Minggu, 19 Mei 2013

Rumus porsi makanan nikahan

ciwi-ciwi psikologiiii 
Sebelumnya gue mau ngingetin dulu, jangan bosen baca post tentang jodoh dan pernikahan ya di blog gue. Mungkin isi kepala masih terpengaruh sama pesta pernikahan kemarin jadinya masih secara otomatis nulis-nulis soal begituan.

Melihat banyaknya manusia yang datang di pesta pernikahan, seorang teman kemarin menanyakan sebuah pertanyaan menarik:
"Gimana ya cara ngitung porsi makanannya supaya nggak kurang tapi juga nggak terbuang percuma?"

Kalau menggunakan rumus porsi makanan pernikahan lawas yang dulu dibilang Bude (kakak dari Pap. red) jadi satu lembar undangan yang kita kasi dihitung sebagai 3 orang tamu (di Indonesia kebanyakan orang kalo diundang bawa anaknya jadi 3 orang ditambah ibu dan bapaknya). Tapi kemarin setelah gue mengobservasi, rata-rata satu gerombolan rombongan (yang diasumsikan sebagai satu keluarga dengan satu undangan) membawa banyak orang mulai yang lansia sampe balita.
Kembali ke pertanyaan tadi, "Lalu berapa porsi?"

Mengadopsi rumus porsi makanan yang dipraktekkan di salah satu pernikahan anak pejabat di Jakarta yang gue kenal, "Satu undangan ya bikin lah sepuluh porsi. Sepuluh porsi appetizer, sepuluh porsi main course, sepuluh porsi dessert. Pasti nggak kurang."

Iya sih nggak kurang. Tapi kalo lebih dan nggak kemakan?
Ternyata yang bersangkutan punya jawaban untuk pertanyaan gue.
"Gampang. Bungkus, bagikan ke siapa saja yang berkenan untuk bawa pulang. Bisa dari panitia acara, keluarga dekat, atau malah orang yang berkekurangan."

Problem solved.
Eh salah, ada masalah baru. "Trus biaya nikahnya?"
Yasudah, mari mulai menabung!

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting