Senin, 25 Februari 2013

Pilihanku, Kamu


Alta menggigit es batu yang tersisa di gelasnya, suara gemeletuk yang terdengar biasanya diikuti oleh sebuah kalimat yang diucapkan Reyhan. ‘Ta, kamu tau nggak sih kebiasaan kayak gitu bisa ngerusak gigi kamu?’.

Aku tau Rey, seperti aku tau bahwa pola makan dan tidurku yang tak teratur akan membahayakan tubuhku. Seperti aku tau kafein yang tiap malam aku minum bisa membuat aku kecanduan. Seperti aku tau nikotin yang baru beberapa bulan ini bersahabat dengan paru-paruku bisa membunuhku, tapi aku bisa apa?

Air mata Alta mulai turun satu-satu, dihisapnya lagi rokok dalam-dalam. Tepat empat bulan yang lalu, Reyhan pergi meninggalkannya. Reyhan meninggal dunia setelah memaksakan diri turun gunung pada saat cuaca buruk demi menghadiri ulang tahunnya tepat waktu. Membuat Alta menanggung sesal seumur hidup.

Ingatan Alta kembali ke saat terakhir dia dan Reyhan bersamaan dengan es yang mulai mencair dalam ruang mulutnya.

“Tapi hari Sabtu kan ulang tahun aku Rey, kamu lebih milih naik gunung sama temen-temen kamu dibandingin dateng ke pesta ulang tahun aku? Iya?!” ujar Alta dengan wajah kesal. Pacarnya ini memang ketua unit pecinta alam di kampus, sering naik gunung, tapi masa iya gunung jauh lebih penting dibandingkan dengan datang ke ulang tahunnya?

Gunung. Seharusnya kamu memilih untuk tetap berada di atas gunung dan tidak datang untukku.

Reyhan mengacak rambut gadis kecintaannya pelan, senyumnya mengembang. “Aku kan berangkat hari Kamis sayang, Jum’at siang aku turun, paling lambat Sabtu pagi aku udah ada di rumah. Aku pasti dateng.”

“Janji?” Alta menyodorkan jari kelingking tangan kanannya. Reyhan mengangguk, dengan cepat mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Alta, lalu memeluknya.

Seandainya aku tau itu pelukan terakhir yang bisa kamu berikan untukku, aku tak akan pernah melepaskannya Rey.

“Masih mencoba buat bunuh diri?” Kania lantas menarik kursi yang ada di depannya, duduk dengan senyum angkuh yang merendahkan setelah melihat batang-batang rokok di atas asbak. Sebenarnya Alta sangat ingin mengusir perempuan itu dari hadapannya, tapi ini kafe—siapapun yang mampu membayar berhak untuk duduk.

Kalau saja memungkinkan, Alta ingin memecahkan gelasnya dan melemparkan potongan-potongan kacanya ke wajah Kania sekarang juga. “Masih menyalahkan aku atas kematian Reyhan?” Alta balik bertanya. Kania adalah pacar pertama Reyhan, Reyhan meninggalkannya setahun sebelum mengenal Alta karena Kania berselingkuh.

“Sejak awal aku yakin Reyhan lebih bahagia bersamaku,” Kania tersenyum lagi, senyum merendahkan seperti biasa.

Alta tertawa mengejek, “Jangan sok suci, kamu selingkuh dari Reyhan. Reyhan jelas lebih memilih aku. Admit it, people make mistakes.”

Senyum Kania memudar, “Tapi kesalahanku tidak membunuh Reyhan.”

Kania benar, kesalahanku yang membunuhnya.

Alta mengeluarkan kotak rokok dari tasnya, mengambil batang terakhir yang tersisa. Tangan Kania dengan cepat merebut batang rokok yang terjepit di antara jari Alta, mengejutkannya. “Kamu mau apa? Menuntutku? Atau malah membunuhku karena aku penyebab kematian Reyhan?” nada suara Alta mulai meninggi.

“Percayalah, kalau memungkinkan aku pasti sudah melakukannya,” jawab Kania tetap tenang seperti biasa.

Kania kemudian mengeluarkan ponsel, lalu beberapa detik kemudian menyodorkannya pada Alta. “Ini email dari Reyhan untukku, dua bulan setelah pertemuan kalian. Aku menawarkannya sebuah hubungan denganku, tanpa sepengetahuanmu.”

...

Kania, aku merasa tidak perlu berbasa-basi. Aku memaafkanmu, untuk semua sakit dan perselingkuhan yang tak pernah aku ketahui jumlahnya. Untuk tawaranmu, aku menolaknya.

Apapun yang terjadi antara kita terjadi di masa lalu. 

Sekarang aku sudah menemukan seseorang yang akan jadi bagian dari masa depanku.
Dua bulan ini aku bertemu dengan seseorang. Dia sangat berbeda denganmu, kamu memang jauh lebih dewasa dari Alta. Tapi aku sangat nyaman berada di dekatnya, aku bahagia tiap kali ia tersenyum dan tertawa.

Dia memang tidak bisa memasak seperti kamu, tapi aku menikmati makan di restoran sambil mendengarkan cerita dan ocehannya yang tak pernah berhenti.

Menerima tawaranmu sama dengan menyakiti Alta dan membuatnya menangis sama sekali bukan pilihanku.

Aku mencintai Alta.
Dan sama seperti namanya, aku akan meletakkan dia di tempat paling tinggi yang aku punya dalam hatiku.

...

“Kamu mengajak Reyhan berselingkuh dari aku?” tanya Alta dengan nada tak percaya.

Kania mengangkat bahu, menganggap jawaban dari pertanyaan Alta adalah hal yang sepele. “It doesn’t matter, dia menolakku mentah-mentah. Sekarang, aku hanya tak mau Reyhan kecewa dengan pilihannya—” 
Kania menyingkirkan asbak yang ada di depannya ke meja kosong di sebelah mereka. “—dan sudah jadi tugasmu untuk membuktikannya. Buktikan bahwa kamu pantas menempati tempat paling tinggi yang Reyhan punya di hatinya.”

“Aku minta maaf,” Alta menunduk, diselimuti oleh rasa bersalah yang sekarang kian bertambah.

Tangan Kania menggenggam tangan Alta yang terkulai di atas meja, memberinya kekuatan. “People make mistakes—and they deserve a chance to fix it.”

“Sebenarnya aku memikirkan hal yang sama, bahwa Reyhan mungkin saja lebih bahagia kalau masih bersamamu,” Alta menatap Kania dengan pandangan takut-takut meskipun Alta sudah siap menerima pandangan merendahkan yang biasa diberikan Kania padanya.

Kania tersenyum simpul, “I know,” katanya dengan nada bercanda yang kemudian dilanjutkan dengan serius, “Tapi dia memilihmu.”

Perasaan Alta seketika saja dipenuhi oleh rasa hangat, sama hangatnya dengan pelukan yang selalu diberikan Reyhan untuknya.

Dan aku juga memilihmu Rey.

Aku memilihmu untuk menjadi alasanku keluar dari keterpurukan ini.
Reyhan Pristian Nugraha, aku mencintaimu dan aku akan membuktikan bahwa aku pantas dicintai olehmu.

*Alta : tinggi (Spanish)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting