Senin, 23 September 2013

Visit Belitong Part 1

Tanggal 17 Agustus kemarin gue menunjukkan semangat nasionalisme dengan mengunjungi bagian lain negeri sendiri.

Iya, gue berlibur ke Belitung atau Belitong (bahasa penduduk setempat), menemani Mam yang kebetulan ada urusan dinas disana. Secara kebetulan, Pap pun agenda kantornya lagi disana jadi yasudahlah kita ketemuan.

Oh iya, sekedar info bagi yang berniat kesana cuma dua maskapai yang melayani penerbangan ke Bandar Udara H. A. S. Hanandjoeddin (bandar udara di Tanjung Pandan) yakni Garuda Indonesia dan Sriwijaya. Ingat, Tanjung Pandan! Banyak turis salah menentukan destinasi penerbangan, jangan salah tujuan jadi Tanjung Pinang.

Harga tiketnya untuk normal season sekitar sejuta untuk perjalanan pulang-pergi, nggak terlalu mahal dibandingkan dengan pengalaman yang akan didapatkan kok. Saran aja, nanti pas di pesawat pilih tempat duduk yang dekat jendela karena pemandangan Belitong dari udara luar biasa cantiknya.

Pulau Belitung terbagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar. Pulau ini diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata dan terkenal dengan lada putih serta bahan tambang seperti timah putih, pasir kuarsa, kaolin, dan granit. Keterangan lain soal demografis dan sejarah pulau bisa diihat disini

Pap sudah ada di Belitung beberapa hari sebelumnya, gue dan Mam baru tiba tanggal 17 Agustus siang. Sesampainya di bandara, kami langsung menuju ke Pantai Tanjung Tinggi untuk cuci mata dan makan siang.
Tanjung Tinggi Beach


Sampai di Pantai Tanjung Tinggi yang ada di kepala gue adalah: "ANJIR KEMANA AJA GUE! KENAPA GUE CUMA DIBUTAKAN OLEH PANGANDARAN, KUTA, DAN SANUR!"
Oke cukup.

Pantai Tanjung Tinggi ini obyek wisata yang terkenal di Belitong. Pada tahun 2008 sempat dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) yang kemudian mengenalkan keindahan Belitong ke nusantara dan dunia.

Pasirnya putih dan lembut, warna airnya juga biru kehijauan. Selain dua hal tersebut, yang istimewa dari Pantai Tanjung Tinggi adalah batu-batu granit berukuran raksasa yang tersebar di sepanjang garis pantainya. Subhanallah.

Dari Pantai Tanjung Tinggi kita bisa melihat Pulau Lengkuas yang memang jadi tujuan utama turis yang biasanya kesini. Pulau lengkuas sering jadi obyek wisata dan obyek foto karena keindahan pulau dengan mercusuar yang berdiri gagah. Sayangnya gue ngga sempat kesini waktu itu, yah semoga saja lain kali singgah kesini lagi. 
Di Pantai Tanjung Tinggi banyak tempat makan seafood. Ah jangan ditanya deh ya rasanya, makan ikan di pinggir pantai selalu menciptakan sensasi sendiri.

Makanan khas di Belitong adalah Gangan, semacam Sup Ikan kuah kuning. Bagian ikan yang bisa dibuat Gangan hanya kepalanya saja karena yang nikmat dari Gangan ini memang lemak dan pipi ikan yang gembil-gembil itu. 

Gangan dimasak dengan bumbu kunyit, cabe rawit, dan terasi khas Belitong. Dalam penyajiannya juga selalu diberikan potongan nanas muda. Rasanya panas, pedas, asam, mirip tomyam. Gangan biasanya memakai ikan karang (ikan yang hidup di karang) dan nggak semua orang bisa makan itu. Gue misalnya, abis makan Gangan selalu aja pusing tapi ya tetep makan lagi kalo ketemu. LOL.

Selain Gangan, makanan yang nggak kalah enak adalah Ikan Pari yang dibakar tanpa bumbu. Ikan Pari yang ukurannya kecil (anakan Pari) dibakar lalu dimakan dengan kecap manis. Dagingnya lembut dan wanginya khas. Enak, enak banget.

Setelah makan siang, kami menuju ke hotel dan ketemu Pap. Kami menginap di Grand Pelangi Resort berdasarkan rekomendasi temennya Pap yang pernah kesana. Untuk info hotelnya bisa dicek disini

Sinyal ponsel disini agak bikin sakit hati. Gue yang pengguna Indosat cuma dapet 3G pas lagi di pinggir pantai itu pun kalau pagi. Sisanya, dapet Edge pun udah bersyukur banget.
Setelah istirahat sebentar di hotel, Mam melanjutkan agenda dinasnya. Sedangkan gue dan Pap merencanakan main-main di pantai. Berhubung tadi gue belum puas di Tanjung Tinggi, jadilah kita berdua pergi kesana.

Jarak antara Pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Pandan sekitar 30 KM. Di Belitong memang nggak ada kendaraan umum. Jangan khawatir, penginapan biasanya menyediakan penyewaan kendaraan seperti mobil/motor. Di Grand Pelangi, untuk motor harganya 100rb untuk sewa 12 jam, sedangkan untuk mobil 300rb untuk sewa dengan jam yang sama.

Mengenai bensin, di Belitong sangat jarang ada pom bensin. Sekalinya ada, biasanya langsung habis dibeli oleh penduduk setempat yang sudah mengantri berjam-jam. Jadi saran gue, beli aja bensin eceran di pinggir jalan. Lumayan sih, untuk premium harganya 12rb/liter.
Kalau berniat panjat-panjat batu sambil main air, datanglah waktu sore saat air sedang pasang. Gue nggak bawa baju renang jadinya dengan modal polo shirt dan celana tidur tetep nekat main sana-sini meskipun akhirnya jadi pamer warna bra.
</3

Kalau mau norak lari-lari, ketawa, sambil naik-naik batu raksasa emang disini tempatnya. Selain pantainya sepi, jarang ada mas-mas iseng yang kampungan panggil-panggil cewek. Pantainya sangat tourist friendly meskipun ya tetap pengelolaan sampahnya kurang baik yang memang jadi penyakit banyak tempat wisata di Indonesia.
Kecil-kecil bikin sakit :(
Saking senengnya main-main, biasanya orang lupa kalau di atas batu-batu nempel mahluk-mahluk kecil bercangkang yang tajam ini. Telapak kaki gue juga lecet-lecet pulangnya, tapi tetap senang!! Jangan lupa bawa plester luka, in case lukanya dalam dan takut infeksi.
Oh iya, penduduk disini sangat ramah tapi belum terbiasa melihat turis ber-bikini atau ber-kostum renang minim bahan. Soalnya kebanyakan yang datang adalah turis domestik, turis asing yang datang pun nggak menghabiskan banyak waktu main di pantai. Saran gue, gunakan baju yang 'wajar' saat main di pantai. 
Keamanan di Belitong pun menurut gue cukup terjamin.
Penduduk lokal biasa meninggalkan motor/mobilnya dengan kunci menempel di depan rumah, rumah penduduk juga sangat jarang yang dipagari. Menurut salah satu sumber yang gue tanya, mereka sudah cukup makmur jadi memang kasus pencurian disini angkanya kecil. Meskipun begitu, tetap hati-hati ya..

Granit sebesar rumah, amazing!
Jangan khawatir soal harga makanan yang dijajakan penduduk lokal, gue selama disana belum pernah mendapatkan harga yang 'tidak wajar' dari mereka. Tapi kalau mau pasti memang sebaiknya ditanyakan dulu.

Hasil persilangan putri duyung dan Malin Kundang
Berfotolah sebanyak mungkin, semua spot disini bagusnya luar biasa.
Buat yang punya waterproof camera boleh banget dibawa kesini! Gue cuma bawa digital camera biasa yang pulangnya sempet korslet karena kena air. Untungnya setelah dikeringin sebentar bisa hidup lagi.
:')

Setelah bosan main di pantai, gue kembali ke hotel bersama Pap sambil basah-basahan dari ujung rambut sampe ujung kaki. Silahkan dibayangkan gimana serunya dan masuk anginnya, LOL!
Hasil nodong mas dan mbak yang lagi pacaran di atas granit pinggir pantai
Sampai disini dulu post Visit Belitong-nya..
Di Visit Belitong Part 2, gue akan menceritakan soal Manggar dan replika sekolah yang digunakan untuk syuting Laskar pelangi.
:)

1 comments:

Yohanes Octavianus Silaen mengatakan...

Ikan pari ga masuk report nih ? hehee

 

Template by Best Web Hosting