Sabtu, 30 Maret 2013

Gender equality

Gender equality in relationship?
Kesamaan gender dalam hubungan?

Sebelum scrolling ke bawah pasti udah ada yang mikir,
"Wah feminis deh ini pasti.."

*ketawa dulu*
Yang sudah antipati dan anggep ini tulisan feminis, monggo klik tanda X di kanan atas.
Yang mau lihat dulu, yuk mari baca..
:)

Gue bukan feminis.
Buka tutup botol air mineral aja sering minta tolong, gimana mau jadi feminis coba.
Biarkan gue bicara dari sudut pandang gue, ya?

Dalam relationship yang pernah gue jalani,
Alhamdulillah gue merasakan kesetaraan..
Kesetaraan dan BUKAN kesamaan.

Maksudnya kesetaraan ya, 'Pas aku nggak kuat bawa sesuatu. Karena kamu lebih kuat, kamu bantuin ya..' dan 'Pas kamu males melakukan sesuatu yang memang butuh sense perempuan, biarin aku aja ya yang kerjain?'

Tapi soal diskusi/berargumen/debat jangan ditanya.

Gue maupun partner sama-sama semangat agresi militer ke-II (?)  buat mempertahankan pemikiran masing-masing (dengan fakta tapinya).
Jadi argumen seperti, "Pokoknya aku maunya gini." dianggap nggak valid dan nggak bisa dimasukkan dalam per-diskusi-an.

Simpel.

Makanya tiap kali gue susah buka tutup botol air mineral atau susah pasang klip helm,
"Sayang, tolongin aku dong.."
:">

Dan mungkin ('mungkin' soalnya emang belum pernah terjadi),
suatu hari nanti pas dia ribet beresin buku-bukunya yang numpuk setinggi gunung geulis di kamar. Gue nggak akan menolak kalo dia bilang, "Sayang ini gimana ya caranya biar lebih rapi dikit?"

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting