Rabu, 20 Februari 2013

Sayang, aku pergi ya?

D(cewek): "Gue kan pergi sama si-H(cowok) bukan karena gue iseng tapi emang si H minta tolong dan dia emang sering nolongin gue. Pacar gue bilang gue emang pingin pergi sama si H. Nggak pernah sekalipun gue mikir kayak gitu. Besides, gue juga bukan tipe cewek kayak gitu (yang suka hang out sama cowok lain padahal udah punya pacar)!"

D (temen gue) baru aja berantem hebat sama pacarnya. Alasan sebenarnya sederhana, pacarnya nggak suka kalo D jalan bareng cowok lain. Tapi D nggak bisa nolak permintaan H buat jalan bareng karena H teman baiknya dan memang sering nolongin dia.


D: "Gue nggak ngerti sama pola pikir dia. Emang sih gue pacarnya, tapi kan cepat atau lambat pasti akan ada situasi yang memaksa gue buat pergi sama orang lain, terlepas dari orang itu cewek/cowok. Gue sih nggak pernah pilih-pilih temen."

Betul! Gue (sekalian curhat) juga sering mengalami kejadian yang sama. Tanpa disangka, gue harus pergi/pulang bareng/stay di kampus sama salah seorang teman karena tugas/tugas/tugas (hahaha!). Hal-hal yang seperti ini nggak bisa dikendalikan, sebagai perempuan (normal) merupakan perilaku yang nggak sopan kalo kita bilang, "Eh, gue boleh nggak absen ngerjain tugas kalo cuma bareng lo? Kalo kita cuma berdua entar pacar gue marah nih." (yakali!)
Trus, supaya kalo ada masalah kayak gini nggak melulu berantem gimana dong?

1. Ceritakan situasinya tanpa menambahkan opini pribadi.
Yang sering nonton Law&Order pasti ngerti banget nih. Salah satu cara mendapatkan sudut pandang yang objektif adalah menceritakan suatu kejadian dari sudut pandang saksi. Misalnya, "Kemarin si X cerita kalo komputernya rusak trus dia tadi minta tolong aku buat anterin dia ke tempat service. Sebelumnya dia udah minta tolong yang lain tapi yang lain lagi pada sibuk."
Udah cukup gitu aja, jangan ditambahi dengan: "Aku kasian deh soalnya kan bla bla bla.." atau "Dia kan baik sama aku, masa aku bla bla bla.."

2. "I'm not asking permission. But because we're partner now, you should know..."
Curhat yang gue terima dari cowok/cewek yang lagi berantem sama pacarnya biasanya diakhiri dengan, "Gue ngerasa nggak dianggep."
Memiliki sebuah hubungan berarti lo harus siap mendiskusikan segala hal yang memiliki potensi konflik dengan partner lo. Ini bukan soal minta ijin/ngasi ijin tapi tentang menghargai keberadaan partner lo dan nanya tentang pendapatnya.
Minta pendapatnya tentang keputusan lo adalah cara lain untuk bicara secara implisit, 'Aku menghargai keberadaanmu, karena itu aku mau tau bagaimana pendapatmu tentang hal ini.'

3. Role play
Bermain peran disini maksudnya adalah meminta dia untuk ada di posisi lo. Misalnya, "Kalo temen kamu (jika perlu sebutkan nama temennya yang tingkat kedekatannya sama) minta tolong, kamu gimana?"
Biasanya kesalahan yang terjadi adalah pertanyaan yang sifatnya menuduh dan memaksakan seperti, "Kalo temen kamu minta tolong juga pasti kamu tolongin kan? Iya kan? Trus kalo temen aku nggak boleh, gitu?!!"

4. "Thanks for your understanding, dear."
Bagi orang-orang tertentu, mengijinkan pasangannya untuk pergi bersama orang lain biasanya menimbulkan perasaan insecure/cemburu dan butuh kepercayaan yang kadarnya nggak kecil. Bagaimapun tipe partner lo, memberikan apresiasi terhadap pengertiannya nggak akan pernah jadi sesuatu yang salah kok. A bit of, "Makasih udah ngerti ya sayang, I love you more.." will be sweet :)
Segitu aja dulu tipsnya, semoga berguna dalam menjalin hubungan yang sehat.
Ps: any comment will be appreciated :)

5 comments:

Rizky Nugraha mengatakan...

bagus artikelnya :)
keep posting ^^

Anonim mengatakan...

bagus artikelnya :)
keep posting ^^

Owl | Aulia Fairuz mengatakan...

Terimakasih banyak yaaaa... :) Keep reading, hehehe..

ghozian Karami mengatakan...

baguuss sukaaa

Owl | Aulia Fairuz mengatakan...

terimakasih kaaaaak.. :)

 

Template by Best Web Hosting