Selasa, 19 Februari 2013

Percuma

Seorang teman di tengah perjalanan pulang menuju gerbang kampus sempet nanya ke gue,
"Ul, kamu tau nggak ada lomba ****** (menyebutkan salah satu kompetisi menulis)? Kamu nggak ikut?"

Gue senyum aja.
Salah satu hobi gue selain memenuhi timeline twitter memang mencari list lomba-lomba, sayangnya hobi mencari nggak sejalan dengan keinginan untuk berpartisipasi.

Alasannya?
Gue nggak yakin sama kemampuan gue.

Tiap kali otak mulai mengirimkan sinyal pada jari-jari untuk mengetik,
selalu aja ada alter ego yang memanipulasi pikiran.

Lomba A kan lingkupnya nasional, siapa sih lo berani ikutan?
Lomba B itu esai, kerjaan lo kan curhat di blog. Pointless!
Lomba C kan bukan lomba cerpen kacangan, beda sama kualitas sama cerita yang lo bikin.
Begitu terus menerus sampe nggak ada satupun lomba yang berani gue ikutin.

Akhirnya?
Ide yang gue punya menguap, yang berhasil diselamatkan cuma busuk jadi draft di netbook.

Kadang sering malu sama partner yang bilang, "Percuma kamu rencanain, kamu bikin plotnya, kamu rancang alurnya, kalo akhirnya juga nggak kamu tulis. Percuma."

Iyasih, percuma.
Pemikiran brilian sekalipun jadi percuma kalau dititiskan ke dalam kepala seorang pengecut.

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting