Minggu, 22 September 2013

Bangku taman, lelaki dan perempuan

Sebuah bangku taman, lelaki dan perempuan duduk berkeliling sunyi dan angin dingin musim gugur yang menampar-nampar kulit muka seperti kepingan es. Tak ada suara, tak ada yang berani bicara.

Si lelaki berdehem pelan, menarik perhatian perempuan dengan syal abu-abu di sebelahnya. Mata mereka saling bertatapan sebentar. Si perempuan merasa bahwa pipinya menghangat, mulai mengalahkan dinginnya terpaan angin.

"Jadi, apa kita akan memulai lagi?" tanya si lelaki pelan, sangat pelan sampai-sampai butuh beberapa detik untuk si perempuan berhasil menangkap keseluruhan kalimatnya.

Si perempuan melipat tangan di depan dada, gemetar. "Aku pasti menjadi perempuan paling bodoh sedunia kalau sampai tersakiti lagi."

"Aku tak akan......" belum selesai kalimat si laki-laki, perempuan menangis. Sisa kalimat yang hendak keluar langsung ditelan kembali oleh si lelaki, masuk ke kerongkongan, namun anehnya malah menghambat kerja paru-paru. 

Tak peduli mereka sudah sekian tahun tak bertemu, melihat perempuannya menangis selalu menghasilkan sensasi tercekat yang sama.

"Aku takut." ujar si perempuan tanpa bergerak barang satu senti. Sebuah pelukan harusnya dapat menenangkan, sebuah kecupan seharusnya bisa menghentikan tangisnya sekarang ini. Tapi entah kenapa tubuhnya kaku, seperti sendi-sendi membeku.

Lelaki terdiam. Senggukan-senggukan kecil mulai terdengar, berirama. Kalau boleh lelaki memilih, dia ingin memeluk sekarang. Dia ingin menenggelamkan tubuh mungil perempuannya dan membiarkan degup-degup cepat yang tak teratur dalam dadanya terdengar di telinga perempuan.

"Aku tak akan memaksa. Tak akan pernah."

"Maafkan."

"Pergilah, sejauh yang kamu mau, setinggi sayapmu mampu. Kalau kamu luka lagi, aku tetap disini."

"Jangan menungguku."

"Aku bukannya menunggu. Aku hanya yakin, entah bagaimana tiap langkahmu menujuku."

**dibuat untuk seseorang yang hadir dari masa lalu.

1 comments:

Anonim mengatakan...

ha! entah kenapa jari-jari di papan huruf ini kembali menuliskan alamat blog-mu yang masih jelas diingatan, dan pada beberapa paragraf ini kembali mengingatkanku pada cerita kita dulu.

bukan, bukan mengingatkan tentang cinta yang tidak pernah ada, tapi mengingatkan aku tentang bagaimana cerita kita yang tak kunjung siap waktu itu.

sudah cukup, bahagia disana, dan sukses buat jadi ibu psikolog.

salam, lelaki maya yang diseberang pulau :)

 

Template by Best Web Hosting