Kamis, 23 Mei 2013

Kamu dan Nominal

Jadi begini para lelaki, bkn banyak uang yg dimiliki tp banyak buku dan kisah yg bisa kamu kritisi yg terpenting. Setidaknya menurutku.. :)

Karena nanti aku lbh memilih berbicara ke anak kita, "Ayahmu adalah lelaki cerdas.." ketimbang "Ayahmu adalah lelaki kaya.." :)

Gue menulis dua kalimat di atas dalam akun twitter gue kemarin malam.
Oiya bagi yang belum follow boleh follow dulu @auliafairuz #PesanSponsor #SponsorApeu 

Paginya gue mendapati sudah ada tweet balasan from somebody I used to know. Grammar sangat penting karena past-tense di kalimat sebelumnya berarti, I feel like I don't know him anymore.

Katanya dunia nyata itu kejam, katanya semua butuh uang, katanya munafik kalau ada yang bilang nggak butuh uang.

*sampai disini tarik nafas dulu*
*bayangin rasanya bangun tidur trus udah nerima reply beginian*

Erich Fromm mengatakan bahwa manusia dikuasai oleh dua hal paling mendasar, 'having' alias memiliki (sesuatu) dan 'being' alias menjadi (seseorang).

Pada budaya komersil, kebanyakan manusianya akan lebih dikuasai oleh 'having' yang membuat manusia menjadi kosong dan selalu merasa tidak puas.
Perasaan tidak puas  ini akan membuat manusia ingin mendapatkan lebih banyak hal yang dia nggak punya sebelumnya, terus menerus, nggak berhenti.

Semua butuh uang, setuju. Mulai dari beli permen sampe beli mobil, lo pasti butuh uang. Mulai dari masuk kamar mandi umum sampai masuk dufan, lo pasti butuh uang.
But hey, that's not the point.

Uang penting.
Tapi apa karena alasan itu lo jadi menilai semua hal dan mengonversinya ke dalam nominal?
Uang penting.
Tapi apa karena itu tujuan hidup lo semata-mata lo serahkan pada lembar-lembar yang bahkan nggak bisa lo ajak ngobrol?

"Ah sepik lu Ul. Lo pasti lebih milih makan cake di Union kan ketimbang makan arem-arem Kartika Sari?" | "Gue sih mending makan arem-arem Kartika Sari bareng sama yang tersayang daripada makan red velvet nya Union sendirian.."

Paragraf terakhir ini ditulis khusus untukmu,
Kalau uang ada di dalam alasanku memilihmu dulu..
Aku tidak akan pernah menghabiskan jam-jam waktu kita di tengah teriknya Bandung.
Aku pun tidak akan pernah membiarkan kaki-kakiku luka di dalam flatshoes karena lamanya kita berjalan. Iya, kamu memang tak pernah tau.
:)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting