Minggu, 31 Maret 2013

Kelima

Rea memandangi rintik hujan yang menghantam kaca depan mobil beramaian. Nafasnya berat, rasanya ingin segera pulang dan tidur.

Baru beberapa menit lalu...

...

"Re.." Bagas memanggil Rea sambil tetap mengemudikan mobil melalui jalan Riau yang penuh dengan mobil plat B. Instrumen klasik yang menjadi kesukaan Bagas mengalun sayup, mengiringi jalan mobil yang lambat.

Rea menoleh, "Ya, sayang?" senyumnya melengkung sempurna.

"Nikah sama aku, ya?" tanya Bagas yang langsung menangkap ekspresi terkejut di muka gadisnya. 

Suasana mobil diselimuti sunyi. Tak ada satupun dari mereka yang berani bicara.

...

Tiba-tiba suara Mama memenuhi ruang dalam kepala Rea. Mama dibesarkan dalam keluarga dengan kultur Jawa yang kental, sampai detik ini masih memegang banyak nilai yang memang diwariskan secara turun temurun dalam keluarga besar.

'Re, kamu belajar masak yang bener gitu lho nduk (nduk: panggilan anak perempuan dalam bahasa Jawa), nanti gimana suamimu?'

'Re, bersihin kamarnya. Nanti kamu nggak tinggal sama Mama lagi, harus bisa bersihin rumahmu sendiri.'

'Re, ojo grusa-grusu (jangan ceroboh.red). Sing kemayu (yang anggun.red).'

...

Suara Mama lantas berganti dengan memori-memori yang dikumpulkannya bersama Bagas 3 tahun ini. Suara Bagas yang renyah dan menyenangkan mulai berputar ulang dalam benak Rea.

'Ibu itu pinter banget masak. Tiap kali pulang yang paling aku kangenin ya masakannya Ibu.'

'Kadang aku sering inget Ibu yang marah-marah tiap kali kamarku berantakan. Padahal sambil ngomel ya Ibu juga yang beresin.'

'Re, nanti kalau kamu masak aku pasti jadi orang yang rela nggak makan seharian buat makan masakanmu.'

...

Mobil menepi ke salah satu resto cepat saji di jalan Braga. Sudah waktunya makan malam, Bagas bahkan tak bertanya hendak kemana mereka akan berhenti untuk makan. Rea yang sedang berpikir tak bisa diganggu, Bagas sangat tau itu.

Bagas membuka pembicaraan, lama-lama dia terganggu dengan raut Rea yang sekarang tak terbaca. "Tiga tahun bukan waktu yang sebentar Re, aku merasa udah cukup dan udah siap menghabiskan waktuku sama kamu. Lagipula, ini bukan pertama kalinya aku minta kamu nikah sama aku, kan?"

"Aku tau." balas Rea meremas tangannya sendiri di atas meja.

"Masterku udah beres, aku juga sudah merasa bisa menghidupi kamu dengan layak. Aku udah bisa jamin kehidupan kita, sayang." kini Bagas memberanikan diri mengelus punggung tangan Rea yang dingin. "Kamu nggak perlu khawatir."

Rea menjauhkan tangannya, menghindari Bagas. "Aku takut." suaranya bergetar. Bagas menghela nafas, dia benci harus jadi alasan Rea menangis.

"Ada aku, sayang. Semuanya udah aku siapin mulai dari tahun pertama aku sama kamu. Semuanya. Kamu nggak perlu mikir apa-apa lagi. Aku cuma butuh jawaban 'iya' dari kamu, Rea.."

'Ah Rea, apa lagi yang kamu takutkan? Tak pernah aku merasa seyakin ini sebelumnya Re. Aku ingin kamu bukan hanya jadi gadisku, aku mau kamu jadi wanitaku, ibu dari anak-anakku..'

"Aku takut nggak bisa jadi perempuan yang masakannya bikin kamu kangen untuk dicicipi sepulang kerja, aku takut nggak bisa ngurus rumahmu sama seperti Ibu ngurus kamarmu, aku takut nggak bisa jadi perempuan yang cukup baik untuk kamu.. Aku takut.." Rea tiba-tiba angkat bicara, tangisnya pecah dan cukup keras untuk membuat tamu-tamu lain menoleh.

Bagas tersenyum, "Re.. aku tau gimana Mama mendidik kamu. Aku tau bagaimana beliau menurunkan nilai-nilai yang dipegangnya ke kamu. Dan setelah banyak pembicaraan yang kulakukan sama Mama, aku makin yakin bahwa nantinya anak-anakku akan punya ibu yang hebat Re. Kamu."

"Tapi aku..." Rea terhenyak, bahkan Mama menyelamatkannya di saat-saat seperti ini. Setelah hampir pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi antar dia dan Mama. Bahkan Mama yang menjadi salah satu alasan Bagas untuk memilihnya. 

"Seorang Ibu yang hebat akan melahirkan anak-anak yang hebat Re. Aku percaya itu. Karena itu aku menginginkanmu. Azurea, untuk kelima kali dan aku harap yang terakhir aku minta.. Nikah sama aku ya Re?" Bagas melirik Rea yang matanya berkaca-kaca, entah harus bagaimana lagi kalau Rea tetap tidak menerima lamarannya kali ini.

Sementara Rea terisak, tangisnya tumpah. Seperti ada ledakan bahagia yang tak bisa dilukiskannya. Tawa dan tangis yang tak berhenti membuat Bagas ingin mendekap gadisnya lekat-lekat tanpa sedikitpun celah.

Satu anggukan singkat dan sebuah pelukan hangat menjadi jawaban dari pertanyaan Bagas.
Bagas membayar lunas semua keraguannya, berkat Mama.

2 comments:

wincaaay mengatakan...

Suka banget sama yang ini :))
*Mentang-mentang topiknya nikah, win*

Owl | Aulia Fairuz mengatakan...

:)
Semoga lekas menikah, #eh

 

Template by Best Web Hosting