Rabu, 17 Juli 2013

Independent

Pada sebuah pembicaraan dengan seorang cowok (yang tidak memiliki potensi sama sekali untuk menjalin intimate relationship sama gue) tercipta kalimat begini:

Him: "Even if it's possible, I won't date you."
Me: "Why so?"
Him: "For a lady, you're just.. Too independent."
Me: "..."

Sebagai anak perempuan sulung yang dari kecil dilatih buat serba mandiri, jelas gue heran.
Mandiri itu bukannya kelebihan, ya?
Memang sih, beberapa kali gue pernah mengalami percakapan dengan partner (waktu masih double, bukannya single kayak sekarang) yang isinya kira-kira:

Dia: "Udah gapapa, entar aku bawain/tolongin/anterin/(dan in in yang lain..)"
Gue: "Gapapa, aku bisa sendiri kok. Nggak usah ngerepotin kamu."
Dia: "Aku nggak ngerasa direpotin sama sekali kok."
Gue: "Aku bisa sendiri sayaaaang."
Dia: "..."

Pas kebetulan dapet kesempatan buat pulang ke rumah kemarin, di sela-sela nyiapin buka puasa dapet kesempatan buat ngobrol sama Pap. And he said a man's pride is being needed by his lady.

Maybe that's why.

But even an independent woman need a man, right?
There's a space that shopping or eating can't fill in.

"Dan tentang kemandirian,
meskipun aku membayar tagihanku sendiri, meskipun aku percaya diri pergi kemanapun tanpamu di sampingku.
Kamu tau tidurku tak nyenyak tanpa tanganmu melingkar di pinggangku.."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting