Sabtu, 30 Maret 2013

Drama Tisya


Aku menyerahkan selembar uang ke petugas kasir, seperti ada suatu yang kalah dalam diriku.

‘Ah, akhirnya keinginanmu terpenuhi kan Sya? Sekarang aku mengaku kalah.’
Langkah yang kuambil terasa makin berat saat hendak memasuki ruangan teater. Aku melakukannya karena aku rindu kamu Sya.

Tisya, aku mau kamu sekarang. Disini.

...

Starbucks Coffee, Senayan City.

“Sayaaaaaaang..”

Tisya datang sambil memelukku dari belakang, hal yang biasa dilakukannya saat pertama kali melihatku. Wangi tubuh dan rambutnya menggelitik saraf sensori yang langsung membuat penatku hilang seketika.

“Kamu kok lama banget?” tanyaku sambil tetap memandang layar laptop, ada hal penting yang harus kuselesaikan siang ini juga. Mr.Andrew meminta laporan hasil penjualan dikirimkan pukul tiga tepat, tak boleh lebih barang sedetikpun.

Tisya menyeruput kopi yang ada di atas meja, wajahnya berubah lucu. “Ih pahit, kamu lagi kenapa sih yang? Banyak kerjaan ya?”

Aku tertawa kecil. Tisya tau derajat pahit kopiku berbanding lurus dengan banyaknya pekerjaan yang harus aku selesaikan atau kadang permasalahan yang berkutat dalam tempurung kepalaku. “Macet ya?” tanyaku lebih lanjut.

Tisya mengangguk, “Iya, banget! Kuliahmu gimana?”

“Thesisku sebentar lagi kelar, kamu bisa dateng pas aku wisuda?”

Sekarang wajah gadis kecintaanku berubah, matanya melirik ke atas—seperti yang dilakukannya tiap kali berpikir. “Aku mau sih, tapi bulan-bulan itu aku lagi sibuk juga. Mungkin aku nggak dateng ke prosesi wisudanya disana. Tapi kalo kamu ijinin aku mau bikin perayaan atas kelulusanmu di Indonesia, undang semua temenmu, temen bule kamu juga boleh. Gimana?”

Sekarang aku menggeleng, membuat raut Tisya berubah kecewa. “Daripada dirayain sama orang banyak, aku lebih suka sama kamu. Kutraktir marathon  nonton bioskop seharian, mau?” jawabku sembari mencubit dagunya.

“Meskipun filmnya drama, yang?” mata Tisya berbinar, aku menutup layar laptop. Pekerjaan apapun bisa menunggu untuk gadisku. “Kamu yakin mau nonton film drama?”

“Ngg.. kalau film dramanya di skip aja boleh? Kita nonton semua film, kecuali drama.”

Tisya tersenyum, sama sekali tak menunjukkan raut kesal. Seingatku Tisya memang tak pernah marah, tak pernah sekalipun. “Suatu hari aku pasti bisa bikin kamu nonton drama. Sendirian.”

Tanganku tergerak mengacak rambutnya, “Enak aja, mau taruhan?”

“Liat aja nanti.” ucap Tisya sambil menjulurkan lidah, aku mendekat dan mendaratkan sebuah kecupan mungil di hidungnya.

...

Baru beberapa detik lalu cahaya ruangan teater kembali benderang. Persetan dengan alur  film yang dua jam lalu aku tonton, tiap adegannya membuat hatiku digerogoti rindu.

Aurantiasya, seperti apa surga itu? Apakah diterangi bulan sabit yang jadi kesukaanmu? Atau dipenuhi kerlip kunang-kunang? Setelah supir truk mabuk yang brengsek itu merenggutmu, drama jadi satu-satunya penghubung yang aku punya. 

‘Sya, aku rindu.’

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting