Senin, 24 Juni 2013

Senyum Rena

Hari Ini

Rena menyeruput kopi sambil menghirup dalam-dalam uap yang wanginya memabukkan. Ah, apalah jadinya dia tanpa cangkir-cangkir kafein yang terus membuat terjaga. Sambil membalas beberapa email dari penerbit tempatnya bekerja sama Rena tersenyum. Kedai kopi yang sama. Lima tahun lalu.

...

Februari, 2008

"Den, kita bisa bertahan lebih lama dari ini, aku yakin." seorang gadis dengan rambut hitam panjang sepunggung, mimiknya cemas.

Dennis yang kala itu mengenakan plaid shirt bernada cokelat menggeleng yakin, "Udah cukup Ren, aku nggak bisa ngertiin kamu. Aku terlalu sibuk, kamu butuh cowok lain yang bisa nemenin kamu."

Dahi si gadis mengernyit, "Aku nggak pernah protes soal kesibukan kamu Den. Aku nggak butuh orang lain, cuma kamu."

"Ren," kali ini Dennis menggenggam tangan gadis yang airmatanya sudah nyaris tumpah dari kelopak. "Kalo emang kita jodoh, kita pasti ketemu lagi di masa depan."

Si gadis tau, sudah tak bisa lagi mengubah keputusan Dennis. Tiba-tiba saja ia merasa dipermainkan. Dengan amarah yang ditahan mati-matian si gadis berkata dengan senyum yang dikulum, "Sesalmu adalah satu-satunya yang tak akan kupertanggungjawabkan kalau kamu meninggalkanku, Den."

Dennis mengangkat bahu, "Aku rasa ini yang terbaik untuk kita, Ren."

...

September, 2010

Kabar buruk. Dennis kecelakaan, mobilnya menabrak batas jalan saat hujan deras. Orang pertama yang datang adalah Rena, seorang temannya yang bekerja di rumah sakit mengenali Dennis. Rena datang setiap hari, membawakan buah-buahan yang sudah terkupas siap makan bahkan sebelum Dennis bangun tiap pagi.

Seorang teman berkata gusar, "Ren, lo bisa nggak sih peduliin diri sendiri dulu! Lo nggak lupa kan gimana cara dia ninggalin lo? Trus sekarang lo bahkan masih peduli dia hidup atau enggak?"

Rena tersenyum saja, tidak menanggapi dengan suara yang terdengar. Namun jauh dalam hatinya berteriak lantang, 'Aku harus menjaganya tetap hidup sampai dia merasakan sakit yang sama denganku dua tahun lalu.'

...

Kemarin

Kemarin Dennis datang, membawa kotak kecil beludru warna biru. Rena tersenyum saja. Genap setahun umur hubungannya dengan Dennis yang 'dimulai lagi'. Musik mengalun perlahan, hati Rena melonjak tak sabar. Hal ini yang ditunggunya dari lima tahun yang lalu. Saat-saat dimana impiannya jadi nyata.

"Aku mau kamu, Ren." Dennis membuka kotak kecil yang langsung berkerlip centil.
Pasti berlian, tak mungkin Dennis mau memberinya swarovski kan?

Rena tersenyum, senyum yang sama seperti saat Dennis mencampakkannya lima tahun lalu, senyum yang sama seperti temannya gusar. "Janji nggak akan meninggalkanku?" Rena bertanya dengan wajah semanis mungkin.

Senyum Dennis terulas sempurna, "Selamanya Ren," kini tangannya memasangkan cincin ke jari manis Rena.

Rena tersenyum, masih senyum yang sama seperti saat Dennis mencampakkannya lima tahun lalu, senyum yang sama seperti temannya gusar. "Tapi aku mau pergi." dilepaskannya cincin pemberian Dennis.

Tidak, Rena tidak semanis itu untuk memasukkan si benda kecil kembali ke kotaknya. Cincin pemberian Dennis dibiarkan Rena menjadi satu dengan kopi panas yang ada di atas meja. "Kamu tau Den, aku tidak pernah sebahagia ini saat bersamamu."

Dennis diam, membiasakan diri dengan disonansi kognitif yang membuatnya pening sesaat. Rena, gadisnya. Gadis yang dikenalnya tujuh tahun lalu tiba-tiba berubah bentuk jadi sosok yang tak dikenalinya lagi.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting