandung malam hari memang tak sedingin dulu waktu aku masih duduk di sekolah dasar, tapi tetap saja menggangguku yang saat itu hanya mengenakan kaos berlengan pendek.

"Dingin?" ucapmu yang tak kugubris sama sekali. Aku tau, kamu pun tak mengharapkan jawaban. Dengan sigap kamu melepaskan jas abu-abu yang tadi kamu pakai untuk menghadiri pertemuan dengan jemaat gerejamu. Ada desir asing yang menyenangkan saat punggungku tertutupi oleh jasmu, ada wangimu yang tertinggal dan menggelitik saraf olfaktori di hidungku.

Aku benci sekali perasaan hangat seperti ini, makin mengingatkan aku kalau selamanya kita tak akan pernah menyatu. Membuat aku terhempas ke realita bahwa cepat atau lambat kamu harus pergi. "Kamu tau, Nel? Ada beberapa hal yang Tuhan ciptakan sendirian. Dan selamanya akan lebih baik begitu."

"Nisa, aku tau kemana arah pembicaraanmu." kamu bicara lembut, seperti biasa. Tak peduli dalam kondisi seperti apapun, nadamu tetap sama menenangkannya. Tentu saja kamu tau, kamu terlahir dengan kecerdasan di atas rata-rata, selain dengan kebaikan hati yang sama tingginya.

"Matahari, misalnya. Tak ada dua matahari, dua matahari terlalu panas. Dua matahari akan menyakiti banyak orang." aku meneruskan, tak peduli pada respon yang kamu berikan. Saat menyebutkan kalimat terakhir suaraku serak, ada yang luka entah dimana. Aku merasa egois luar biasa kalau harus menyakiti banyak orang demi kebahagiaanku sendiri.

Tanganmu memeluk pinggangku, tanpa berkata-kata. Lionel, rasanya aku ingin sekali lagi memelukmu, rasanya aku ingin sekali lagi merasakan hangat tubuh dan degup jantungmu. Tapi ada beberapa hal yang diciptakan Tuhan hanya untuk sendirian dan mungkin aku salah satunya.

"Tuhan kita satu, Nis. Kita cuma menyebutnya dengan nama berbeda, kita cuma memujinya dengan cara yang berbeda." tukasmu, dengan nada lembut namun tak mengurangi ketegasan kalimatnya. Kamu sangat menyakini hal itu. Dari awal pertemuan kita, kamu selalu bicara kalimat yang sama tiap kali aku menyinggung soal perbedaan yang kita punya.

Aku menarik nafas panjang, menahan agar air mata tak lebih banyak lagi menetes. "Itu menurutmu Nel. Tapi bukan itu yang diyakini oleh Ayahku, bukan itu yang diyakini oleh Ibumu."

"Bagus kalau begitu," kamu menanggapi ucapanku dengan nada ringan, minim keseriusan. "Semakin banyak jumlah Tuhan maka semakin banyak doa yang akan terkabul kan?"

Aku tak menjawab, membuat usahamu untuk menghiburku malam ini sia-sia. Kamu merangkul pinggangku, seperti mengetahui bahwa pembicaraan ini menyerap banyak energi, membuat kaki-kakiku makin lemas berdiri. "Aku tak peduli apa yang diyakini Ayahmu, bahkan Ibuku. Kalau menurutmu?"

"Menurutku kita lebih baik berpisah, agar tidak menyakiti lebih banyak orang." jawabku dengan nada diyakin-yakinkan, meskipun tetap saja ada sekerat ragu yang gagal kututupi. Jangan tanya aku soal pandanganku terhadap Tuhanku, Nel. Aku sudah cukup bertanya kenapa kita diciptakan berbeda dan kecewa karena tak pernah mendapatkan jawabannya.

Malam itu, kamu resmi pergi selamanya dari hidupku.
Aku berjanji tak akan mengubah keputusanku, aku berjanji tak akan datang padamu seperti apapun keadaannya nanti.

Sedangkan kamu, kamu tak berjanji tentang apapun. Alasanmu meninggalkanku hanya satu, karena aku yang memintanya.

...

Jangan, jangan pernah tanya apakah aku menyesal memutuskan semuanya, Lionel.

Saat aku terbangun karena mimpi-mimpi buruk dalam kamar flat-ku yang kecil tanpa seorangpun untuk diajak bicara..
Saat aku terlalu penat untuk membicarakan hari-hari yang kujalani penuh target yang nyaris irasional..
Saat aku terlalu lelah untuk sekedar menangis sendirian dan menumpahkan apapun yang menyesakkan dada..

Then maybe it's true that I can't live without you, and maybe two is better than one. But there's so much time to figure out the rest of my life..
And you've already got me coming undone, and I'm thinking two is better than one..'

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting