Kamis, 03 Oktober 2013

Prioritas

Dira memandangi LCD ponselnya, satu pesan terakhir dari Azka sukses membuat airmatanya menggenang. Padahal cuma tiga kata, harusnya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kritik dosen-dosen galak di kampus.

'Maaf aku sibuk.'

Sudah, itu saja. Tiga kata yang menyisakan sakit menjalar di tubuh Dira.

Azka sudah menjanjikan waktu untuk kencan mereka. Hari ini bukan perayaan anniversary karena anniversary mereka sudah jauh terlewati berbulan lalu tanpa kehadiran Azka. Dira bukan tipe perempuan yang mudah menangis dan melulu menuntut perhatian besar dari pacarnya. Dira hanya mau mereka bertemu, cuma itu. Lagipula ini sudah bulan keempat yang dilewatkannya tanpa sekalipun bertemu Azka.

"Kenapa Dir?"

Dira menoleh, Theo datang dengan kemeja polos warna biru, seragam kerjanya sebagai quality control di satu pabrik sepatu. Baru sepuluh menit yang lalu jam bubar pabrik dan sekarang tau-tau Theo sudah ada di sampingnya, siap mendengar ceritanya.

Melihat ekspresi Dira yang muram, Theo langsung tau jawabnya. Padahal baru kemarin sahabatnya menelpon dengan nada riang. Hari ini kekhawatirannya terbukti, Azka mengecewakan seperti biasa.

Sebenarnya, kalau saja memungkinkan, Theo sudah gemas ingin mendaratkan tinju di wajah pacar Dira. Azka yang kuliah di kampus ternama se-Indonesia selalu saja menjadikan kesibukan sebagai alasan membuat sahabatnya sedih. Theo tak peduli kalau Azka memang benar-benar sibuk, dia hanya peduli pada Dira.

"Yaudahlah Dir, mungkin emang iya Azka sibuk." ucapnya sembari mencomot tahu goreng yang ada di atas meja warung makan. Theo benci berpura-pura memaklumi Azka, tapi dia tau mengonfrontasi Azka hanya akan membuat Dira makin sedih.

"Emangnya Theo ngga sibuk?" tanya Dira, tiba-tiba.

Theo menghentikan aktivitas mencari cabe rawit yang tadinya akan dimakan bersama tahu goreng. "Kalau kerja mulai jam delapan sampai jam lima masuk kategori sibuk, ya iya aku sibuk."

"Tapi selalu aja bisa dateng buat Dira kan?"

Theo tau kemana pembicaraan ini akan bermuara. Jangan sampai Dira membandingkan dia dengan Azka, akan seperti langit dan bumi. Azka yang membawa mobil keluaran terbaru, silsilah keluarga terhormat, dan wawasan luas luar biasa. Apalah arti seorang Theo dibandingkan Azka, cuma pekerja pabrik yang mati-matian mengumpulkan rupiah untuk meneruskan kuliah yang sekarang statusnya cuti. Membandingkan dirinya sendiri dengan Azka membuat Theo merasa serba tak pantas.

"Azka kan beda Dir, mungkin dia sibuk sama BEM nya. Mungkin juga dia..."

Dira menyela, "Tapi Theo bisa dateng buat Dira, kenapa?"

"Soalnya kamu memang prioritasku." jawab Theo, tanpa melakukan proses berpikir panjang. Dira memang prioritasnya, akan dilakukannya apapun yang dia bisa untuk Dira.

Seperti ada saklar lampu yang menyala.
Dira menemukan alasan ketidakhadiran Azka, janji-janji temu yang diewatkan Azka begitu saja. Bukan, sama sekali bukan kesibukan Azka yang jadi alasannya.

1 comments:

(little) .eL. | Lidya mengatakan...

sedih. :'(
Dira hanya menyadari kalo dia bukan lagi prioritas Azka.
tanpa menyadari bahwa dia sudah jadi prioritas Theo.

 

Template by Best Web Hosting