Senin, 30 September 2013

Lalu duniaku seperti runtuh...

Kamu, duduk diam dengan omelet sayur dan vanilla milkshake yang jadi kesukaanmu entah karena apa. Aku sering menertawakan kesukaanmu yang satu itu. Laki-laki lain akan memesan black coffee atau setidak-tidaknya coffee-latte saat makan di kafe, tapi kamu bersikukuh memesan milkshake vanilla tak peduli dimanapun kita memutuskan untuk kencan.

Aku, memesan creamy fettucini dan segelas besar iced chocolate. Bukan iced chocolate sembarangan, di atasnya diberi whipped cream yang ditaburi serutan coklat batang. Ah iya, dengan ceri merah utuh sebagai puncaknya. Bersamamu aku seperti tak peduli dengan program menjaga berat badanku, persetan juga dengan hitungan kalori yang seringnya masih membuatku lapar walau habis makan.

Kamu tertawa saat aku menyeruput fettucini yang kuahnya berkumpul di luar bibirku. Nyaris menetes ke baju yang kusiapkan sudah dua jam sebelum kamu menjemput kalau jarimu tidak sigap mengelapnya dengan tisu. "Laper banget ya?" tanyamu, masih tertawa.

Aku menggeleng. Aku sudah biasa menahan lapar demi mengecilkan ukuran jeans yang tidak lagi ada di kepala dua. Denganmu aku bisa lupa tentang tuntutan sosial yang melarang perempuan sepertiku untuk makan sesukanya, aku bisa lupa tentang tuntutan klien soal tampilan ideal tubuhku, dan aku bersyukur karenanya.

...
Lalu datang seorang perempuan yang mengaku memiliki sebagian hatimu. Memiliki sesuatu yang kupikir satu-satunya untukku. Aku tertawa konyol, perempuan ini pasti salah alamat. Dengan keyakinan yang utuh, aku bertanya tentang si perempuan salah alamat kepadamu.

Lalu duniaku seperti runtuh.
Aku bahkan tak mau membayangkan apapun, walau tetap saja imajiku memutarnya seperti film yang tak habis-habis dalam kepala. Bagaimana perempuan itu mengundangmu, baju seperti apa yang dipakainya, atau bagaimana tangannya bisa leluasa menyapu tiap inci kulitmu usai kalian menyatu. Dukaku menetes satu-satu. Kamu diam, seperti biasa menunggu aku menyelesaikan tangisku dulu.

Sayang, taukah kamu kata maaf tak bisa memperbaiki semuanya seperti sihir?
Hatiku luka, rentan hancur menjadi remah. Kamu tau aku tak akan memaafkanmu.

Namamu kugores di lenganku dalam-dalam, sakitnya tak seberapa kalau dibandingkan dengan yang kamu ciptakan. Tak akan ada yang akan dengan mudah kuijinkan masuk dan merajai hati.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting