Kamis, 14 Februari 2013

The power of 'KLIK'


Pernah nggak nanya ke seseorang yang baru punya pacar kenapa dia milih pacarnya untuk jadi partner dan jawabannya, "Soalnya kalo ngobrol kita nyambung." atau "Soalnya *klik* aja kalo ngobrol sama dia."

Gue pernah membahas topik yang sama dengan Mam.
Well, sebenarnya topiknya adalah kenapa kita cenderung memilih pasangan dengan background yang nggak terlalu jauh dari bidang yang kita geluti.
Power of context, huh?

Dan sayangnya, dunia gue dan partner gue nggak punya banyak kesamaan. Gue yang mempelajari behavioral science dan dia yang mempelajari engineering seringkali membuat obrolan kami di awal hubungan jadi macet dan nggak mengalir.

Saat gue menggunakan kata 'approach' dalam istilah 'the analogy approach' yang merupakan salah satu teknik dalam pemecahan masalah, dia mengenal kata 'approach' sebagai salah satu sikap pesawat yang mau landing.
-___________________-"

Hal ini juga berlaku pada gue saat dia menjelaskan tentang banyak istilah mengenai dunia per'pesawat'an atau bagian-bagian kokpit atau mesin roket.

Alhamdulillah gue nggak sendirian.
Mam dan Pap dulunya punya keluhan yang sama. Mam yang bergelut dengan peraturan perundangan dan Pap yang sehari-hari mengurusi digit-digit rupiah sebagai target penjualan.
But so far, they make it well.

Kuncinya? Mau belajar.

Kemauan belajar yang diawali dengan kesadaran bahwa dunia partner kita cepat atau lambat akan menjadi dunia kita. Ditambah keinginan untuk memahami dan bukannya menjadi pasif serta masa bodoh dalam pembicaraan.

Dan saat gue mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti, "Istilah itu merujuk pada apa?" atau "Fenomena ini dijelasin nggak di ilmu kamu? Mau jelasin ke aku nggak?" yang dilontarkan partner gue pada pembicaraan yang sering dilakukan sampai dini hari,

I hope we can make it.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting