Sabtu, 20 Juli 2013

Siraman FPI

Beberapa hari ini linimasa twitter gue penuh dengan tweet yang bertemakan FPI (Front Pembela Islam). Tentang apa itu FPI dan ormas tersebut sudah berbuat apa saja monggo di-googling.
:)

Pada salah satu tayangan televisi, juru bicara FPI ini berulah dengan menyiram lawan bicaranya (yang merupakan seorang sosiolog, dosen, dan akademisi) menggunakan air teh yang disediakan (bukan untuk saling siram tentunya).
Waktu itu gue lagi nonton sama Mam.
Komentar yang pertama gue denger dari Mam adalah, "Duh, kok nggak ada adat timurnya sama sekali ya? Bapak itu (Thamrin Amagola) lebih tua kan?"

Iya, menyedihkan.
Di tayangan televisi nasional, seorang juru bicara sebuah ormas bisa 'lupa' caranya merepresentasikan ormas yang diwakilinya.

Lucunya, esok hari ada wawancara yang narasumbernya 'membela' jubir ormas tersebut dengan kalimat, "Kita jangan menilai sebuah ormas dari perilaku salah satu anggotanya."
Blah! Itu jubir ormas loh pak! Representasi ormas loh pak!

Kita memang nggak boleh menilai sekolah dari kelakuan salah satu siswanya.
Pun nggak boleh menilai sebuah negara dari kelakuan salah satu warga negaranya.
Tapi sebagai juru bicara/wakil/humas bukannya memang peran mereka adalah representasi dari apa yang mereka wakilkan?

Gue jadi inget tweet yang pernah gue baca di linimasa gue.
"Saat orang merasa terpojok dan kehabisan argumen untuk membenarkan diri, mereka biasanya akan menyerang tidak dengan pemikiran lagi."

Mungkin menyiram jadi salah satunya.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting