Senin, 18 Februari 2013

Partner, bukan follower

"Kalau kamu mencari seseorang untuk mengikutimu, menuruti apapun yang kamu perintahkan, melakukan apapun yang kamu inginkan, kamu salah orang. Kamu boleh ketuk pintu hati orang lain, yang jelas bukan pintu hati saya.."

Gue sama sekali bukan feminis.
Tapi dalam hubungan, psinsip yang gue anut ini serius.
Gue mencari partner, bukan ketua.
Gue siap menjadi partner, bukan follower.

Gue nggak mau jadi perempuan yang 'iya iya aja' saat dia memutuskan sesuatu (apalagi yang mempengaruhi hidup gue), gue mau tau kenapa, apa alasannya, lalu gue akan memberikan pandangan gue, dilanjutkan dengan diskusi dan pengambilan keputusan.

Bukan, gue juga bukan cari lelaki yang 'iya aja deh asal kamu nggak bawel'.
Seriously, lelaki yang prinsip hidupnya begitu imo adalah lelaki yang takut kalah saing sama pemikiran perempuannya.

Lagi, gue mencari partner.
Gue mencari lelaki yang mau duduk semeja, mendengarkan, lalu menerima bahwa dia dan gue punya hak yang sama dalam berbicara.
A guy with verrrryyyyy big heart and great thoughts.

Sekali lagi, gue bukan feminis.
Gue masih tersanjung dengan caranya membukakan pintu buat gue,
sama seperti gue dengan senang hati menurunkan nada bicara menjadi lebih rendah dari nada bicaranya dalam situasi apapun.

We both deserve respect.

Btw, gue jadi teringat quote ini deh:
"Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring." -Dewi 'dee' Lestari (dalam Filosofi Kopi)

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting