Sabtu, 15 Juni 2013

Psikolog Harus Kepo

"Kepo itu penting untuk calon psikolog,in a positive way of course!". Salah seorang dosen yang sangat gue kagumi pernah menuliskan kalimat tersebut di akun twitternya. Gue mengakui bahwa sebagai calon helper sekaligus listener bagi klien, intensi untuk kepo memang perlu. Tapi kalau salah penempatan bisa-bisa malah jadi annoying.

Sebelumnya dijelaskan dulu kenapa kepo dianggap penting. Dalam membantu seorang klien yang memiliki problem tertentu, seorang psikolog dituntut untuk memberikan pandangan sebagai pakar sekaligus menghayati perasaan si klien.

Seorang klien yang tidak dapat mengontrol amarah, misalnya. Psikolog harus mampu mengayati perasaan klien, mulai darimana kecenderungan untuk marah ini muncul, sebesar apa, apakah sudah ada kemampuan meregulasi emosi pada klien, dsb.

Sedangkan memberikan pandangan sebagai seorang psikolog berarti psikolog tersebut tidak bisa serta merta memberikan penilaian bahwa klien adalah seorang pemarah/memiliki kecenderungan agresi yang tinggi. Pada langkah ini kepo dibutuhkan. Mulai ditanya bagaimana masa lalu klien, bagaimana pola pengasuhan orangtua, urutan kelahiran, lingkungan sekitar, dsb.

Kembali ke soal 'kepo' ini. Gue rasa banyak teman yang mempelajari satu disiplin ilmu salah mengartikan frase 'psikolog harus kepo'. Karenanya mereka jadi cuap sana sini soal rahasia orang atau (parahnya) hal-hal yang nggak beneran terjadi ke orang itu (gosip .red).

Ah dear you, please put yourself in someone's shoes before you judge them..

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting