Rabu, 24 April 2013

Aku sembilan bulan dalam perutmu

Saat diri gue ditawari suatu hal yang menurut gue 'besar' dan menolaknya dengan alasan 'nggak merasa mampu'.

Gue bertanya-tanya ke beberapa orang.

...
Temen temen gue bilang, "Sayang banget, itu kesempatan bagus."
Selanjutnya gue tanya, "Menurut lo gue ambil aja? Masih bisa sih diminta lagi kalo gue mau."
Jawaban selanjutnya membuat ragu, "Yaaaaa... terserah lo sih. Gimana lo aja."

"Menurut lo gue bisa nggak?"
Sambil mengangkat bahu, sama nggak yakinnya dengan gue saat itu si teman menjawab, "Ngg.. Menurut lo, lo mampu nggak?"
*BUNTU*

...
Gue tanya ke partner, "Jangan, kamu udah cukup sibuk. Kuliahmu nanti gimana? Badanmu? Pola makan dan kesehatanmu? Aku khawatir."
Merasa diremehkan, gue menantang. "Tapi aku mau!"

"Ya terserah kamu. Apapun keputusannya aku dukung. Tapi kamu harus inget, kamu penting buatku. Jangan sampe sakit."
*BUNTU*

...
Mama.
Bukannya menomor-sekiankan pandangan Mam. Cuma untuk urusan yang remeh-temeh jika dibandingkan dengan urusan kerjaan beliau, gue sering merasa malu kalau harus merepotkan.

"Ambil! Kenapa harus ragu? Siapa bilang kamu nggak mampu?" jawab Mam tanpa menyebutkan kata 'terserah' sama sekali sepanjang percakapan.

"Nggak ada yang bilang kalau aku nggak mampu. Tapi apa iya aku mampu?" gue berargumen pelan, ragu seperti biasa.

Mam menjawab dengan jauh lebih yakin, "Kamu sembilan bulan dalam perutku, nduk. Kalau nggak sekuat aku, harus kamu pertanyakan lagi siapa Ibumu yang sebenarnya. AMBIL! Kamu bisa, aku yakin itu."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting