Jumat, 30 Agustus 2013

Percayalah,

"Kamu harus meninggalkannya Far," ucap sahabatku suatu hari tentang Zandi. Ah, Naya seperti biasa selalu saja berlebihan soal lawan jenis. "Dia bukan lelaki baik, aku bisa tau dari matanya."

Aku tertawa ringan, membuka kulkas lalu mencari-cari jus tomat yang biasanya tak pernah absen berdiri di rak sebelah kiri. "Jus tomatku dimana, Nay?"

Naya datang, masih dengan raut kesal karena gagal meyakinkanku. "Far, demi kebaikanmu sendiri.. Kamu harus meninggalkannya."

"Lalu patah hati? Meninggalkan orang yang kucintai karena firasatmu?" balasku sekenanya, sebenarnya aku lebih kesal karena jus tomat yang kucari tidak ketemu dibandingkan dengan obrolan yang menjadikan Zandi sebagai tersangka utama.

"Fara, percayalah.. Aku sahabatmu."

"Naya, percayalah.. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

Bulan-bulan berlalu, Naya berhenti bicara soal Zandi. Dalam hati aku senang meskipun penasaran tentang hal yang mengubah pendapat Naya sebelumnya. Hubungan kami kiat lekat dan indah, meskipun sekali-dua kali terdapat pertengkaran kecil yang biasa disebut orang bumbu-bumbu dalam hubungan.

Sampai suatu siang aku datang lebih awal, menuju ke apartemen Zandi. Satu ekor bebek bumbu merah yang jadi kesukaan kami ada di tangan kananku. Aku yakin, Zandi pasti akan senang luar biasa. Dengan kunci ganda yang sudah dipercayakan Zandi untukku, aku masuk.

Disana, di celah pintu yang terbuka. Rasanya aku ingin menyanggah indera visualku, rasanya aku ingin mengulang hari ini dari awal dan mengubah rencanaku untuk datang.

'Naya, percayalah.. Sahabat harusnya tidak meniduri pacar sahabatnya sendiri.'

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting