Kamis, 28 Februari 2013

Third kind of 'vert'

Kantin Fakultas Psikologi.
Owl dan Lidya duduk bersampingan.
Owl makan somay, Lidya makan nasi campur.
Owl berceloteh nggak bisa berhenti, Lidya duduk manis sambil angguk-angguk.

Irfan yang awalnya nyeletuk, "Kok bahasa lo berat banget sih?" akhirnya nanya,
"Lo tau nggak istilah ambivert? Jadi kan katanya ada ekstrovert sama introvert, trus ada ambivert."
Menurut artikel yang ditulis oleh Dr. Karl Albrecht, Ph.D. (penulis dari "Practical Intelligence: the Art and Science of Common Sense") beliau mengusulkan adanya 'vert' yang ketiga selain introvert dan extravert.

'Vert' jenis ketiga ini adalah "adapted introvert" alias introvert yang yang 'menyamar' jadi extravert pada waktu-waktu tertentu (saat dibutuhkan) dan bisa kembali jadi introvert.

Serius bisa?

Menurut beliau bisa.

Mengutip langsung pernyataannya, "I know, because I am one, and many of my colleagues in my occupation show the same pattern." (saya tau, karena saya adalah salah satunya, dan banyak kolega dalam pekerjaan saya menunjukkan pola yang sama)
Karl Albrecht
Dalam tiga puluh tahun karirnya sebagai konsultan manajemen, presenter seminar, dan pembicara seminar, orang-orang sering menganggap Albrecht sebagai seorang extravert.

Orang-orang bertanya, "Bagaimana kau bisa berdiri di depan 5.000 orang dan memberikan pidato berapi-api tentang kepemimpinan, sedangkan kamu bukan seorang extravert?" 

Menurut Albrecht, itu tidak mudah.

Hampir semua dari pembicara terkenal yang memberikan motivasi-motivasi adalah extravert.

Namun, banyak juga pakar (introvert) yang bicara tentang masa depan, strategi bisnis, kepemimpinan, ekonomi, teknologi, dan performa organisasi didorong oleh kebutuhan mereka tentang prestasi dan pencapaian dalam melakukan kegiatan yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan orang banyak seperti yang dilakukan oleh orang extravert.

Singkatnya, mereka berinteraksi bukan atas dasar kebutuhan terhubung dengan banyak orang seperti yang mendorong extravert tapi karena kebutuhan dalam diri mereka terhadap prestasi dan pencapaian.

Dorongan kebutuhan terhadap prestasi ini yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan interaksi intensif dengan orang lain, setelah 'misi' nya selesai mereka akan melangkah mundur dan kembali ke dunia privasi mereka yang nyaman.

Source:
http://www.psychologytoday.com/blog/brainsnacks/201202/third-kind-vert
https://www.karlalbrecht.com/visitwithkarl.php

1 comments:

Faris Abdurrohman mengatakan...

maybe i'm the one

 

Template by Best Web Hosting