Jumat, 05 April 2013

Dua Tahun Arga

Kedai Dunkin Donuts.
Pasir Kaliki, Bandung.

Rana menghela nafas panjang, "Dua tahun itu lama, Ga.." katanya tak berani menatap mata Arga. 'Dua tahun. Jarak antara Bandung-Tokyo tak bisa ditempuh dengan empat jam perjalanan seperti ke Jakarta.'

"Aku tau itu, Ran."
Sekarang giliran Arga menatap lekat ke mata gadisnya yang gelisah, "Tapi ini mimpiku."

'Tapi ini juga hidupku Ga.'

Rintik hujan mulai berlomba menurupi dinding kaca yang menjadi pembatas antara kedai donat yang menjadi tempat pertemuan mereka. Tiba-tiba saja baik Rana maupun Arga menjadi hilang selera, coklat panas secangkir penuh yang mereka pesan sama sekali tak terjamah.

"Aku mau kita putus."
"Aku mau kita tunangan."
Dua kalimat, saling berkontradiksi satu dengan lainnya.
Namun sayangnya terucap bersamaan.

Rana menatap nanar ke Arga yang sekarang menyiratkan ketidakpercayaan. Sakit yang dipancarkan Arga melalui dua bola matanya entah kenapa bisa dirasakan Rana dengan sensasi berlipat ganda.

"Putus?" tanya Arga, memastikan indera pendengarannya masih berfungsi sempurna.

Rana meremas tangannya sendiri di atas meja. "Aku ngga yakin bisa."
Berikutnya tangan Arga menggenggam tangan Rana, erat dan hangat.

"Kita pasti bisa Ran. Aku nggak bisa tanpa kamu." suara Arga terdengar pelan meskipun tetap dengan intonasi tegas dan penuh keyakinan.

...

Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Jakarta.

Arga memandangi pelataran bandara, tiga menit lagi dia harus segera boarding dan yang diharapkannya belum juga datang.
'Rana, apa jadinya dua tahunku tanpa senyummu?'

Arga menyeret kopernya dengan langkah gontai, mungkin memang mimpi-mimpi tak bisa didapatkannya bersamaan.

...


“In every end, there is also a beginning.”― Libba Bray, A Great and Terrible Beauty

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting