Sabtu, 15 Juni 2013

"Udah gue transfer."

Ini dua adek gue dengan pose yang nggak 'biasa'
Minggu tenang, tujuh hari yang harusnya dihabiskan dengan buku-buku dan slide powerpoint bahan UAS (Ujian Akhir Semester) lagi-lagi gue habiskan dengan jalan-makan-jajan sana-sini. Sebenarnya semacam balas dendam atas weekend weekend yang tercuri oleh tugas akademik dan non akademik sih selama perkuliahan satu semester sih.

Hell No! Gue nggak menyesal. Terlalu banyak hal baik dan menyenangkan yang gue alami kalau mau disesali.

Tapi penghabisan waktu untuk jalan-makan-jajan mau tidak mau berdampak pada mengempisnya dompet dan nominal rupiah di rekening yang tiba-tiba jadi kurang gizi.

Sampai beberapa hari lalu, saat baru bangun tidur tiba-tiba gue menerima sebuah pesan dari adek besar: "Udah gue transfer."

Adek besar emang sering dapet mandat untuk transfer uang jajan gue tiap bulan. Karena ini masih pertengahan bulan, otomatis gue mempertanyakan kenapa uang jajan bulan depan dikirim sekarang mengingat bahwa Mam tipe orangtua yang disiplin masalah regulasi uang jajan.

Yasudah, ternyata itu semacam angpao yang diberikannya buat gue.
Melihat jumlah selisih nominal yang lumayan, gue jadi tersenyum sendiri.
Gue dan adek besar memang berbeda.

Sejak TK udah banyak piala ini itu yang jadi bukti kemenangan gue akan lomba yang sekarang gue nggak inget apa aja lombanya, sedang adek besar pas TK jarang dapet piala.

Pas SD gue selalu masuk tiga besar rangking kelas, sedangkan untuk ikut UAS aja Mam pasti daftarin adek besar ke les tambahan karena memang dia bukan tipe siswa yang betah menatap buku lama-lama.

Perbandingan prestasi akademik ini tetap sama sampai SMA.

Tapi masalah mengumpulkan pundi-pundi uang sendiri, jangan ditanya.
Gue selalu jadi pecundang. Gue tipe cewek spender yang sampai SMA nggak kepikiran kalau uang sebenarnya bisa didapat selain dari nunggu Mam bagi-bagi jatah tiap bulan.

Adek besar beda, dicobanya semua usaha.
Mulai dari distributor keripik pedas, tiket konser band luar negeri yang harganya jutaan, barang elektronik, ponsel bekas, pembuatan jaket, atau berjualan kaos polos yang sempat jadi trend.

Bisa ditebak, saat gue masih bergantung sama uang pemberian Mam, adek besar udah bisa pergi sana sini, belanja dengan jumlah yang bikin gue geleng-geleng kepala, beli gadget sendiri, pun kencan di tempat yang nggak pernah gue datengin tanpa gandeng Mam sebagai 'penyandang dana'.

Di atas semua perbedaan, adu argumen, sampai pertengkaran yang berujung pada keadaan normal meskipun tanpa pernyataan maaf dalam bentuk verbal.
I'm proud of you, dek.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting