Sabtu, 27 April 2013

Kamu salah kali ini

Januari 2012

"Butuh jaketku?" tanya Dimas sembari meletakkan jaketnya di atas pangkuanku.

Sama seperti sebelumnya, Dimas tak pernah memberikan kesempatan untukku menjawab pertanyaan-pertanyaan, 'Kamu mau es krim?' atau 'Pingin makan red velvet, nggak?'. Semua diberikan Dimas seolah bisa mendengar jawaban 'iya' yang belum kulontarkan.

Suasana dalam MRT malam ini harusnya tidak membuatku menggigil, blame it on this stupid fever! Mengisi liburan dengan backpacking keliling Singapura yang sudah kurencanakan dengan Dimas jadi semacam agenda 'merawat Fuyu yang sedang sakit'.

Aku memeluk jaket Dimas  Iya, memeluknya saja dan mendekatkan jaket dengan warna abu-abu itu ke hidung. Membiarkan indera olfaktoriku menikmati aroma musk bercampur dengan wangi maskulin yang jadi kesukaanku.

Dimas menoleh, "Kenapa? Jaketnya bau?" tanyanya sambil mengernyit heran.

Aku menggeleng. Peningnya kepalaku mengalahkan keinginan untuk menyanggah pertanyaan Dimas. MRT yang berjalan cepat ini rasanya berubah menjadi angkutan kota yang menunggu penumpang seperti yang biasa ada di jalan-jalan Kota Bandung. Lambat.

"Jaketnya dipake dong." tangan Dimas mengambil jaket yang kugenggam saja sejak tadi, lalu memakaikannya untuk menghangatkanku. "Udah agak anget kan?" katanya sambil tersenyum.

'Iya hangat, senyummu selalu membuatku hangat Dim.'

Kita, berjalan dari stasiun MRT di sepanjang Orchard St menuju penginapan yang kamu pilih. Penginapan yang menurutku sama sekali tidak merepresentasikan backpacking yang notabene harus dengan anggaran minim.

Aku masih ingat argumenmu saat itu, "Mana bisa aku biarin kamu tidur di sembarang tempat? Lagian hostel atau hotel cuma beda satu huruf. Toh kita bawa ransel, kan? Technically, itu masih backpacking."

"Aku sering heran deh sama kamu. Namamu Fuyu, artinya musim dingin. Tapi kamu sadar nggak? Kamu lumayan sering demam?" kamu angkat bicara, mencairkan suasana. Sekaligus membuyarkan lamunanku tentangmu.

Aku tertawa kecil, "Iya."
'Dan entah sudah berapa kali aku merepotkanmu.'

Tanganmu dengan kaku melingkar di bahuku. Suasana tiba-tiba menjadi kikuk, kamu yang tetap menatap lurus ke depan dan aku yang masih berusaha menstabilkan kembali pompaan jantung yang tak biasa.

"Jangan sakit-sakit dong. Aku kan belum lulus jadi dokter, belum bisa nulis resep buat kamu." Dimas bicara dengan nada pelan, "Yaaa, aku sih maunya kamu nggak sakit. Tapi kalo nanti sakit, periksanya ke aku ya?"

Aku mengangguk cepat.

...
Januari 2013

Selembar foto hasil cetakan photobox Changi Airport. Empat pose tak biasa yang jadi wujud protes Dimas waktu aku memaksanya untuk berpose sebentar.

"Di Jakarta kan juga bisa kalo cuma mau photobooth."

Tapi tetap saja, meskipun dengan wajah malas Dimas menuruti keinginanku. Sebagai gantinya, empat pose yang kubayar dengan dua belas dolar berisi ekspresi-ekspresi abnormal yang sampai sekarang kuanggap lucu.

Ekspresi Dimas yang tak akan bisa kulihat lagi secara langsung.

Indera visualku mulai melihat dengan kabur. Aku menangis tanpa suara.
Rasanya seperti baru kemarin.

"Aku terlalu sibuk buat kamu. Kamu pasti lebih bahagia tanpa aku kan?"

Kamu memang sering memberikan sesuatu tanpa lebih dulu menunggu jawabanku Dim,
tapi meninggalkanmu sama sekali bukan inginku.
Dimas, kamu salah kali ini.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting