Minggu, 28 April 2013

Suatu Hari

Suatu hari, pukul 3 sore.
Cihampelas Walk, Bandung.

Tara menghapus sisa-sisa airmatanya. Sebentar lagi Arga datang, tunangannya itu pasti khawatir kalau melihatnya dalam keadaan seperti ini. Arga tidak boleh melihatnya menangis, apalagi sampai mengetahui alasannya.

"Sayang, kok belum pesen apa-apa?" sapa Arga sambil mengecup kepala Tara, ritual yang selalu dilakukan tiap kali mereka bertemu. "Kamu sakit?"

Tara tersenyum palsu, "Aku udah kenyang. Kamu aja. Gimana kerjaannya?"

Arga membolak-balik buku menu, "Aku pesenin jus melon ya? Kerjaannya biasa aja, kangen kamunya yang nggak biasa."

Biasanya obrolan akan dilanjutkan dengan cibiran Tara atau mungkin cubitan yang mendarat di tangan Arga. Namun kali ini suasana tetap saja bisu, membuat Arga semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Tara.

"Sayang?" panggil Arga sembari menggenggam tangan Tara yang terkulai di atas meja. Pesanan makan siang yang memang sudah terlambat bisa dilakukannya nanti, melihat Tara yang tak ceria begini jauh lebih mengganggunya dibandingkan dengan jetlag hasil penerbangan Hongkong-Jakarta-Bandung.

Suara dalam kepala Tara bergumam pelan. 'Jangan tanyakan alasannya Ga, aku benci menangis untuk orang yang bahkan tak pantas untuk sekedar kupikirkan.'

Arga menyadari mata Tara yang mulai berkaca-kaca. "Nggak apa apa kalo nggak mau omongin sekarang. Mau aku anter pulang aja?"

"Maafin aku." ucap Tara kemudian dengan suara bergetar, merasa bersalah telah menggagalkan pertemuan pertama mereka setelah empat bulan karena lokasi kerja Arga dipindahkan ke Hongkong. Harusnya sore ini jadi perayaan untuk mereka karena mulai besok lokasi kerja Arga dipindah ke Bandung.

Senyum Arga terulas, genggamannya tetap erat di telapak tangan Tara. "Never mind. Your happiness matter, remember?"

...

Hari yang sama, pukul 10 pagi.
Apartemen di Bandung

Tara menggeliat malas, tangannya terulur ke meja kecil di samping kiri tempat tidur. Harusnya empat jam lalu alarmnya berbunyi. Pukul dua siang ini pesawat Arga mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Nama Arga yang terlintas sesaat membuat Tara melirik ke samping kanannya.

Reyhan.

"Kamu udah bangun Tar?" morning voice Reyhan terdengar. Bersamaan dengan itu Tara membulatkan tekadnya, semua harus diputuskan pagi ini juga. Semuanya harus jelas sebelum dia menemui Arga sore nanti.

Tara tak menjawab, "Kamu sayang aku, Rey?" tanyanya sambil membuka selimut yang menutupi mereka. Membiarkan hawa yang dihasilkan pendingin ruangan menyentuh kulit Reyhan, membuatnya lebih cepat tersadar.

Reyhan mengucek mata, "Taraaaa," katanya sambil menarik Tara kembali ke pelukan. "Kamu tau kan aku nggak pernah berhenti mikirin kamu Tar," Reyhan mengecup tengkuk Tara membelakanginya. Kali ini Tara tak merespon.

"Jadi, kamu sayang sama aku?" Tara kembali mengulang pertanyaan, tak cukup puas dengan jawaban Reyhan.

"Iya sayang. Aku sayang sama kamu," Reyhan melingkarkan tangannya di tubuh Tara.

Tara melepaskan tangan Reyhan, berbalik dan menatap Reyhan lekat-lekat. "Batalin pernikahan kamu. Aku kembaliin cincin pertunanganku sama Arga sore ini juga. Kita bisa mulai semuanya dari awal Rey, nggak kayak gini."

Reyhan tersenyum, menatap wajah Tara yang menunjukkan raut ketegasan. Tak sampai dua detik mendaratkan ciuman kecil, mengejutkan Tara. "Kamu cantik kalo lagi serius gini,"

"Aku mau kamu juga serius Rey," tatapan Tara berubah menjadi tatapan memohon. Sulit meyakinkan Reyhan bahwa uacapannya kali ini tak main-main. Sudah cukup dua bulan hubungannya dengan Reyhan yang dimulai tanpa status resmi. Sudah cukup rasa bersalahnya tiap kali Arga menghubungi dan memanggilnya dengan panggilan-panggilan mesra.

Suara panggilan masuk terdengar nyaring, merusak momen yang diciptakan Tara demi mendengar persetujuan dari Reyhan. Reyhan terduduk, mengambil ponsel yang ada di meja kecil sisi lain tempat tidur.

Wajah Reyhan berubah tegang saat melihat siapa yang menelponnya.
"Halo..."
"..iya aku lagi di kantor, semalem lembur sayang."
"Nggak, nggak sama siapa siapa..."
".."Abis ini aku langsung pulang kok."

Sudah.
Tara tak perlu menanyakan lagi perihal keputusan Reyhan, semua menjadi sangat jelas untuknya. Sangat jelas bahwa entah sudah berapa kali Reyhan membuatnya merasa seperti wanita paling bodoh di dunia.

...

Masih hari yang sama, pukul 4 sore.
Kompleks perumahan tempat tinggal Tara.

"Sayang.." panggil Arga saat Tara hendak keluar mobil.

Tara menoleh. Ia ingin lekas meninggalkan Arga sejauh-jauhnya, ia ingin meminum satu atau dua pil aspirin dan tertidur dengan harapan semua hal ini akan dilupakannya begitu ia terbangun. "Ya?"

Arga tersenyum, memandangi Tara selalu saja berhasil membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. "Aku sayang sama kamu. Kalo ada apa apa bilang ya, aku nggak mau kamu sendirian menghadapi semuanya. Ada aku Tar."

'Meskipun menghadapi pengkhianatanku Ga? Apa iya kamu mau mendengarkan semuanya?'

Tara benci berbohong tapi untuk sekarang hanya anggukan yang bisa membuat Arga berhenti mengkhawatirkan keadaannya.

"Tar.." suara Arga terdengar lagi. "Aku sayang kamu, Tara."

4 comments:

Gita Sapta Yuliana mengatakan...

ul terusin ul terusin, itu terus si Tara jadinya ama siapa ?

Gita Sapta Yuliana mengatakan...

ul terusin uul jdinya tara ama siapaaa ?

Gita Sapta Yuliana mengatakan...

ul terusin uuul

Owl | Aulia Fairuz mengatakan...

Hehehe belum punya niat nulis panjang git, mungkin nanti ya :)

 

Template by Best Web Hosting