Jumat, 29 Maret 2013

(bukan) tentang lelakiku

Urban Kitchen.
Central Park Mall, Jakarta.

Suaramu gelisah, aku mendengar suara klakson dengan interval berbeda beberapa kali.
"Aku pasti akan kesana, tunggu. Kamu tau kan macetnya grogol jam pulang kantor begini? Tunggu. Jangan menangis."

Panggilan terputus.

Aku menggigit bibir kuat-kuat. Di hadapanku iced chocolate dalam gelas tinggi berembun sudah diam anggun, harusnya menggerakkan tanganku untuk mengangkatnya.

Tidak, bukan sekarang. Bukan saat dimana Raihan baru saja mencampakkanku.

Lidahku merasakan sensasi lain meskipun belum ada makanan apapun yang masuk ke perutku sejak semalam. Darah dari luka gigitan di bibirku.

Ditto, dengan nafas terengah habis berlari dan simpul dasi yang sudah tak pada tempatnya. "Tar, kamu kenapa? Bibir kamu?" tangannya sigap mengeluarkan saputangan berwarna pastel. 

'Ah Ditto, taukah kamu noda darah sulit dihilangkan? Kenapa repot mengotori saputanganmu?'

...

"Sesimpel itu alasan dia ninggalin kamu Tar?" tanyamu sambil mengusap punggung tanganku. Aku mengangguk, pipiku menghangat oleh air mata yang kembali turun. "Maaf ya aku nggak bisa dateng semalem, pagi ini baru sampe Jakarta. Semalem udh cari flight langsung tapi JFK lagi sibuk-sibuknya."

Leherku menggeleng. "Maaf, kalau aku tau kamu lagi disana, aku nggak akan hubungi kamu. Bukan salahmu."

'Iya Ditto, memang bukan salahmu. Salahku yang selalu jatuh dengan orang yang tidak benar-benar tulus mencintai aku. Salahku yang selalu menangisi orang yang tak pantas. Salahku.'

"Aku tetap merasa bersalah Tar, aku udah janji bakal ada terus buat kamu bahkan setelah kita putus kan? Sudah semalaman aku duduk di lounge bandara hanya untuk memastikan ada kursi kosong yang bisa langsung kubeli, tapi percuma."

"Aku mau kamu. Cuma kamu." ucapku lirih, kini dengan airmata tertahan. Kali ini nalarku mulai keluar jalur, sebelum Ditto menjawab pun sudah lebih dulu kuketahui jawabannya.

Tubuh Ditto condong ke arahku, mengecup keningku lembut. "Aku nggak bisa. Kamu tau kan alasannya Tar. Aku sayang sama kamu, aku cuma nggak bisa."

Aku mendekat, "Biarkan aku mengecupmu, mungkin kamu lupa sensasinya. Mungkin kamu lupa manisnya. Mungkin kamu lupa rasanya jadi lelakiku."

"Aku punya lelakiku sendiri, Tara." Ditto mendaratkan kecupan kecil di bibirku, rasanya masih sama. Sayang harus berakhir sebelum aku sempat membalas kecupannya.
"Meskipun bukan lagi lelakimu, aku disini."

5 comments:

wincaaay mengatakan...

Lucu :) twist ceritanya dapet deh, tapi menurut gue pribadi kurang klimaks. Akan lebih baik kalo diperpanjang, supaya pembaca lebih kenal dengan tokoh Tara dan Ditto-nya :D

Btw, you're always good at making a twist, dear :D

wincaaay mengatakan...

Nice, twistnya dapet banget. Tapi sayang kurang klimaks karena pembangunan klimaksnya kurang panjang. Mungkin ketika informasi tentang Tara dan Ditto ditambah, akan menambah greget ceritanya.

Btw, you're always good at making twist, honey :D

Owl | Aulia Fairuz mengatakan...

Aaaaaaak terimakasih.. untuk cerpen serius akan dicatat.. sekali lagi, terimakasih.. :*****

lucky mouse mengatakan...

it was, great... when you're gonna write the full story? i'm so eager to read it :))

Owl | Aulia Fairuz mengatakan...

@lucky mouse: Thanks.. I haven't thought about it yet, since LGBT issues are rare and sensitive in Indo.. But thanks, thanks a lot.. God bless.. XOXO

 

Template by Best Web Hosting