Kamis, 28 Februari 2013

Untuk Anggrek


Bel di atas pintu masuk berbunyi, tanda bahwa ada seorang pelanggan yang memasuki toko. Bara yang sedang menghitung catatan pengeluaran toko di dalam komputernya segera menghampiri dengan senyum ramah.

“Ada yang bisa dibantu mbak?” Bara menyapa seorang pelanggan di toko bunga milik neneknya. Beberapa detik Bara dibuat terdiam oleh pelanggan yang belum pernah dilihatnya masuk ke toko ini, kepangan rambut yang diikat oleh pita ungu—sangat jarang perempuan jaman sekarang yang mau mengepang rambutnya menjadi satu. Si pelanggan memakai terusan dengan panjang selutut dan cardigan rajut yang menutupi lengan, menjadikannya manis luar biasa di mata Bara.

Anggrek—si pelanggan yang langsung merasa kikuk dengan cara Bara memandang dirinya menjawab sambil menoleh ke arah lain, “Ngg.. Saya mau beli bunga.”

“Maaf. Mbak cari bunga apa ya?” lanjut Bara dengan gaya profesional yang ditampilkan untuk menutupi kekaguman yang membuatnya beku beberapa saat lalu. Bisa-bisa si pelanggan ketakutan dan enggan mampir lagi di tokonya karena dipandangi seperti tadi.

“Mawar. Mawar—putih,” ada jeda yang terdengar sebelum Anggrek memutuskan warna bunga yang hendak dibelinya.

Langkah Bara bergerak ke sudut ruangan, neneknya selalu meletakkan segala jenis mawar di sudut dan bukannya di tengah ruangan. Sekilas Bara jadi mengingat jawaban nenek saat dia menanyakan perihal letak mawar-mawar yang tak boleh dipindahkan barang sejengkal.

‘Mawar itu istimewa, kalau kamu meletakkannya di tengah ruangan akan banyak tangan yang menyentuhnya. Seharusnya yang istimewa tak mudah tersentuh tangan karena akan mengurangi nilainya.’

“Berapa tangkai?” tanya Bara dengan volume agak keras karena si pelanggan masih saja berdiri di tempatnya tadi, mengagumi dandelion yang beraneka warna, berdiri seperti bercengkrama dengan bahasa yang tak terdengar oleh telinga.

Anggrek menoleh, dilihatnya penjual bunga dengan topi baret motif kotak-kotak mulai memilah tangkai-tangkai mawar di sudut ruangan. “Tujuh,” katanya sambil melangkah ke kassa.

Jawaban Anggrek seperti mengingatkan Bara akan sesuatu, diliriknya jam tangan. Setelah melihat penunjuk tanggal, Bara kembali meneruskan kegiatannya memilih tujuh tangkai mawar putih pesanan si pelanggan yang sekarang sudah berdiri di depan mesin kasir.

“Apa perlu disertakan kartu ucapan mbak?” tanya Bara saat memberikan pita sebagai hiasan rangkaian bunganya. Bunga tanpa kartu ucapan akan seperti puisi yang dibaca dalam hati, perasaan yang tak kunjung disampaikan—ada namun tak bermakna.

Anggrek diam sebentar, ragu-ragu menjawab. “Iya. Untuk Anggrek. Itu aja.”

‘Tak ada salahnya mengirimi hadiah untuk dirimu sendiri, Anggrek.’ Ucap suara hati kecil Anggrek.

Sebelum Bara menulis kartu ucapan untuk bunga yang dipesan Anggrek, dia berhenti. “Biasanya setiap tanggal 7 ada pesanan bunga juga disini untuk Anggrek, mbak. Tapi yang pesan laki-laki dan bunga yang dipesan bukan tujuh tangkai mawar putih—tapi mawar merah.”

Anggrek diam. Dia tau, setiap tanggal tujuh akan ada kiriman bunga ke rumahnya. Tujuh tangkai mawar merah dengan kartu ucapan berisi puisi-puisi romantis dari Fardan. Tapi tanggal tujuh yang ini berbeda, tak akan ada lagi tujuh tangkai mawar merah yang akan mampir ke teras rumahnya. Tidak ada lagi cinta bersisa untuk Fardan setelah apa yang diperbuatnya.

Dengan airmata tertahan, Anggrek melirik ke arah penjual bunga yang sekarang salah tingkah.

Tatapan Anggrek membuat Bara merasa bodoh. Gadis di depannya ini pasti Anggrek, tatapan matanya menyiratkan luka yang tak perlu lagi diucapkan. “Maaf,” ucapnya singkat, berjanji tak akan berkata-kata lebih jauh lagi.

Hanya sekali.

Setelahnya Bara tak pernah lagi melihat Anggrek berkunjung atau melewati tokonya.

...

Anggrek yang sedang menulis jurnal hariannya dikejutkan oleh suara ketukan berulang di pintu depan.

“Sebentar,” jawabnya sedikit kesal karena ketukan-ketukan yang terdengar mulai mengganggu.

Tak ada siapapun. Pagarnya bahkan tak terbuka. Saat hendak melangkah keluar teras, kakinya menyentuh sesuatu.

Sebuah vas mungil yang bentuknya membulat, seperempatnya terisi air. Di atasnya beberapa tangkai anggrek ungu tersemat disatukan oleh pita dengan warna sama—yang mengikat sebuah kartu ucapan.

...

Aku menyampaikan salam yang dikirimkan dandelion-dandelion yang mendadak sunyi setelah kamu pergi.
Anggrek, ini anggrek untukmu.
Ada bunga-bunga yang merindu karena kamu tak pernah lagi datang. Ada sendu yang melingkupi semua bunga-bunga cantik disini. Mereka tak pernah bisa berkaca, mereka tak pernah melihat seperti apa rupa cantik—sebelum kamu datang dan menunjukkannya pada mereka.
Kamu perlu tau, bukan cuma mereka yang teracuni rindu, bukan cuma mereka yang berubah sendu.
Pun aku.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting