Sabtu, 18 Mei 2013

Kalimatnya sih iya,

Seorang teman yang sangat gue kagumi pemikirannya hari ini menikah.
Iya, di usia 20 tahun. Usia yang sama seperti gue.

Di saat gue masih sering minta uang jajan tambahan ke Mam karena uang bulan ini defisit karena beli baju/sepatu/nonton/makan kebanyakan, temen gue memutuskan untuk menjadi seorang istri yang tugasnya pasti nggak jauh dari merencanakan keuangan rumah.

Di saat gue masih mengalami fase penasaran pas PDKT, senyam senyum pas baru jadian, dan nangis bombay pas putus. Temen gue udah harus menghadapi lika-liku rumah tangga. #apasihbahasague

Pada saat temen gue mengumumkan berita pernikahannya, dia menganalogikannya dengan ikatan kovalen, menggunakan bahasa-bahasa yang indah, beberapa temen gue yang lain (yang saat itu jadi pendengar) sampai berkaca-kaca.

Lalu gue teringat pembicaraan dengan salah seorang temen gue yang lain lagi (sok punya banyak temen) pas berangkat ke kampus bareng.

"Jujur gue nggak ngerti sih sama keputusannya menikah." | "Kenapa?" | "Ya, gue butuh lebih dari sekedar cukup aja buat mengenal calon suami gue. Gimana dia marahnya, gimana pas dia putus asa." | "Tapi kata lo alasan menikahnya sweet dan unyu." | "Kalimatnya sih iya, tapi kalo disuruh ngejalanin sih gue ngga bakal siap dan ngga bakal mau juga kayaknya." | "..."

Iya, yang mengagumi bisa jadi tak terhingga.
Tapi yang berani tetap langka.

#DibuatMurniUntukMenuliskanPemikiranSendiri

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting