Minggu, 27 Oktober 2013

"Aku nggak suka film Indonesia."

Jadi ceritanya kemarin malam gue yang baru selesai belajar (sebagian kecil) materi Psikologi Abnormal di kamar Uti punya buat nonton bareng. Ngg, berhubung ini akhir bulan maka definisi nonton disini bukannya pergi ke Jatos dan nonton di bioskop tapi nonton film berdua di laptop.

Waktu lagi diskusi soal 'nonton apa' gue mengajukan 'Ada Apa Dengan Cinta' untuk ditonton. Selain karena gue kangen sama Nicholas Saputra, kebetulan siang tadi gue dapet softcopy-nya dari Lidya.

"Aku nggak suka film Indonesia." ujar Uti.
"Tapi ini kan Ada Apa Dengan Cinta, udah pernah nonton belum?"
"Nggak mau. Kalau film Indonesia nggak mau."
"Padahal ini booming lho di jamannya." gue membalas, masih berusaha mempersuasi meskipun akhirnya tidak berhasil.

Entahlah kenapa gue ngerasa sedih. Padahal harusnya gue biasa aja, soalnya: (1) Gue juga nggak maniak amat sama film Indonesia, (2) Film Indonesia yang gue suka jumlahnya dikit banget, dan (3) Sikap Uti terhadap film Indonesia kurang lebih sama seperti sikap gue terhadap film India, "Gue ngga mau nonton kalo filmnya Bollywood."

Mungkin karena tetiba gue jadi inget kalau kami berdua orang Indonesia (yang punya keinginan hidup di negara lain kalau negara ini gini-gini aja nantinya) dan bukan nggak mungkin kalau ada (banyak) warga negara Indonesia lain yang berpikiran sama seperti Uti.

Pemikiran seperti itu pasti akan merugikan sineas-sineas muda (dan nggak muda) yang berusaha bikin industri film Indonesia semakin maju. Trus juga gue jadi kepikiran Mira Lesmana, Matias Muchus, dan Joko Anwar (maaf karena pengetahuan penulis soal dunia film terbatas maka nama-nama lainnya nggak disebutkan).
:'(

"Kalau bukan kamu, lantas siapa lagi yang kamu harapkan menghargai karya hasil jerih payah bangsamu?" 

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting