Jumat, 05 April 2013

Equity dalam hubungan romantis

"Gue punya pacar, sibuuuuuuuk banget! Bangetnya pake kuadrat! Tiap mau diajak jalan, ada urusan di kampus. Di-sms balesnya lama, ada inilah itulah.. Kadang gue ngerasa capek harus ngertiin dia terus. Sedangkan dia nggak pernah ngertiin gue..." 

Pernah denger curhatan temen lo yang begini nggak? Atau bahkan pernah merasakannya sendiri? #eh #plak

Dalam hubungan yang sifatnya dekat dan intim (dalam kasus ini hubungan romantis antar pasangan) diperlukan satu unsur yang penting untuk dapat berjalan dengan baik.
Unsur tersebut adalah EQUITY.

Apa sih equity?

What you and your partner get out of a relationship should be proportional to what you each put into it. … If both feel their outcomes correspond to the assets and efforts each contributes, then both perveive equity (Harfield, Walster & Berscheid, 1978).

Secara singkat, equity adalah keseimbangan antara apa yang diberikan dengan apa yang diterima dalam suatu hubungan.

Buat yang mikir:
Katanya cinta? Kok perhitungan sih?

Jangan salah, justru karena kita mencintai seseorang makanya hal ini menjadi penting. Coba posisikan diri sebagai orang yang merenungkan, "Apa yang gue kasi ke dia udah seimbang belum ya dengan yang di korbankan buat gue? Pas dia bete, apa gue udah bisa sesabar dia pas ngadepin gue?"

Ketiadaan equity bisa membuat pihak yang merasa 'berkorban banyak' jenuh dan merasa tidak dicintai lagi. Logikanya gampang, kalau lo terus-menerus mendedikasikan waktu dan hati lo untuk seseorang yang menurut lo nggak berjuang dengan usaha sebesar yang lo lakukan, bete ngga?

Gue sih bete, bete banget.
Relationship is built by two, bro!

Jangan terus-terusan merasionalisasi dengan kalimat, "Dia sebenernya sayang kok sama gue, dia cuma sibuk sama urusannya, dia pasti juga udah berusaha buat gue.."
blah blah blah..

Coba buka mata, minta hati diam sebentar,
tanya ke isi kepala..

Will it be worth?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting