Minggu, 02 Juni 2013

Cin(ta)cin(ta) 2

Lampau Kayla.

"Kamu pasti bakal ketemu yang lebih baik kok, Kay.." Oliv, sahabatku berkata dengan wajah sendu. Usapan-usapan tangannya di punggungku makin intens terasa. Entah apa yang dipikirkan Oliv sampai mau menemaniku beberapa jam belakangan. Aku tak bisa memikirkan bagaimana Oliv bisa tetap terlihat biasa saja melihat tempat tinggalku yang sudah tak karuan bentuknya.

Aku tertawa. Tangisku harusnya sudah habis kutumpahkan tiga malam lalu, dan malam-malam selanjutnya sebelum tertidur oleh butir Aspirin yang mulai setia menemani. Empat hari lalu, selingkuhan Reyhan datang ke flat-ku.

Perempuan yang umurnya kurang lebih sama denganku dengan raut penuh kemenangan dan bukti tak terbantahkan, testpack dua garis yang katanya buah dari perbuatannya dan Reyhan. Entah mau diapakan ratusan undangan yang sudah tercetak untuk penikahan kami.

"Liat sisi bagusnya Kay, cincin berliannya masih bisa dijual kan?" tukas Oliv dengan tampang bahagia yang dibuat-buat. Aku tau dia hanya ingin menghibur.

Tawaku keras terdengar. Pecah bersamaan dengan tangis yang tak bisa kukendalikan. Cincin dari Reyhan sudah tak ada artinya buatku. Semalam lalu, kubuang cincin yang harusnya mengikat kami menjadi sepasang suami istri di closet. Biarkan saja menjadi satu dengan produk buangan manusia yang terkubur di dasar gedung apartemen. Aku tak peduli.

Previous part: Cin(ta)cin(ta)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting