Minggu, 21 April 2013

Darimu

Februari 2012

...
Balai Sarbini, Jakarta
Kamu disana, berdiri gagah dengan tuxedo abu-abu. Wangi parfummu entah kenapa sampai dan mulai menggelitik saraf sensori di hidungku, membuka lembar-lembar memori yang kukira sudah terhapus oleh kebencianku terhadapmu. Tunggu, mungkin ini bukan wangimu, mungkin ini hanya ilusi yang diciptakan pikiranku saja.

Taukah apa yang paling menyedihkan sayang?

Aku disini, tak sampai sepuluh meter darimu namun tetap saja tak bisa merengkuhmu seperti dulu. Aku disini, menggunakan gaun dengan bahu terbuka seperti yang kamu suka namun tetap saja kecupan-kecupanmu tak bisa lagi aku rasa. Aku setengah mati menahan kaki-kakiku yang seperti ingin berlari sekencangnya ke arahmu.  Aku seperti terikat oleh rantai baja yang tak tampak wujudnya. Ini betul-betul menyedihkan.

Semua orang tersenyum, semuanya. Pun aku.
Ini momen bahagia, seharusnya.

Lalu datanglah gadismu, dengan gaun merah marun dan rambut tergerai menutupi punggung. Gadis bodoh. Merah marun sama sekali bukan warna kesukaanmu, kamu suka biru kan? Seperti gaunku, seperti nuansa yang menyelimuti malam ini, seperti langit pagi katamu.

Kamu tersenyum saja, berbincang sebentar dengan si gadis merah marun. Tak ada rangkulan atau genggaman tangan yang biasa kamu lakukan terhadapku. Kamu masih mencintaiku, iya kan? Dulu kamu tak pernah membiarkan celah jariku kosong, kamu selalu mengisinya dengan milikmu.

Rasanya aku ingin menertawakan si gadis merah marun.
Hatimu masih milikku, iya kan sayang?

Lalu saatnya tiba.
Kamu berdiri di hadapanku, dengan senyum yang entah berapa lama tak pernah aku lihat lagi. "Selamat ya Ran.." ujarmu sambil menyalami aku, hangat, tak ingin kulepaskan.

Kamu bergeser selangkah, menyalami Dio yang sekarang resmi jadi imamku, calon anak-anakku kelak. "Jagain Rana ya, pasti langgeng deh kalian." katamu dengan nada suara yang tak lagi kukenali.

"Kalian juga langgeng ya," balasku sambil tersenyum, kamu pasti tau senyumku palsu. Aku menyalami si gadis merah marun yang bermimik bingung sekarang.

Tawamu renyah mengisi rongga telingaku, "Ini sepupuku."

...
Harris Resort Kuta, Bali
Tangan Dio masih melingkar di pinggangku. Pelukannya makin erat saat aku menggeliat hendak meregangkan badan seperti yang kulakukan tiap pagi usai bagun tidur.

"Pagi sayang.." ujar Dio yang merasa bahwa partner tidurnya sudah terjaga, kecupannya mendarat di tengkuk leherku.

Lampu kecil ponselku berkedip merah. Pasti ada pesan yang belum kubaca. Dengan malas kugerakkan badan menuju ke meja kecil sebelah tempat tidur.

Darimu.

"Dia sepupuku. Kamu tau aku masih belum bisa melupakanmu, Rana.
Semoga berbahagia."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting