Sabtu, 26 Oktober 2013

Hening dan Lelaki Pohon Jeruk

Langit murka sejak pagi, kilatan-kilatan petir masih saja terlihat intens berkolaborasi dengan titik air yang turun lebih banyak dari biasanya. Tangan Hening menyingkirkan tirai jendela, mengintip ke luar. Ada seseorang yang datang.

Tak lama suara ketukan terdengar. Cukup keras sampai mengalahkan gelegar yang muncul bersamaan. Bukan, si pengetuk pintu pasti tidak bermaksud menakuti Hening yang sekarang menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.

Melenyapkan sekerat ragu, Hening membuka pintu. Wajah si pengetuk pintu berubah cerah saat mendengar derit pintu yang menurutnya sangat merdu. Saat melihat Hening, senyumnya terulas. "Boleh aku masuk?" pintanya santun.

Sejenak Hening membiarkan saja si pengetuk pintu menunggu dan memanfaatkan kesempatan untuk mengamati sebaik-baiknya. Tingginya hampir sama dengan pohon jeruk yang ditanam ibu di belakang rumah dengan jas flanel bermotif kotak-kotak kecil. Sepatunya kotor berlumpur, sudah terbayang oleh Hening bahwa dia pasti harus mengepel lantai rumah seperginya lelaki pohon jeruk ini.

Hening mengangguk. Sebenarnya sudah dipikirkannya jawaban bahkan sebelum membukakan pintu untuk lelaki pohon jeruk. "Terimakasih," katanya langsung menuju ke perapian.

"Rumahmu hangat dan nyaman." ujar si lelaki pohon jeruk sambil menggosok-gosokkan dua telapak tangannya, sesekali ia juga meniupkan nafasnya ke celah antar telapaknya.

Hening mengambil kursi, lalu duduk di depannya. "Tidak, atap bagian belakang rumahku bocor. Apa kau mendengar bunyi tetes air? Aku tidak boleh lupa menadahi air dengan ember yang juga sudah berkarat."

Mendengar Hening yang mulai mengomel, lelaki pohon jeruk tertawa. "Lucu sekali. Aku pernah singgah di rumah seorang petani jerami yang tidak beratap. Ember yang kau gunakan untuk menadahi air itu dipakainya di kepala, untuk menghindari air hujan. Oh iya, ngomong-ngomong dinding rumahmu bagus. Lukisan-lukisan yang kau gantung ini pasti warisan keluarga."

"Iya, nenekku yang membuatnya." jawab Hening singkat, tiba-tiba bayangan nenek muncul sekilas di benaknya. "Aku tidak terlalu suka lukisan, tapi semuanya harus kugantung demi menutupi retak-retak yang mulai muncul karena usia rumah ini. Ah, kalau saja aku punya beberapa keping emas untuk memperbaiki semuanya."

Si lelaki pohon jeruk mendekatkan tangannya ke perapian, menikmati panasnya sisi-sisi kobaran api yang lambat laun semakin kecil. "Kamu mengingatkanku pada seorang Ibu pemerah susu kambing yang pernah memberiku segelas air. Rumahnya beratap, tapi dindingnya berlubang-lubang." sambil meneruskan cerita, lelaki pohon jeruk tergelak. "Anak-anaknya sering bermain melempar kerikil dari dalam rumah yang akan menembus sampai halaman. Sangat lucu. Fiuh, terimakasih banyak untuk perapianmu, aku menggigil parah tadi."

"Biasa saja, perapian ini sudah tua. Sekali ketuk pun pasti ada bagiannya yang runtuh. Aku tak tau berapa lama lagi perapian tua ini bertahan." Hening menukas seadanya, pertemuannya dengan lelaki pohon jeruk sudah hampir usai. Suara hujan di luar rumah mulai mereda.

Lelaki pohon jeruk menepuk-nepuk lututnya, siap berdiri. "Hujan mulai berhenti, aku akan meneruskan perjalanan. Oh iya, beberapa mil dari sini ada keluarga nelayan yang baik hati. Aku sempat bermalam beberapa hari di rumahnya, sayangnya pada hari keempat aku harus pergi. Rumah mereka runtuh karena sudah tak muat lagi diisi empat belas anggota keluarga, belum ditambah aku. Kasihan, seorang anaknya yang paling kecil meninggal tertimpa reruntuhan. Semoga Dewa melindungi sisa dari mereka."

Hati Hening mencelos, tak ditanggapinya cerita terakhir lelaki pohon jeruk. Membayangkan kematian mahluk tak berdosa membuat suasana tiba-tiba menjadi kelam, padahal cuaca sudah semakin cerah.

Tik tik tik..

Hening terbangun dari tidurnya, ada tetesan air yang jatuh di atas wajahnya. Atapnya pasti bocor lagi. Kali ini bukan cuma di belakang rumah, tapi kamarnya juga. Biasanya hening akan bermuka masam, mengutuk-ngutuk hujan yang datang. Tapi kali ini lain, diambilnya mangkuk sup di atas meja bekas makan malamnya. Diletakkan di atas tempat tidur, sambil ia pergi memeriksa titik bocor rumah bagian belakang yang belum ditadahi ember.

Tiba-tiba rumahnya terasa semakin hangat. Lukisan-lukisan neneknya yang dulu terlihat buruk rupa juga secara ajaib menjadi lebih enak dipandang. Hening tertawa.

"Beberapa orang datang hanya untuk singgah dan mengingatkan bahwa kita harusnya mensyukuri apapun yang sudah ada.."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting