Sabtu, 16 Februari 2013

"Trus kenapa putus?"

Sore hari.
Jalan Braga, Bandung.

Sebuah resto yang menyajikan pemandangan jalan sore hari, beberapa manusia yang berteduh karena rintik hujan, ditemani dengan lagu-lagu tempo lambat yang mengalun tak henti-henti.

"Trus kenapa putus?" tanyamu saat tengah membicarakan soal masa laluku.

Aku menyendokkan kentang panggang yang dilumuri saus keju, melumatnya seolah ingin mengulur-ulur waktu."Dia terlalu baik."

"Serius itu alasannya?" ujarmu tanpa sedikitpun kepercayaan.
Aku mengangguk. Yakin.
Iya, aku berutang satu penjelasan padamu.


I have trust issue.
Sekian banyak punya teman, entah yang 'asli teman' atau 'semi teman' cuma segelintir saja yang beneran gue percaya. Sekian lama kenal orang, masih aja gampang curiga.

Nggak terkecuali sama 'yang tadinya' partner.
Gue pernah berkesempatan punya partner yang kelewat baik.
I mean with 'kelewat baik' is too good to be true.

Menceritakan perilaku-perilakunya cuma akan membuat orang makin nanya ke gue,
"Loh, kalo sebaik itu masa iya lo putusin?"

Gue nggak percaya sama adanya manusia yang baik melulu.
Kebaikannya yang nggak pernah absen malah bikin gue mikir,
"Dia beneran baik? Ini bener-bener kepribadian dia atau dia cuma mau nyenengin gue aja sih?" atau "Kalo ini bukan dia yang sebenernya, gue siap nggak ya kalo suatu hari nanti dia berubah?" atau "Gue sebenernya suka sama dia atau perilaku dia ini sih?"

Dan mungkin gue sama seperti Whitney di part, "I just deny it. Part of myself can't believe that a nice guy really fall into me."
Bedanya, Whitney berakhir dengan pria 'baik' yang sama.

Sedangkan gue, gue lebih memilih mundur dan membiarkan semesta memberikan perempuan yang jauh lebih baik buat dia. Gue memilih untuk 'jatuh' ke 'kebaikan' lain yang nggak membuat gue merasa insecure.

And so far, I'm happy for what I chose.
I'm happy for us, dear partner.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting